/
Selasa, 11 Oktober 2022 | 15:52 WIB
Woodstock '99, konser paling mematikan di dunia (tangkapan layar YouTube Detective Aldo)

SuaraSoreang.id - Pergelaran konser musik biasanya memiliki tujuan, genre, dan penikmatnya masing-masing. Inti dari sebuah konser itu biasanya untuk mengumpulkan para penikmat musik dari genre terentu di satu tempat yang sama.

Bagaimana ceritanya, bila dalam sebuah konser yang tadinya mengusung tema anti kekerasan malah berujung pada kerusakan besar-besaran?

Inilah konser yang menjadi catatan kelam diblantika musik dunia, Woodstock’99 yang kisahnya telah kami rangkum dari Youtube Detective Aldo dengan judul 'KONSER PALING HANCUR, RUSUH, GAGAL SEDUNIA, CEWEK2 DISIKAT SEMUA | Woodstock 99' yang diunggah pada tanggal 12 Agustus 2022.

Woodstock’69

Melompat jauh 30 tahun sebelumnya, Woodstock pertama kali digelar pada tahun 1969, yang mana pada saat itu tujuannya cukup solid, yakni untuk menjadi tempat pelarian anak-anak muda Amerika yang mengalami trauma pasca serangan militer antara Amerika-Vietnam.

Kultur Hippies yang saat itu sedang ramai, dinilai menjadi simbol perdamaian dan perjalanan spiritual mencari kedamaian oleh anak muda Amerika. Disinilah, Woodstock’69 mencoba untuk menyuarakan hal tersebut.

Mereka percaya, kedamaian, persatuan, dan kemanusiaan bisa disuarakan lewat konser. Terlebih musik dirasa memiliki power untuk mempersatukan orang-orang. Tujuan lainnya, John r & Joel r, Michael lang, Artie kornfield atau pendiri dari Woodstock ini memilki tujuan lain yakni untuk megggalang dana untuk membuat sebuah studio rekaman. Maka dari itu, konser dinamai Woodstock.  

Woodstock '99

Woodstock terus digelar dengan beragam kekurangan di tiap tahun konsernya hingga puncaknya pada tahun 1999, Woodstock kembali menggelar konsernya dengan agenda anti kekerasan di anak muda. Karena, pada saat itu telah terjadi kekerasan di sebuah sekolah di Amerika.

Baca Juga: Lebih Seram dari Covid-19, Ini 5 Wabah Paling Mematikan di Dunia, 500 Juta Orang Meninggal

Konser yang digelar 3 hari dari tanggal 23 Juli-25 Juli 1999 itu berlokasi di tempat bekas markas Angkatan Udara. Pihak promotor yang sengaja mengambil untung besar dengan budget persiapan yang sedikit-dikitnya membuat banyaknya fasilitas umum konser kurang memadai.

Makanan serta minuman di dalam konser yang melambung tinggi, cuaca yang panas, fasilitas tidak memadai, musik-musik yang disajikan cenderung keras dan meluapkan emosi seakan menjadi sebab pecahnya emosi para penonton di hari ketiga konser tersebut.

Terjadi penjarahan, penghancuran properti sekitar konser, pemerkosaan terhadap wanita, pembakaran, semua hal tersebut tak bisa terhindarkan. Apalagi, keamanan saat itu sangat rentan karena hanya para sukarelawan anak muda.  

Kekacauan dari tragedi konser tersebut dikenal dengan Hari Musik Mati. Dari konser tersebut dilaporkan setidaknya kurang lebih 1000 orang terluka, 44 orang ditangkap sebagai provokator, dan 4 wanita melapor sebagai korban pelecehan seksual

Itulah konser yang menjadi catatan kelam dalam sejarah pergelaran konser di dunia.

Kontributor: Shafa Maura Zahwa

Load More