/
Selasa, 04 Oktober 2022 | 08:00 WIB
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo. (Suara.com/Alfian Winanto)

Sukabumi.suara.com – Tragedi Kanjuruhan yang menelan ratusan korban jiwa menyisakan luka terdalam terutama bagi keluarga korban yang ditinggalkan. Apalagi, diketahui jika banyak korban yang meninggalkan anak sebatang kara karena kehilangan orang tua.

Di sisi lain, tanggapan tak terduga akan kondisi tersebut justru datang dari Kepala Kepolisian RI atau Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo.

Listyo Sigit diketahui menawarkan anak dari korban tragedi Kanjuruhan untuk masuk Kepolisian. Hal tersebut diketahui berlangsung saat dirinya melakukan takziah ke rumah salah seorang keluarga korban, bersama dengan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Menpora Zainuddin Amali, serta Ketua Umum PSSI Mochamad Iriawan.

"Kalau kamu masuk polisi mau nggak?" tanya Sigit kepada anak dari korban tragedi Kanjuruhan.

Bukannya mendapat respons positif, aksi Kapolri tersebut justru menuai kritik dan kecaman dari warganet.

"Dikira kalo udah masuk polisi terus kelar gitu masalah? Terus ga perlu korek-korek lagi siapa yang salah ditragedi kemarin ? Dih. Kebanyakan overproud sama profesi ya gitu. Mending clearkan masalah kemaren dulu, cari dalangnya, tanggung jawab dll," tulis salah satu warganet,

"Ya masa nawarin masuk ke tempat yang bikin dia trauma sih. gila aja," kecam lainnya,

"Ini kita udah sampe puncak komedi apa masih belom ni? GG amat," sindir komentar lain.

Peringatan ISESS

Di lain sisi, aksi Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo rupanya tidak hanya dikritik oleh warganet, melainkan juga oleh Bambang Rukminto, selaku Pengamat kepolisian dari Institute for Security and Strategic Studies (ISESS)

Baca Juga: Tragedi Kanjuruhan: Duka Dunia dan Bendera Setengah Tiang Anggota Federasi FIFA

Menurutnya, proses rekrutmen polisi harus tetap mengedepankan profesionalisme, bukan berdasarkan rasa belas kasihan.

"Rekruitmen polisi juga harus tetap mengedepankan profesionalisme bukan belas kasihan," jelas Bambang Senin (3/10/2022).

Ditambah lagi, ia berujar jika saat ini yang terpenting adalah mengusut tuntas akar masalah tragedi kemanusiaan itu menjadi hal yang terpenting saat ini.

Load More