Harga Mobil Listrik Kini Lebih Murah dari Hybrid

Selasa, 11 Agustus 2026 | 18:36 WIB
Harga mobil listrik kini jauh lebih murah dibanding mobil hybrid. China jadi faktor utama. Foto: Geely Auto Indonesia resmi meningkatkan kapasitas produksi mobil listrik Geely EX2 di fasilitas PT Handal Indonesia Motor Purwakarta. (Foto: Geely)
  • Harga rata-rata mobil listrik global turun menjadi 37.000 dolar AS, lebih murah daripada mobil hybrid.
  • Penurunan harga terjadi karena komponen baterai semakin murah akibat kelebihan kapasitas produksi di China dan penggunaan baterai LFP.
  • Ekspansi ekspor mobil listrik China yang meningkat tajam turut mendorong harga kendaraan tersebut menjadi lebih terjangkau secara global.

Suara.com - Harga rata-rata mobil listrik atau electric vehicle (EV) secara global kini lebih murah dari mobil hybrid. Kondisi ini terjadi karena penurunan harga baterai dan semakin luasnya ekspansi produsen mobil listrik China ke berbagai pasar.

Mengutip Nikkei Asia, penyedia analisis otomotif Mobility Global mencatat rata-rata harga mobil listrik secara global berada di kisaran 37.000 dolar AS atau sekitar Rp600 jutaan. Angka itu turun 9 persen dibandingkan 2020.

Sementara, harga rata-rata mobil hybrid justru meningkat 16 persen dalam periode yang sama menjadi sekitar 39.000 dolar AS atau sekitar Rp630 jutaan.

Penurunan harga mobil listrik tidak terlepas dari semakin murahnya baterai lithium-ion yang menjadi salah satu komponen paling mahal pada kendaraan listrik. Pasalnya, baterai menyumbang sekitar 30-40 persen dari total biaya produksi sebuah mobil listrik.

China yang menguasai sekitar 80 persen pasar baterai global saat ini mengalami kelebihan kapasitas produksi sehingga juga menjadi salah satu faktor yang mendorong harga baterai turun. Bahkan, harga baterai untuk mobil penumpang tercatat turun 37 persen sepanjang 2020 hingga 2025.

Selain itu, semakin banyak juga produsen yang menggunakan baterai lithium iron phosphate (LFP) yang mana jenis baterai ini tidak menggunakan kobalt yang memiliki harga relatif mahal.

Di sisi lain, ekspansi produsen mobil listrik China ke pasar global juga ikut mendorong penurunan harga.

China mengekspor sekitar 1,64 juta mobil listrik pada 2025. Jumlah tersebut meningkat tajam dari 2020 yang tercatat kurang dari 100.000 unit.

Mobil listrik buatan China pun mendapat respons positif di sejumlah pasar ekspor karena menawarkan harga yang relatif terjangkau. Di Thailand misalnya, merek China menguasai hampir 30 persen penjualan mobil baru.

Jika dilihat berdasarkan harga rata-rata di masing-masing negara, mobil listrik juga tercatat lebih murah dibandingkan hybrid di sejumlah negara Asia Tenggara dan Amerika Selatan.

Harga yang lebih terjangkau ini menjadi salah satu faktor penting dalam mendorong adopsi mobil listrik terutama di negara berkembang.

Sejumlah negara seperti China dan Norwegia yang harga mobil listriknya sudah setara atau lebih murah dibandingkan mobil bermesin bensin kini tercatat memiliki tingkat adopsi EV yang sudah lebih tinggi.

Terkait
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com