Cafu adalah satu-satunya pemain yang bermain di tiga final Piala Dunia FIFA.di bermain di edisi final Piala Dunia tahun 1994, 1998, dan 2002. Di edisi 1994, Cafu berhasil meraih juara Piala Dunia bersama timnas Brazil setelah bermain mengalahkan timnas Italia pada babak adu penalti. Pada saat itu, Cafu masuk menggantikan Jorginho di awal laga karena cedera.
Namun, Cafu gagal pada edisi final Piala Dunia pada tahun 1998 tatkala timnas Brazil dikalahkan Prancis dengan skor 3-0 pada final Piala Dunia tahun tersebut. Namun, kekalahan tersebut berhasil terobati 4 tahun kemudian di edisi Piala Dunia selanjutnya, di mana Brazil saat itu menjadi juara ketika menang di laga final mengalahkan Jerman dengan skor 2-0.
Cafu sendiri memegang rekor 142 caps bersama timnas Brazil dan bermain dalam 20 pertandingan di Piala Dunia FIFA. Sejak pensiun, dia mendedikasikan sebagian besar waktunya untuk pekerjaan kemanusiaan, di Italia, Mozambik, dan Sertão, wilayah semi-kering di timur laut Brazil. Dengan melakukan itu, dia menghargai kemampuan sepak bola untuk mengubah kehidupan orang.
Dalam edisi Piala Dunia tahun ini, Cafu memberi tahu kita tentang kekuatan permainan untuk membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik. "Sepak bola adalah salah satu alat terbaik untuk inklusi sosial yang ada di dunia. Jika ada sesuatu yang bisa menyatukan orang, berbeda budaya, itu adalah sepak bola," ujarnya.
“Sepak bola memiliki kekuatan magis. Anda dapat melihata bahwa seluruh dunia datang sekarang demi untuk menonton sebuah pertandingan sepak bola. Kami harus memanfaatkan momentum ini. Kami yang melakukan jenis pekerjaan ini, pekerjaan sosial, tahu seberapa besar sepak bola dapat mengubah hidup orang-orang,” ujarnya.
Salah satu kampanye yang dijalankan oleh FIFA, bekerja sama dengan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), adalah #Bringthemoves, yang bertujuan untuk mengajak generasi muda untuk lebih banyak berolahraga.
Dengan ketidakaktifan yang menjadi masalah kesehatan di seluruh dunia, Cafu menekankan pentingnya setiap orang berolahraga setiap hari, berapa pun usianya. "Aktivitas fisik penting tanpa memandang usia; untuk anak-anak, remaja, remaja, dewasa, tua, kakek, nenek, ibu dan ayah," katanya. "Saat ini, anak-anak semakin malas untuk berlatih olahraga......Olahraga harus menjadi hal sehari-hari, setiap orang harus memasukkannya ke dalam buku harian untuk berlatih olahraga, terutama anak-anak,".
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Rumor Cerai Nia Ramadhani dan Ardi Bakrie Memanas, Ini Pernyataan Tegas Sang Asisten Pribadi
- 5 Sepeda Murah Kelas Premium, Fleksibel dan Awet Buat Goweser
- 5 HP Murah RAM Besar di Bawah Rp1 Juta, Cocok untuk Multitasking
- 5 City Car Bekas yang Kuat Nanjak, Ada Toyota hingga Hyundai
- Link Epstein File PDF, Dokumen hingga Foto Kasus Kejahatan Seksual Anak Rilis, Indonesia Terseret
Pilihan
-
3 Emiten Lolos Pemotongan Kuota Batu Bara, Analis Prediksi Peluang Untung
-
CV Joint Lepas L8 Patah saat Pengujian: 'Definisi Nama Adalah Doa'
-
Ustaz JM Diduga Cabuli 4 Santriwati, Modus Setor Hafalan
-
Profil PT Sanurhasta Mitra Tbk (MINA), Saham Milik Suami Puan Maharani
-
Misi Juara Piala AFF: Boyongan Pemain Keturunan di Super League Kunci Kekuatan Timnas Indonesia?
Terkini
-
Siapa Jean Mota? Gelandang Incaran Persija yang Pernah Main Bareng Messi dan Suarez
-
Sinopsis Jangan Seperti Bapak, Film Aksi-Drama Zee Asadel yang Penuh Dendam
-
4 Sheet Mask Yuja, Berikan Efek Cerah dan Segar pada Kulit Kusam dan Lelah
-
86% Orang Indonesia Yakin 2026 Jadi Tahun Paling Sehat? Ini Rahasianya!
-
Terungkap Penyebab Indonesia Masih Tertinggal dari Malaysia untuk Perbankan Syariah!
-
Rumor Panas! Mantan Rekan Lionel Messi Gabung Persija Jakarta?
-
Maaf, Pintu Tertutup untuk Ragnar Oratmangoen
-
Prabowo Kumpulkan Eks Menlu: Apa Saja Poin Krusial Arah Politik Luar Negeri di Istana?
-
FPI Khawatirkan dan Pertanyakan Iuran Board of Peace
-
Omara Esteghlal Geram Prilly Diserang Sendirian, Brand Diuntungkan Tapi Artis Dikorbankan