/
Rabu, 26 Oktober 2022 | 20:18 WIB
Ilustrasi anak Sekolah Dasar (SD), seragam sekolah (pixabay.com)

“Akhirnya uring-uringan (Para orangtua). Iya kalau punya uang disibukkan dengan les sana sini. Nah kalau yang pas-pasan ya anaknya di rumah saja. Pulang sekolah ya main bersama teman dan ngegame. Nanti salah pergaulan lagi, ngenes lagi orang tuanya. Saya nggak setuju,” tegas warga Jalan Bung Tomo Ngagel Surabaya ini.

Sementara Catur Irawan, ayah siswa SMP Muhammadiyah 5 Pucang kelas 7 setuju dengan kebijakan ini. Dia mengaku setuju karena waktu anak lebih banyak di sekolah dari pagi hingga sore. Sehingga tanpa PR anak punya banyak waktu untuk beristirahat atau bermain saat di rumah.

“Setuju, karena full day, terus dikasih PR istirahatnya kapan. Buat dia santai nggak ada. Jadi tugas diselesaikan di sekolah. PR terus setiap hari (diberikan),” kata warga Banyu Urip ini.

Sama halnya dengan Desi warga Manukan. Orangtua siswa SMPN 3 kelas 9 ini setuju PR ditiadakan. Apalagi digantikan dengan pendidikan karakter.

“Setuju untuk pendidikan karakter, karena anak saya full day pulangnya jam 15.00 WIB. Pendidikan karakter perlu sekali. Kalau dikasih PR itu waktunya tersita lagi, biar ada istirahatnya di rumah. Kemarin nggak ada PR bisa rileks dia,” jelasnya.

source: Satu Viral

Load More