SUARA PEKANBARU - Kapan Hari Raya Idul Fitri 2023? Ustadz Adi Hidayat menjelaskan terkait metodologi penentuan 1 Syawal.
Menurut Ustadz Adi Hidayat, ada dua metode yang bisa digunakan dalam penentuan Hari Raya Idul Fitri atau 1 Syawal, yakni dengan rukyatul hilal dan hisab.
Metode rukyatul hilal (melihat hilal), merupakan metode yang biasa dipraktekkan pada zaman Nabi Muhammad SAW, termasuk dalam menentukan waktu-waktu ibadah harian, seperti shalat.
Ustadz Adi Hidayat menjelaskan, metode rukyat sudah menjadi tradisi di era Nabi karena sesuai dengan kemampuan masyarakat pada saat itu.
"Kenapa rukyat? Karena memang pada umumnya di zaman Nabi, masyarakatnya memang tidak bisa membaca, menulis. Apalagi menghitung secara kompleks," katanya.
Dikatakan Ustadz Adi Hidayat, faktor kemudahan ialah alasan yang mendasari Nabi Muhammad SAW memilih menggunakan metode melihat hilal tersebut.
Sebab, pada zaman itu belum ada yang mampu melakukan analisis perhitungan secara astronomi.
"Karena kami ini masyarakat yang ummi, kata Nabi, tidak ada pakar yang bisa ngitung dengan kompleks, sehingga bisa memetakan waktu dengan mudah, cepat berdasarkan hitungan. Karena sifatnya demikian, maka yang digunakan pada masa itu adalah melihat (rukyat)," ucap Adi Hidayat.
Hal itu sesuai dengan sabda Rasulullah SAW:
Baca Juga: Innalillahi, 4 Prajurit TNI Penyelamat Pilot Susi Air yang Sempat Hilang Ditemukan Tewas di Papua
"Kita adalah umat yang ummi, tidak menulis, dan tidak menghitung. Bulan itu demikian dan demikian, yakni suatu kali 29 hari dan suatu kali 30 hari," (HR. Bukhari).
Kendati begitu, umat Islam tidak harus mengikuti apa yang dilakukan Rasulullah SAW, apabila sudah menemukan metode yang lebih mudah, yakni metode hisab.
"Jika Anda memang merasakan mudah, silakan praktekkan karena kami, kata Nabi, dulu pada umumnya nggak bisa ngitung," kata Adi Hidayat.
"Maka bagi yang mudah untuk itu (hisab) silakan praktekkan. Baik menggunakan hisab atau rukyat, prinsipnya adalah merasakan kehadiran Ramadhan," tambahnya.
"Jadi baik rukyat atau pun hisab, pada dasarnya metodologi untuk menetapkan. Dipilih untuk memudahkan bukan untuk diperselisihkan," kata Ustadz Adi Hidayat. (*)
Berita Terkait
Terpopuler
- Dituding jadi Biang Kerok Laga Persija vs Persib Batal di Jakarta, GRIB Jaya Buka Suara
- 7 Bedak Tabur Terbaik untuk Kerutan dan Garis Halus Usia 50 Tahun ke Atas
- 7 HP Midrange RAM Besar Baterai 7000 mAh Paling Murah yang Layak Dilirik
- Promo Alfamart Hari Ini 7 Mei 2026, Body Care Fair Diskon hingga 40 Persen
- 5 Pilihan HP Android Kamera Stabil untuk Hasil Video Minim Jitter Mei 2026, Terbaik di Kelasnya
Pilihan
-
Suporter Persipura Rusuh, Momen Menegangkan Pemain Adhyaksa FC Dilempari Botol
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
-
Tragis! Anggota IV BPK Haerul Saleh Tewas dalam Kebakaran di Tanjung Barat, Diduga Akibat Sisa Tiner
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
Terkini
-
Lupakan Skutik, Motor Bandel Honda Ini Layak Dilirik: Irit Tembus 59,8 km/liter
-
Apakah Mobil Listrik Boleh Pakai Ban Mobil Biasa? ini 5 Rekomendasinya
-
Anak Pertama Al Ghazali dan Alyssa Daguise Lahir, Nama Unik Jadi Sorotan
-
Bagian Apa Saja dari Mobil Listrik yang Butuh Perawatan Rutin?
-
Purbaya Targetkan Kebijakan Layer Cukai Rokok Berlaku Juni 2026, Tinggal Tunggu DPR
-
CFD Ampera Palembang Minggu III Membludak, Warga Protes Jalan Ditutup Sampai Jam 9 dan Parkir Mahal
-
Dunia Koas yang Mencekam: Mengapa Gudang Merica Jadi Film Horor Paling Ditunggu di 2026?
-
Transaksi UMKM Tembus 13 Juta di E-Commerce, Pemulihan Ekonomi Pascabencana Kian Menguat
-
Plafon Rp25-50 Juta Jadi Favorit UMKM di Makassar, BRI Catatkan Tren Positif di Awal 2026
-
Dana Rp62 Miliar Dikucurkan untuk Program Beasiswa Mahasiswa di Riau