Suara.com - Pada Oktober 2004, penggalian sisa tulang belulang di gua purba Liang Bua, Manggarai, Nusa Tenggara Timur, menghasilkan apa yang dijuluki sebagai "penemuan terpenting terkait evolusi manusia dalam 100 tahun terakhir".
Homo floresiensis, yang juga sering disebut manusia hobit dari Flores karena tingginya jauh di bawah manusia normal, diduga sebagai spesies baru yang tidak pernah dikenal sebelumnya dalam sejarah evolusi spesies manusia.
Tetapi sebuah hasil analisis ulang yang hasilnya diterbitkan dalam dua artikel di jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences edisi 4 Agustus silam menemukan bahwa fosil itu bukanlah spesies manusia baru.
Penelitian yang dilakukan oleh tim ilmuwan internasional yang melibatkan pakar evolusi Amerika Serikat, pakar anatomi dan patologi Australia, serta pakar geologi dan paleoklimatologi Cina menyatakan bahwa fosil Liang Bua itu adalah tulang belulang manusia yang tidak tumbuh secara normal, yang mirip dengan orang yang menderita down syndrome.
Kesimpulan awal yang menghasilkan temuan Homo floresiensis itu sendiri diambil berdasarkan analisis terhadap tengkorak dan tulang paha. Kedua sampel itu kemudian disebut sebagai LB1.
"Sampel tulang dari gua Liang Bua terdiri dari potongan dari beberapa individu. Hanya LB1 yang memiliki tengkorak dan tulang paha dari seluruh sampel itu," jelas Robert B. Eckhardt, pakar evolusi dan perkembangan genetik dari Pennsylvania State University, AS yang terlibat dalam riset itu.
Belum ada penemuan baru lagi di situs Liang Bua sejak penemuan LB1.
Tidak Unik
Adapun analisis awal dari Homo floresiensi fokus pada karakter anatomi LB1 yang unik: volume tengkorak hanya 380 milimeter kubik (sekitar sepertiga dari volume otak manusia modern) dan tulang paha pendek, yang jika direkonstruksi akan menghasilkan mahluk setinggi 1,06 meter.
Meski diperkirakan berasal dari 15.000 tahun lalu, jika dibandingkan dengan Homo erectus dan Australopithecus yang jauh lebih tua, karakter LB1 dinilai unik dan karenanya disimpulkan sebagai spesies baru.
Tetapi setelah dilakukan analisis ulang, khususnya dari segi studi klinis, para peneliti dalam temuannya menyimpulkan hasil yang berbeda.
Pertama, para peneliti menemukan bahwa fosil LB1 ternyata punya volume tengkorak lebih besar, sekitar 430 mm kubik. Volume itu mirip dengan volume tengkorak manusia modern penderita down syndrome di wilayah geografis di sekitar Flores. Volume tengkorak LB1 juga mirip dengan volume otak manusia dari ras Australomelanesian yang menderita down syndrome.
Sementara perhitungan tulang paha yang awalnya dibandingkan dengan rumus menghitung tinggi tubuh masyarakat pygmy di Afrika menurut para peneliti tidaklah istimewa. Alasannya karena manusia modern penderita down syndrome juga punya ciri tulang paha yang pendek.
"Hal yang tidak biasa tidak berarti unik. Ciri-ciri yang awalnya diutarakan tidak jarang ditemukan sehingga tidak bisa dijadikan patokan untuk menyimpulkan adanya spesies manusia baru," jelas Eckhardt.
Down Syndrome
Berita Terkait
Terpopuler
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Pelatih FC Twente Usir Mees Hilgers: Saya Tak Berharap Dia Kembali ke Klub!
- PIP Termin II 2026 Kapan Cair? Ini Jadwal Lengkap dan Cara Ceknya agar Dana Tidak Hangus!
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
Pilihan
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
Terkini
-
Menyoal PHK 178 Buruh Garmen di Cimahi, Dedi Mulyadi Minta Pekerja Fleksibel Ikuti Peta Industri
-
Kronologi Misteri Jasad Mutilasi dalam Karung di Pancoran Mas Depok
-
Final Piala Presiden 2026 Antara Persib vs Persebaya Digelar Tanpa Penonton, Ini Alasannya
-
Potongan Kaki Masih Dicari, Polisi Buru Motif Pelaku Mutilasi Pria Tanpa Identitas di Depok
-
Lawan Kejagung dan Polri, Sidang Perdana Praperadilan Febrie Digelar Usai HUT RI
-
Waktu Istirahat Minim Jelang Final, Pelatih Persib: Mari Kita Lihat Siapa yang Bisa Bertahan
-
Gubernur Andra Soni Sebut Gedung Baru DPD RI Rp4,1 M Kebutuhan Daerah, Bukan Senator
-
Pelaku Mutilasi Depok Semula Korban? Polisi Diminta Uji Klaim Percobaan Pelecehan
-
Soroti Kasus 46 Juta Obat Ilegal di Tangsel, DPR: Bongkar Mata Rantai Distribusi Sampai ke Akar!
-
BRI Perkuat Sinergi dengan Ditjenpas DIY Melalui Optimalisasi Layanan Pemasyarakatan