/
Senin, 12 September 2022 | 13:02 WIB
ilustrasi ngobrol dengan anak (pexels.com)

Poptren.suara.com - Sebagai orang tua pasti menginginkan anaknya berperilaku baik. Perilaku ini tak semata-mata bisa terbentuk begitu saja jika tidak didukung dari sikap teladan orang tua. Jika kita sebagai orang tua ingin anak tumbuh berperilaku baik dan juga penyabar, kita pun harus lebih sabar menghadapi tingkah laku mereka.

Menurut penelitian University of Pittsburgh di Pennsylvania dan University of Michigan di Ann Arbor, disiplin verbal yang berat dari orang tua sangat merusak anak. Ketika orang tua sering menegur dengan berteriak atau marah-marah, anak cenderung punya masalah perilaku. Hal ini karena emosional anak terganggu. Bahkan mereka bisa menjadi pelaku vandalisme dan kekerasan di kemudian hari.

Dikutip dari haibunda.com, sebuah studi yang diterbitkan di Journal of Marriage and Family pada 2003, mengungkap bahwa dalam keluarga di mana ada 25 atau lebih insiden berteriak dalam setahun, anak bisa jadi rendah diri, mudah marah, kasar, serta tingkat depresinya tinggi. Menurut psikolog serta penulis buku 10 Days to a Less Defiant Child, Jeffrey Bernstein, PhD, orang tua yang berteriak dan marah-marah pada anaknya adalah mereka yang kehilangan kesabaran karena tidak mampu mengontrol emosi dengan baik. Hal ini pastinya memberi dampak buruk pada anak.

Jeffrey mengungkapkan, "Berteriak meningkatkan kecemasan pada anak," seperti dilansir dari Psychology Today.

Oleh karena itu, Jeffrey menyarankan tiga cara berikut ini agar sebagai orang tua lebih sabar menghadapi anaknya. Yakni :

1. Jadi pendengar yang aktif

Ketika anak dalam masalah, cobalah jadi pendengar yang baik, bukan memarahi atau menceramahi. Hindari pula sikap menghakimi karena akan membuat anak merasa dikritik dan menjadi defensif atau tidak terbuka, dan tidak ingin bicara.

2. Coba memahami dan berpikir tenang

Setelah mendengar apa yang dijelaskan oleh anak, mungkin bisa menjadi penawar untuk tidak berteriak padanya. Meskipun pemahaman saja mungkin tidak cukup untuk mengurangi emosi kita, tetaplah berpikir tenang. Analisa apa yang sebenarnya anak inginkan agar dia mau berubah. Jelaskan baik-baik padanya apa yang seharusnya dia lakukan.

Baca Juga: Doyan Touring Berkelompok, Simak Tips Keselamatan Berkendara Aman

Misal, ketika kita melihat kamar anak sangat berantakan, jangan langsung meneriakinya untuk membereskan. Bicaralah baik-baik, beri saran bagaimana seharusnya dia meletakkan barang-barangnya.

Yang perlu kita tekankan pada diri sebagai orang tua adalah pahami anak. Ini akan membantu memperlambat emosi kita. Semakin lambat emosi, semakin berkurang pula tekanan untuk marah dan berteriak.

3. Jangan terlalu mencampuri urusan anak

Sadarilah bahwa anak pun memiliki dunianya sendiri. Pada waktunya nanti, anak akan tumbuh mandiri dan kita mesti melepasnya. Kita tidak bisa terus-menerus mencampuri urusannya. Kadang orang tua sering merasa apa yang dia lakukan untuk anaknya sudah benar, padahal belum tentu demikian. Benar menurut orang tua, belum tentu benar menurut anak.

Jangan hanya melihat dari sudut pandang kita sendiri. Cobalah lihat dari sudut pandang anak. Dengan memberi kepercayaan penuh padanya, akan membantu mengurangi rasa frustrasi dan emosional kita sebagai orang tua.

Selamat mencoba dan semoga bermanfaat.

Load More