/
Rabu, 03 Agustus 2022 | 01:01 WIB
Ketua TP PKK Provinsi Jawa Barat Atalia Ridwan Kamil. ((Foto: Biro Adpim Jabar))

TANTRUM – Program imunisasi Bulan Imunisasi Anak Nasional (BIAN) 2022 dipastikan halal dan aman, menurut Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Provinsi Jawa Barat Atalia Ridwan Kamil.

Imunisasi bagi anak tersebut, kata Atalia, sudah melalui proses panjang dan sangat jelas kehalalannya serta aman diberikan kepada anak. 

"Ini sudah melalui proses panjang jadi sudah jelas kehalalannya dan aman untuk semua," kata Atalia saat memberikan arahan kepada kader PKK secara virtual di Kantor PKK Jabar, Selasa (2/8/2022). 

Menurutnya, imunisasi BIAN seperti halnya vaksinasi COVID-19. Tubuh anak akan terproteksi dari serangan Campak, Polio dan Rubella yang sangat membahayakan. 

"Imunisai ini seperti COVID-19 untuk memproteksi anak-anak kita dari Campak, Polio dan Rubella," ucap Atalia.

Ia pun meminta kepada seluruh kader PKK di 27 kota/kabupaten untuk turun ke lapangan menyukseskan Bulan Imunisasi Anak Nasional (BIAN) yang sudah dimulai serentak sejak 1 Agustus 2022. 

Salah satunya dengan metode jemput bola membawa anak ke fasilitas pelayanan kesehatan di wilayahnya untuk menjalani imunisasi. 

"Semua kader PKK saya kasih PR khusus supaya anak-anak mau diimunisasi, maka harus turun ke lapangan kalau perlu jemput bola," ucap Atalia. 

BIAN merupakan program pemberian imunisasi tambahan Campak-Rubella untuk anak umur 9 bulan sampai kurang dari 12 tahun, serta imunisasi pelengkap Polio dan DPT-HB-Hib bagi anak umur 12 sampai 59 bulan. 

Baca Juga: Warga Dilarang Mendekat Dalam Radius 5 Kilometer, Gunung Anak Krakatau Meletus 3 Kali

Adapun manfaat imunisasi tersebut untuk mencegah kesakitan dan kecacatan akibat Campak, Rubella, Polio, Difteri, Pertusis, Hepatitis B, Pneumonia, dan Meningitis. 

Atalia menuturkan, metode jemput bola dilakukan karena ada masyarakat yang masih terpengaruh hoaks sehingga tak mau datang ke fasyankes. Salah satu hoaksnya menyebut imunisasi tidak halal dan membuat anak sakit. Karena itu, kader PKK harus memberikan edukasi dan informasi yang benar terkait BIAN. 

"Kenapa mereka tidak mau datang karena terpengaruh berita bohong, maka harus kita edukasi. Hoaksnya seperti tidak halal, anak jadi sakit. Itu sama sekali tidak benar," tutur Atalia. 

Load More