/
Selasa, 14 Juni 2022 | 19:49 WIB
Anang F

PURWOKERTO.SUARA.COM, BANYUMAS - Sebanyak 120 ribu bibit ikan air tawar disebar di lima titik sungai yang bermuara di aliran Sungai Serayu. Kegiatan tersebut dilakukan sebagai upaya untuk pemulihan ekosistem endemik biota air tawar pasca flushing yang dilakukan PT Indonesia Power Unit Mrica Banjarnegara pada awal April lalu.

Kegiatan flushing atau pembukaan pintu air Waduk Mrica pada Bulan April lalu, menyebabkan puluhan ribu endemik ikan air tawar lemas dan mati karena air dalam kondisi bercampur lumpur. Salah satu daerah yang terdampak adalah Kabupaten Banyumas.

PIC Indonesia Power sekaligus komunitas fishing asal Sokaraja, Kuat Pujianto menjelaskan kegiatan penebaran benih ikan dilakukan di Kabupaten Banyumas dan Banjarnegara.

"Hari ini kita lakukan kegiatan tebir benih dengan rincian 50 ribu ikan tawes, 50 ribu ikan nila,serta 20 ribu sidat dan pelus. Ada di lima titik, Sawangan Kali Sapi di Klampok, Banjarnegara, lalu di Desa Suro aliran Kali Klawing, lalu di Desa Notog, Sungai Tenggulun dan Logawa, yang terakhir Sungai Tajum bawah Jembatan Menganti," katanya saat kegiatan pelepasan benih ikan di tepian Sungai Logawa, Kabupaten Banyumas, Selasa (14/6/2022).

Kuat sebelumnya meminta kepada PT Indonesia Power agar bertanggung jawab atas kematian puluhan ribu ikan akibat flushing. Jika dilihat dampaknya banyak sekali ikan yang mati sehingga mengganggu ekosistem biota Sungai Serayu.

"Memang harus secepatnya di rehabilitasi. Kita usahakan kepada Indonesia Power untuk bertanggung jawab. Sepengalaman saya, untuk pemulihan ekosistem seperti ini membutuhkan waktu tujuh tahun," jelasnya.

Pemulihan tersebut dilakukan secara bertahap, tidak bisa langsung dilakukan. Setidaknya setiap tahun diadakan restocking.

Dirinya merasa kesulitan untuk mencari bibit endemik Sungai Serayu, seperti Pelus Mamorata, Gabel Serayu, Baceman dan Ikan Sidat totol. Dengan adanya kejadian kemarin, dirinya berharap tidak akan terulang lagi.

"Kedepannya itu kami kepengin, flushing bukan jadi satu-satunya solusi. Alasannya force mageur. Tapi ya masa harus mengalahkan lingkungan di bawahnya. Apakah tidak ada penanganan sebelumnya dan cuma satu-satunya solusi? Mau bagaimana lagi ini sudah kejadian semoga tidak terulang," terangnya.

Sementara itu, General Manager PT Indonesia Power Unit Mrica Banjarnegara, Kuncoro mengatakan kegiatan ini berdasarkan masukan dari berbagai komunitas fishing.

"Kita bekerjasama dengan komunitas yang ada disini. Ikan jenis apa yang cocok untuk daerah sini. Dan kita juga mendapat arahan dari dinas, terus kita yang melakukan pembiayaannya," katanya.

Usai kejadian luar biasa pada Bulan April, pihak PT Indonesia Power Mrica sudah melakukan flushing sebanyak tujuh kali. Dari kegiatan tersebut semuanya masih dalam kondisi aman.

"Untuk saat ini kita sudah melakukan tujuh kali pembukaan. Dan itu kondisinya aman. Kemarin itu memang kondisi khusus dimana gunung yang ada di dalam itu runtuh. Ini mungkin early warning bagi kita semua bahwa erosi itu yang ada di atas perlu penanganan yang lebih baik," tuturnya.

Selain pelepasan bibit ikan, PT Indonesia Power Mrica Banjarnegara juga melakukan penanaman pohon di berbagai wilayah sebagai upaya untuk mengurangi dampak kerusakan alam. (Anang Firmansyah)

Caption : Relawan bersama PT Indonesia Power Mrica Banjarnegara melepas bibit ikan sebagai upaya pemulihan ekosistem endemik Sungai Serayu di Desa Notog, Kecamatan Patikraja, Kabupaten Banyumas, Selasa (14/6/2022). Suara.com/Anang Firmansyah

Load More