Tekno / Sains
Jum'at, 08 Agustus 2014 | 11:38 WIB
Ilustrasi manusia purba (Shutterstock).

Sebagai gantinya, para peneliti kemudian mengemukakan hipotesis baru. Mereka menduga fosil LB1 adalah manusia modern yang terdiagnosis mengidap down syndrome, salah satu masalah pertumbuhan yang paling sering ditemukan pada manusia modern.

"Saat pertama kali melihat tulang belulang itu, beberapa dari kami langsung melihat adanya masalah dalam pertumbuhan," kata Eckhardt.

Indikator down syndrome pertama yang terlihat adalah adanya pola asimetris pada tengkorak LB1. Artinya tengkorak kiri dan kanan fosil tidak sama dan hal ini lazim ditemukan pada penderita down syndrome.

Terkait tulang paha yang pendek, jelas Eckhardt, hal itu tidak saja sesuai dengan ciri pada penderita down syndrome, tetapi juga setelah dianalisis ulang panjang tulang paha LB1 ternyata lebih panjang. Jika direkonstruksi akan menghasilkan manusia setinggi 1,26 meter.

Di Flores dan wilayah lain di sekitar kawasan tenggara Indonesia, sambung Eckhardt, banyak ditemukan manusia yang tingginya sekitar 1,26 meter.

Meski demikian para peneliti menegaskan bahwa ciri-ciri down syndrome itu hanya ditemukan pada LB1 dan tidak pada fosil Liang Bua lainnya.

"Karya ini hanya untuk menguji hipotesis: Apakah tulang belulang dari gua Liang Bua cukup unik untuk menyimpulkan adanya spesies manusia baru?" ujar Eckhardt.

"Hasil analisis ulang kami menunjukkan jawaban: tidak. Penjelasannya adalah karena adanya kelainan pada pertumbuhan. Tanda-tanda yang ditemukan lebih menunjukkan pada down syndrome, yang bisa ditemukan pada lebih dari satu di setiap seratus kelahiran manusia di seluruh dunia," beber Eckhardt. (Phys.org)

Load More