PURWOKERTO.SUARA.COM, Meski jauh dari tanah kelahiran Nabi, Arab Saudi, Umat Islam Indonesia beruntung bisa hidup berdampingan dengan banyak keturunan (dzurriyat) Nabi Muhammad SAW yang tinggal di tanah air. Mereka dikenal dengan sebutan sayyid atau habib. Mereka yang sering tampil di media massa ternyata barulah sedikit di antara banyak habib atau sayyid yang mendiami bumi pertiwi.
Selama ini publik hanya mengenal habib sebagai seorang pendakwah atau penceramah. Tiap mereka memiliki gaya ceramahnya yang khas dalam mendakwahkan agama.
Tapi siapa sangka, banyak dzurriyah Rasul yang mengambil jalan berbeda dalam hidupnya. Mereka memiliki berbagai latarbelakang profesi yang berbeda satu sama lain.
Selain pendakwah, banyak habib atau sayyid yang berprofesi sebagai wiraswasta, anggota TNI, Polri, Aparatur Sipil Negara (ASN), dan matapencaharian lainnya. Banyak di antara mereka yang tidak dikenal publik.
Di antara yang menyita perhatian publik belakangan ini adalah Mayor Infanteri Ahmad bin Muhammad bin Hamid Assegaf. Dia adalah Wakil Komandan Batalyon Infanteri 753 (Wadanyon) 753/Arga Vira Tama atau Yonif 756/AVT.
Secara fisik, publik akan mudah menebak pria itu berparas timur tengah. Mengenakan baju militer, Ahmad tampak begitu gagah. Tapi ia bukan tentara Timur Tengah, melainkan prajurit TNI yang bertugas membela bumi pertiwi.
Badannya tegap. Posturnya tinggi kekar. Parasnya jangan tanya, jelas ganteng di atas rata-rata. Tapi yang membuatnya lebih istimewa, Ahmad adalah salah satu keturunan Nabi SAW atau biasa dipanggil habib oleh umat Islam Indonesia.
Ahmad lahir di Jeddah, Arab Saudi. Ia adalah seorang insinyur dari Kabupaten Pekalongan yang pernah mendapatkan beasiswa di Riyadh Arab Saudi.
Ahmad sempat menghabiskan masa kecilnya di Arab Saudi, tempat orang tuanya mengais rizki. Dari Arab, ia dan keluarganya sempat menetap di Singapura hingga menetap di Jakarta pada umur 7 tahun.
Baca Juga: Bayern Munchen Lepas Robert Lewandowski ke Barcelona
“Saya (waktu kecil) tidak bisa bahasa Indonesia, karena abah (ayah) dan umi (ibu) selalu berbahasa Arab,”katanya dikutip dari channel youtube Dakwah Islam
Ahmad kecil sempat mengenyam pendiidkan di SD Annuriyah Cipinang, Jakarta Timur. Di situ ia perlahan belajar Bahasa Indonesia. Ahmad sejatinya tidak memiliki latar belakang keluarga militer.
Wujudkan Mimpi Ayah
Hanya ayahnya sempat berambisi menjadi anggota TNI hingga pernah mendaftarkan diri. Sayang, karena suatu hal, orang tuanya harus mengubur impian menjadi tentara RI.
Tapi kecintaannya terhadap korps ini tak pernah pudar. Syukur ia dikaruniai anak laki-laki. Ahmad namanya. Ahmad tumbuh menjadi seorang pemuda gagah dengan tubuh tegap. Secara fisik, ia sangat cocok menjadi tentara pembela tanah air.
Hingga masa itu tiba, saat usianya cukup, Ahmad didorong untuk mendaftar Akademi Militer (Akmil). Semasa seleksi, Ahmad digembleng ayahnya sendiri agar fisiknya kuat dan masuk kualifikasi tentara.
“Ayah pulang kantor bawa brosur Akmil. Abah perintahkan saya ikut. Karena anak harus bakti, saya harus nurut,”katanya
Ia sempat bingung saat mau mendaftar. Ia tak tahu harus bertemu siapa dan kemana untuk mendaftar Akmil. Ia sempat ditanya prajurit Provost yang berjaga terkait tujuannya.
Petugas itu sempat menebaknya sebagai orang Arab karena parasnya yang beda dari orang Indonesia umumnya. Ahmad menjelaskan ia asli warga Indonesia. Jiwanya merah putih.
Petugas kemudian membimbing dan mengarahkan Ahmad untuk masuk ke dalam kantor, tempat pendaftaran siswa baru Akmil. Ahmad lulus seleksi administrasi hingga lolos ke tahapan seleksi selanjutnya, termasuk tes fisik dan psikologi.
Ahmad berjuang keras agar bisa lolos semua ujian. Ayahnya sangat bersemangat membantu anaknya agar bisa lulus seleksi. Setiap subuh, ia membangunkan putranya itu untuk ibadah dan lanjut latihan fisik untuk persiapan tes jasmani.
“Sangat tidak tega kalau saya gak masuk. Tidak mau menyakiti hati orang tua,”katanya
Perjuangan kerasnya tak sia-sia. Ahmad akhirnya dinyatakan lolos seleksi calon taruna Akmil tahun 2005. Ahmad berhasil mewujudkan impian orang tuanya untuk menjadi anggota TNI.
Ahmad pernah beberapa kali menjalankan misi berat untuk menjaga keamanan di perbatasan Papua Nugini. Bahkan pada 2016, ia harus meninggalkan istrinya yang hamil demi menjalankan misi negara ke perbatasan Papua Nugini.
“Waktu saya pulang, anak saya sudah lahir usia 3 bulan. Saya gendong, senang sekali perasaan ini,”katanya
Berita Terkait
Terpopuler
- Pemerintah Tutup Ruang Pembentukan Provinsi Luwu Raya, Kemendagri: Ikuti Moratorium!
- Warga Sambeng Borobudur Pasang 200 Spanduk, Menolak Penambangan Tanah Urug
- Arya Iwantoro Anak Siapa? Ternyata Ayahnya Eks Sekjen Kementan yang Pernah Diperiksa KPK!
- Usut Kematian Nizam Syafei yang Disiksa Ibu Tiri, Video di Ponsel Korban akan Diperiksa
- 7 Skema Suami Dwi Sasetyaningtyas Kembalikan Dana Beasiswa LPDP
Pilihan
-
Debut Berujung Duka, Pemain Senegal Meninggal Dunia Usai Kolaps di Lapangan
-
Di Tengah Jalan Raya, Massa Polda DIY Gelar Salat Gaib Massal untuk Korban Represi Aparat
-
Massa Aksi di Depan Polda DIY Dibubarkan Paksa oleh Sekelompok Orang Berpakaian Sipil
-
5 Fakta Mencekam Demo di Mapolda DIY: Gerbang Roboh hingga Ledakan Misterius
-
Suasana Mencekam di Depan Polda DIY, Massa Berhamburan Usai Terdengar Ledakan
Terkini
-
Scroll, Klik, Ngiler! Cara Menyiksa Diri di Aplikasi Makanan saat Ramadan
-
Dijodohkan dengan Ipar Syahrini, King Nassar Akhirnya Buka Suara Soal Perasaannya
-
Viral Cut Rizki Pilih Makan Malam Kenyang Ketimbang Sahur, Amankah bagi Kesehatan?
-
Sepakat Ditunda, Impor Mobil Pick Up dari India Ternyata Sudah Tiba di Jakarta
-
Wajib Tutup Selama Ramadan? Ini Daftar Tempat Hiburan Malam di Jaksel yang Disegel Pemprov DKI
-
Doa Buka Puasa Lengkap Arab, Latin, dan Artinya
-
Jadwal MotoGP Thailand 2026: Siapa yang akan Bersinar di Seri Pembuka?
-
Update Kuota Mudik Gratis Pemprov DKI Jakarta 2026, Ini Link Daftarnya
-
Google dan Komdigi Gaspol Kembangkan Startup AI Indonesia, 63 Perusahaan Dapat Akses Google Cloud
-
3 Cushion Non-Comedogenic dengan SPF 50 yang Aman untuk Kulit Berjerawat