Kali ini, peretas secara terbuka menantang Pemerintah Indonesia.
Dalam grup Telegram, Bjorka mengatakan bahwa ia menanti Pemerintah Indonesia ‘menghukumnya’.
Bjorka banyak membuat kehebohan di media sosial karena banyak membocorkan data-data penting.
Pertama kali ia mulai dikenal setelah membocorkan data yang diduga milik pelanggan Indihome.
Belum selesai sampai disitu, Bjorka juga membocorkan surat rahasia untuk Presiden Jokowi, termasuk dari Badan Intelijen Negara (BIN)
Data-data yang berhasil dia bobol lalu dijualnya dengan harga murah.
Untuk dapat membacanya dengan penuh, hanya perlu membayar mulai 8 kredit di forum breacher.to.
Dokumen-dokumen yang berhasil dicuri oleh Bjorka terdiri dari 679.180 data dengan kapasitas 40 MB (compressed) dan 189 MB (uncompressed).
Bjorka tidak merincikan harga jual untuk setiap dokumen yang dicurinya.
Baca Juga: Bawa 20 Pemain, PSIS Semarang Siap Curi Poin di Kandang Persita Tangerang
Namun, ia juga menyertakan sejumlah sampel atau contoh dokumen yang berhasil dibobol.
Tak hanya data-data kenegaraan saja yang berhasil dibobol oleh Bjorka.
Data yang berhasil bocor diperkirakan ada 1,3 miliar data.
Data ini berupa NIK, nomor ponsel, provider telekomunikasi, dan tanggal registrasi.
Kebocoran data SIM card ini memiliki ukuran berkas sebesar 87 GB
Dari hasil investigasi disebutkan tidak ada akses ilegal [ada masing-masing jaringan operator.
Hasil investigasi ini sudah dilaporkan kepada Kementrian Kominfo pada Kamis (8/9/2022)
Dari seluruh operator sebagai pengendali data, telah menerapkan sistem pengaman informasi sesuai dengan undang-undang.
Seluruh operator dipastikan patuh pada peraturan dan ketentuan perundang-undangan terkait keamanan dan kerahasiaan data.
Selain itu operator juga harus melaporkan data registrasi pelanggan aktif sesuai dengan format yang disyaratkan Kominfo.
Data ini dijual oleh Bjorka ke forum yang sama yaitu breached.to dengan harga 700 juta rupiah dan juga menyediakan data sampel yang bocor tersebut.
Diduga kebocoran data ini disebabkan bukan dari perusahaan operator, melainkan dari Kominfo.
Sedangkan Kementerian Kominfo menyatakan bahwa pihaknya tidak memiliki aplikasi menampung data registrasi prabayar dan pasca bayar.
Berdasarkan pengamatan atas penggalan data yang disebarkan oleh Bjorka, dapat disimpulkan bahwa data tersebut bukan berasal dari Kementrian Kominfo.
Lalu dari mana Bjorka mendapatkan data ini? Masih menjadi misteri.
Berita Terkait
Terpopuler
- 7 Skema Suami Dwi Sasetyaningtyas Kembalikan Dana Beasiswa LPDP
- Gerbang Polda DIY Dirobohkan Massa Protes Kekerasan Aparat, Demonstran Corat-coret Tembok Markas
- Setahun Andi Sudirman-Fatmawati Pimpin Sulsel, Pengamat: Kinerja Positif dan Tata Kelola Membaik
- Viral Bocah Beragama Kristen Ikut Salat Tarawih 3 Hari Berurut-turut, Celetukannya Bikin Ngakak
- 4 HP Motorola Harga Rp1 Jutaan, Baterai Jumbo hingga 7.000 mAh
Pilihan
-
John Tobing Sang Maestro 'Darah Juang' Berpulang, Ini Kisah di Balik Himne Reformasi
-
Pencipta Lagu 'Darah Juang' John Tobing Meninggal Dunia di RSA UGM
-
Hidup Tak Segampang Itu Ferguso! Ilusi Slow Living di Magelang yang Bikin Perantau Gulung Tikar
-
Hujan Gol, Timnas Indonesia Futsal Putri Ditahan Malaysia 4-4 di Piala AFF Futsal 2026
-
Mandiri Tunas Finance Terancam Sanksi OJK Buntut Debt Collector Tusuk Advokat
Terkini
-
Emil Audero dan Jay Idzes Saling Roasting Soal Pencapaian Karier
-
Ngeri! Bahas Fungsi Helm, 6 Fakta Petugas Damkar Khairul Umam Diancam Tak Selamat Sampai Lebaran
-
5 Resep Kue Kering Lebaran Tanpa Oven yang Praktis Dibikin di Rumah
-
Masih Optimis Juara, Tammy Abraham Peringatkan Arsenal dan Manchester City
-
PDIP Kritik RI Gabung Board of Peace Tanpa Persetujuan DPR, Singgung Biaya 8.000 Pasukan
-
Pesan Suara Misterius Menjelang Berbuka
-
Hitung-hitungan Timnas Futsal Putri Indonesia Lolos ke Semifinal AFF 2026
-
Manufaktur dan Pertanian Kunci Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
-
Tawarkan Paket Buka Puasa, Restoran Nonhalal di Semarang Tuai Kecaman
-
8 Fakta Dibalik Implementasi Pendidikan Khas Kejogjaan di Sekolah Yogyakarta