/
Jum'at, 12 Mei 2023 | 14:38 WIB
Guru Windu Cartoon (dokumentasi Penulis)

Oleh Windu Sugianto

Anak muda pada zaman sekarang cenderung lebih sering dalam berkomunikasi  menggunakan  bahasa-bahasa gaul atau alay dengan teman sebaya atau kelompoknya supaya lebih kekinian dan mudah dipahami. Bahasa alay atau gaul yang digunakan setiap zaman memang berbeda. Di era tahun 1980’an di kenal bahasa prokem.

Bahasa prokem tersebut awal mulanya digunakan oleh para preman untuk berkomunikasi secara rahasia sehingga masyarakat awamtidak mengerti atau tidak paham dengan topik pembicaraan mereka. Bahasa prokem  juga sering dijuluki dengan bahasa “OK” kerena pada dasaranya bahasa prokem hanyalah bahasa sehari-hari yang disisipkan kata “OK” ditengahnya.

Contohnya:

Rokum (Rumah)

Awalannya R-, disisipkan –ok-,dilanjutkan –um,-h dihilangkan

Prokem (Rumah)

Awalannya P-, disispkan –ok-, dilanjutkan –em,-an dihilangkan

Rokar (Rokok)

Baca Juga: Keuntungan dan Simulasi Investasi Obligasi Makin Cuan

Awalannya R-, disisipkan –ok-, okok-, diganti –ar

Ikon 80 an ilustrasi tokoh cerita "Lupus" karya Hilman Hariwijaya (sumber: wikipedia.id)

Menggunakan bahasa prokem ini memang gampang-gampang susah. Bagi yang tidak terbiasa, sebelum berbicara bahasa prokem butuh waktu untuk berfikir terlebih dahulu. Tapi apa bila sudah terbiasa sangat mudah menggunakan bahasa prokem.

Contoh bahasa prokem dalam kalimat:

Pongi di sokin jae. (ngopi di sini aja)

Kenokap lu sendokiran di lokur?  (kenapa kamu di luar sendirian?)

Ngajan kemoken-moken, Lokit sampe rebes! (jangan kemana-mana lihat sampai beres!)

Load More