/
Kamis, 29 September 2022 | 13:43 WIB
Karikatur Anggota DPR RI Dedi Mulyadi. (Jabarnews.com)

PURWASUKA - Kabar keretakan rumah tangga Anggota DPR RI Dedi Mulyadi dan Bupati Purwakarta Anne Ratna Mustika membuat heboh publik. Kehidupan rumah tangga keduanya selama ini terlihat adem ayem.

Meski tengah didera persoalan gugatan cerai oleh istrinya, tidak mengganggu kegiatan Dedi Mulyadi menjalankan tugasnya sebagai anggota DPR RI.

Terbaru, Dedi Mulyadi mengunjungi KPBS Pangalengan di Kabupaten Bandung. Dalam kunjungan kerjanya itu, dia meminta pemerintah mengganti sapi perah milik anggota KPBS Pangalengan yang mati terserang Penyakit Mulut dan Kuku (PMK).

Menurutnya, wabah PMK membuat peternak sapi mengalami kesulitan. Mengingat, akibat wabah tersebut tak sedikit sapi milik peternak yang mati.

"Wabah PMK ini musibah yang luar biasa bagi rakyat kecil," ujarnya pada Rabu (28/9/2022).

Dedi Mulyadi mengatakan, wabah PMK ini menjadi musibah bagi peternak sapi berskala kecil. Mengingat mereka menggantungkan hidupnya dari susu yang dijual setiap harinya.

Dia meminta kementerian terkait untuk mengganti sapi kepada peternak skala kecil, jangan diganti dengan uang. Menurutnya, uang ganti rugi sebesar Rp10 juta sebagai ganti rugi tidak ada artinya.

"Mereka yang hanya punya satu atau dua ekor, jangankan sapi perah, sapi pedaging juga repot karena itu modal hidup mereka. Jadi Kementan sudah deh berikan sapi baru kepada mereka, jangan hanya diganti Rp 10 juta karena tidak ada artinya. Itu bisa kan patungan dananya dari pusat, provinsi dan daerah," terangnya.

Selain itu, berikan bantuan bagi peternak skala kecil jangan sampai di kemudian hari mereka terjerat utang ke rentenir yang besaran bunganya sangat tidak manusiawi.

Baca Juga: Blak-blakan! Erie Suzan Ogah Jadi Juri Dangdut Academy Lagi, Tak Mau Ada Drama?

"Pendapatan mereka dari peras susu setiap hari sekarang hilang. Jangan sampai mereka terjerat bank emok (rentenir) yang bunganya berlipat," ucapnya mengutip Antara.

"Saya minta Kementan, dinas provinsi, dinas kabupaten bisa segera mengganti sapi peternak yang mati. Minimal satu keluarga mendapatkan ganti dua ekor sapi perah," katanya lagi.

Dia berharap kunjungannya ke KPBS Pangelengan ini bisa membawa manfaat bagi peternak sapi. Kementerian pun didorong untuk segera merealisasikan ganti rugi sapi maksimal pada semester awal tahun 2023 mendatang.

Adapun jumlah ganti rugi sapi bila dikalkuslasikan mencapai 204 ekor untuk 102 keluarga yang terdampak. Nilainya mencapai Rp5,1 miliar.

Dedi menyampaikan, ada solusi agar hal tersebut bisa segera terealisasi. Caranya ialah dengan memberikan bantuan rutin yang dialokasikan untuk kelompok peternak lama dan bukan yang baru.

"Alokasikan anggaran hewan ternak sekarang fokus pada peternak lama, jangan ke kelompok peternak baru. Karena peternak baru belum tentu bisa berhasil mengelola, berbeda dengan kelompok lama yang sudah ada hasilnya," kata dia pula.

Load More