Suara Sumatera - Artis Indra Bekti tengah menjalani penyembuhan usai operasi pendarahan otak beberapa waktu lalu. Ia sebelumnya sempat pingsan di toilet saat siaran radio.
Pengobatan Indra Bekti pun sempat menuai pro dan kontra lantaran sang istri Aldila Jelita membuat penggalangan dana untuk suaminya itu.
Belakangan, open donasi tersebut ditutup dengan sejumlah pertimbangan.
Seiring dengan Indra Bekti yang tengah sakit, beredar kabar bahwa rumah sang presenter di penuhi pelayat. Tak hanya itu, Aldila Jelita juga disebut menangis histeris.
Kabar yang diunggah akun Youtube Ruang Informasi menghebohkan media sosial.
Adapun narasi thumbnail video itu sebagai berikut:
"Innalilahi wa inna illaihi rojiun. Istri Indra Bekti menangis histeris ketika rumahnya dipenuhi pelayat"
Melalui thumbnail video, terlihat foto Indra Bekti yang disandingkan dengan foto Aldila Jelita yang tengah bersedih, lalu foto Asri Welas dan Indy Barends yang tengah menangis. Adapun latar belakang foto yakni mobil jenazah dan para pelayat.
Sementara keterangan video Youtube tertulis judul "Istri Indra Bekti Menangis Histeris Ketika Rumahnya Dipenuhi Pelayat".
Baca Juga: CEK FAKTA: Kaesang Pangarep Foto Pakai Kaos dengan Logo Palu Arit, Benarkah?
Dalam video tersebut dinarasikan Aldila Jelita menangis histeris saat rumahnya dipenuhi pelayat.
"Tangis histeris istri Indra Bekti Aldila Jelita ketika rumahnnya dipenuhi oleh pelayat," bunyi narasi yang ada di Youtube Ruang Informasi, Selasa (10/1/2023).
Video tersebut menarasikan Indra Bekti yang tengah terbaring di RS Abdi Waluyo karena sakit pendarahan otak.
"Diketahui presenter kondang Indra Bekti kemarin sempat mengeluhkan sakit di bagian kepalanya sebelum akhirnya pingsan yang di akibatkan pada penyumbatan pembuluh darahnya dan sampai mengalami pendarahan otak. Dan pada akhirnnya presenter papan atas ini mau tidak mau menjalani operasi seusia mengalami pendarahan di otaknya Suami dari Aldila Jelita itu melakukan operasi di RS Abdi Waluyo di Jakarta Pusat," demikian narasinya.
Rekaman itu juga menarasikan bahwa Aldila Jelita menangis histeris karena kehadiran para pelayat di rumahnya usai anaknya meninggal dunia.
"Coban demi cobaan terus berdatangan pada Aldila Jelita. Masih teringat jelas kesedihan Aldila Jelita pada tanggal 31 Januari 2017 yang lalu, ia harus kehilangan anak yang baru saja Dila lahirkan dan waktu itu Aldila Jelita menangis histeris ketika banyak orang datang untuk melayat di kediamannya dan kini dia harus berjuang sendirian," bunyi narasi video tersebut.
Berita Terkait
Terpopuler
- Promo Indomaret 12-18 Maret: Sirup Mulai Rp7 Ribuan, Biskuit Kaleng Rp15 Ribuan Jelang Lebaran
- 5 Mobil Bekas Irit Bensin Pajak Murah dengan Mesin 1000cc: Masa Pakai Lama, Harga Mulai 50 Jutaan
- 45 Kode Redeem FF Max Terbaru 13 Maret 2026: Kesempatan Raih ShopeePay dan Bundel Joker
- 26 Kode Redeem FF 13 Maret 2026: Bocoran Rilis SG2 Lumut, Garena Bagi Magic Cube Gratis
- Apa Varian Tertinggi Isuzu Panther? Begini Spesifikasinya
Pilihan
-
Kabar Duka, Jurgen Habermas Filsuf Terakhir Mazhab Frankfurt Meninggal Dunia
-
Korut Tembakkan 10 Rudal Tak Dikenal ke Laut Jepang, Respons Provokasi Freedom Shield
-
Amukan Si Jago Merah Hanguskan 10 Rumah dan 2 Lapak di Bintaro
-
Teror Beruntun di AS: Sinagoge Diserang, Eks Tentara Garda Nasional Tembaki Kampus
-
KPK OTT Bupati Cilacap, Masih Berlangsung!
Terkini
-
Netanyahu Disalip Babi? Merlin Babi Pintar dengan Jutaan Followers di Instagram
-
Dompet Warga AS Tercekik, Harga BBM Meroket Cepat dalam Setahun, Trump Bisa Apa?
-
Melaju ke Final Festival Liga Ramadhan, Progres Positif Kendal Tornado FC Youth
-
Kabar Duka, Jurgen Habermas Filsuf Terakhir Mazhab Frankfurt Meninggal Dunia
-
Kolaborasi KUR BRI dan UMKM Genteng Dukung Program Pembangunan Hunian
-
Dari Majalengka ke Berbagai Kota: Genteng UMKM Menopang Program Perumahan
-
BRI Perkuat Pembiayaan UMKM Genteng di Tengah Lonjakan Permintaan Pasar
-
Gentengisasi Dorong Pertumbuhan UMKM dan Serap Tenaga Kerja Lokal
-
Didukung KUR BRI, Usaha Genteng Keluarga di Majalengka Terus Berkembang
-
Nyoman Parta: Serangan Air Keras ke Aktivis HAM Alarm Bahaya bagi Demokrasi