Poptren.suara.com - Hingga kini Indonesia diketahui masih menjadi habitat bagi lima jenis kucing hutan. Tak jarang keberadaan kucing-kucing liar tersebut tertangkap kamera jebak yang dipasang para peneliti untuk mengetahui jumlah populasi seungguhnya hewan-hewan tersebut.
Mengacu hal itu, tentu dibutuhkan upaya yang cukup serius guna melindungi kawasan-kawasan tempat habitat kucing-kucing itu dari pembalakan dan penebangan hutan dalam skala besar, karena pastinya bakal merusak ekosistem kucing-kucing liar endemik Indonesia tersebut.
Pakar ekologi dari Virginia Tech dan WWF Indonesia pernah menjelaskan bahwa kucing hutan punya peranan penting dari sisi ekologis, utamanya sebagai hewan predator.
Sejatinya, kucing hutan memegang kendali bagi populasi dan perilaku satwa lain, terutama dalam mengendalikan jumlah populasi satwa mangsa mereka. Pada akhirnya ini akan berpengaruh pada vegetasi dan ekosistem secara keseluruhan.
Berikut 3 kucing hutan eksotis asli Sumatra yang saat ini dalam status terancam punah.
1. Kucing Batu
Kucing batu sangat mirip dengan kucing rumahan dengan motif serupa macan. Hewan dengan nama latin Pardofelis marmorata ini merupakan kucing liar kecil yang terkenal gesit saat berada di atas pohon. Ukuran tubuhnya memang hanya sekira 45-62 cm dengan bobot 2-5 kg.
Kucing batu cukup dikenal karena pola bulunya yang indah dan eksotis dengan dominasi warna cokelat, abu-abu, kuning, dan hitam, dengan motif totol-totol. Ekornya yang panjang dan berbulu tebal semakin menjadi daya tarik kucing batu. Kaenanya tak heran mereka kerap kali jadi sasaran perburuan untuk dijual kepada para kolektor.
Hewan dengan pola hidup nokturnal ini menghabiskan sebagian waktunya di atas pohon untuk memangsa burung, reptil (cecak pohon, kadal, atau ular), tupai, dan tikus. Karena populasinya yang semakin menyusut, sejak 2002 kucing batu sudah berstatus konservasi rentan.
2. Kucing Emas
Memiliki nama latin Catopuma temminick, kucing emas hidup di kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat. Kucing hutan satu ini cukup mudah dikenali karena hampir seluruh tubuhnya berwarna cokelat keemasan. Meski begitu, sebagian dari mereka ada juga yang berwarna abu-abu atau cokelat gelap.
Baca Juga: Catat karena Penting ! Deretan Gejala Rabies pada Kucing
Dengan rata-rata berat 8-12 kg untuk kucing emas dewasa dan panjang tubuh yang mencapai 1,2 meter, kucing ini terlihat lebih panjang ketimbang ukuran kucing lazimnya.
Kucing emas hidup pada ketinggian 1.110-3.378 mdpl dan menempati kawasan padang rumput atau kebun. Untuk bertahan hidup, mereka memangsa hewan-hewan kecil seperti tupai, reptil, burung, dan kelinci.
Beberapa dekade belakangan, kucing emas semakin sulit terlihat karena perburuan liar. Umumnya kucing in diburu untuk santapan karena dikatakan dagingnya yang lezat serta tulangnya sebagai bahan baku pengobatan tradisional.
Tak sedikit pula para oknum yang memperdagangkan kulit kucing emas yang memiliki nilai ekonomis tinggi, karenanya bukan mustahil di masa depan hewan ini kian terancam punah, selain karena habitatnya yang menjadi alih fungsi lahan.
3. Kucing Kuwuk
Kucing kuwuk atau kucing congkok juga bisa ditemukan keberadaannya di hutan-hutan Sumatra. Dengan ukuran mirip kucing pada umumnya, kucing kuwuk acapkali disangka sebagai anak macan oleh para penduduk dan masyarakat sekitar hutan.
Meski demikian, secara fisik kucing kuwuk terlihat lebih ramping dengan kaki yang cukup panjang yang dibalut bulu-bulu bermotif totol. Sejatinya memang, kucing kuwuk dan macan berasal dari dua genus berbeda.
Kucing kuwuk saat ini berada di ambang kepunahan karean perburuan dan kerusakan habitat. Wajar saja, ekosistem kucing kuwuk yang tadinya berada di ketinggian 3.000 mdpl kian tergerus akibat penebangan hutan, hingga tak jarang hewan satu ini mampir ke desa atau kebun warga.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 Rekomendasi Merk Rice Cooker yang Awet dan Bagus untuk Pemakaian Jangka Panjang
- Feng Shui Rumah Menghadap Utara, Lakukan 4 Tips Ini agar Energi Seimbang dan Bawa Hoki
- TNI Mau Ambil Alih Kamtibmas? TB Hasanuddin: Itu Tugas Polri
- 5 Pilihan HP Samsung RAM 12 GB Agustus 2026, Performa Ngebut Anti Lag
- Warga Teror Pekerja Stadion Sudiang, Pembangunan Tribun Selatan Terpaksa Ditinggalkan
Pilihan
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
Terkini
-
Bank Sumsel Babel Tebar Promo HUT RI, Jajan Cukup Bayar Rp1.945 dengan QRIS BSB Mobile
-
Cashback Jadi Andalan Luna Maya Saat Belanja, Sudah Kumpulkan Hingga Rp 1,6 Juta
-
Bank Sumsel Babel Perluas Layanan, 624 Prajurit Yonif TP 893 Kini Punya Akses Perbankan
-
Dari Sekolah hingga UMKM, Internet Mengubah Kehidupan Warga di Daerah 3T
-
Karhutla Sumsel Makin Sulit Dikendalikan, Hujan Buatan Terkendala Awan
-
Karhutla Sumsel Makin Sulit Dipadamkan, Sumber Air Mulai Jadi Masalah
-
Viral Tukang Cukur di Rancabungur Dimarahi Karena Belum Pasang Bendera, Ini Kata Camat
-
Bintang-bintang Legendaris Liga Inggris akan Saling Berhadapan di GBK, Catat Waktunya
-
Yenti Garnasih Bongkar Indikasi TPPU Febrie dan Luruskan Istilah Kriminalisasi
-
Polisi Temukan Bukti Permulaan, Kasus Kematian Sutrimo Naik ke Tahap Penyidikan Pidana