/
Rabu, 08 Februari 2023 | 14:46 WIB
Ilustrasi bayi. (Pexels)

Suara Sumatera - Bayi prematur dinilai berisiko terkena diabetes tipe 2 apabila nantinya mengalami obesitas.  Hal ini dikatakan oleh Prof dr Aman Bhakti Pulungan, PhD, SpA(K) dari Divisi Endokronologi Departemen Kesehatan Anak RS Cipto Mangunkusumo.

"Saat dia tidak obesitas maka risikonya berkurang," katanya melansir Antara Rabu (8/2/2/2023). 

Menurut Aman, bayi yang terlahir prematur atau memiliki berat badan lahir rendah ketika ia obesitas. Maka dia lebih berisiko terkena diabetes tipe 2 ketimbang bayi dengan berat badan lahir normal.

Dirinya juga mengingatkan orangtua agar tidak buru-buru meningkatkan berat badan anak mereka. 

"Peningkatan berat badan juga jangan terlalu banyak. Orang ingin cepat-cepat sekali meningkatkan berat badan, tidak usah. Ketika dikatakan gizi lebih atau obesitas, ya orang tua melakukan jangan sampai menjadi diabetes," ungkapnya.

Anak dengan diabetes umumnya memiliki gejala banyak buang air kecil (BAK), banyak minum, banyak makan, berat badan turun, lemas, dan yang semula tidak mengompol kembali mengompol.

"Kalau ada anak banyak makan, banyak minum, banyak kencing, berat badan turun, lemas dan tadinya tidak mengompol lalu mengompol lagi, hal pertama yang harus dipikirkan adalah diabetes dan ini boleh langsung diperiksa," jelasnya.

Diabetes tipe 2 pada anak umumnya akibat penerapan gaya hidup tak sehat termasuk konsumsi makanan dan minuman manis berlebihan dan kurangnya aktivitas fisik.

"Anaknya mager, main gawai melulu," katanya. 

Baca Juga: Lesti Kejora Dianggap Tiru Dinda Hauw, Gaya Kerudungnya Jadi Omongan: Kok Lehernya Kelihatan

Load More