/
Senin, 13 Maret 2023 | 12:08 WIB
Polisi tengah meninjau daerah longsoran tanah tebih Gunung Galunggung Tasikmalaya, Jawa Barat. Masyarakat dan wisatawan diimbau untuk tidak turun ke kawan. (Dok. ANTARA/HO-Polsek Sukaratu.)

SuaraSumedang.id - Aktivitas tanah longsor tebing di kawasan Perhutani Gunung Galunggung, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat kembali terjadi.

Longsoran tanah tebing Gunung Galunggung, Tasikmalaya itu terjadi imbas intensitas hujan yang tinggi, sehingga terjadi longsoran besar di daerah itu, dan menimpa sebagian kawah di bawahnya.

"Longsor itu berada di dinding sebelah barat. Dampak longsoranya sekitar 7 hektare," kata Manager Site Priangan Perhutani Tasikmalaya, Sumarsono saat dihubungi wartawan, Senin (13/3/2023).

Sumarsono menerangkan, longsoran tebing di kawasan Puncak Gunung Galunggung itu berdasarkan catatan sudah terjadi sejak tahun 2017.

Kemudian, dalam rentan waktu beberapa tahun kembali terjadi longsoran. Terakhir, kata Sumarsono, kejadian longsor pada Sabtu (11/3/2023), tengah malam, dan Minggu (12/3/2023) dini hari, yang menurut keterangan warga sempat menimbulkan suara gemuruh.

"Sekarang kejadian lagi pada malam minggu, longsoran itu ada lebihnya, ada suaranya. Menurut informasi kejadiannya jam 11 malam dan jam 5 pagi," katanya.

Ia menyampaikan, longsoran itu berada cukup jauh dari pemukiman penduduk, sehingga tidak mengancam bahaya bagi masyarakat.

Sejak terjadinya longsoran di Galunggung, lanjut Sumarsono, masyarakat dilarang turun ke bawah menuju kawah.

Apalagi meminum air danau yang ada di bawah, karena khawatir mengganggu kesehatan. 

Baca Juga: Bule Rusia Pengendara Lamborghini Aventador Domogatsky Kabur ke Dubai

"Sementara daerah itu kita tutup, tidak boleh ada yang turun ke bawah, ke kawah," ucap Sumarsono.

Sementara, Ketua Pos Pemantauan Gunung (PGA) Galunggung di Kecamatan Padakembang, Tasikmalaya, Gradita Frihadi menambahkan, longsoran itu terjadi di bagian dinding kawan puncak Gunung Galunggung, yang sudah terjadi sejak 2017, dan terakhir dengan longsoran cukup besar Sabtu (11/3/2023).

Sebelum kejadian longsoran yang baru ini, lanjut Gradita, dua pekan sebelumnya juga sempat ada longsoran.

Namun, skalanya kecil berbeda dengan yang kejadian terakhir membawa cukup banyak material longsoran dan menutupi sebagian kawah.

Ia mengungkapkan, hasil pantauan kejadian longsoran bukan karena adanya aktivitas gunung aktif, melainkan dampak dari intensitas hujan yang cukup tinggi di kawasan puncak.

"Dindingnya cukup curam, ada aliran air dari Kawah Purba, yang dimungkinkan menggerus dinding kawah tersebut," ucapnya.

Load More