Suara.com - Dunia mulai memasuki era sosial media. Makin banyak para pengembang atau developer aplikasi mengembangkan berbagai jenis sosial media, mulai dari Twitter, Facebook dan yang terbaru adalah Path.
Alhasil, sosial media pun mulai dijadikan sebagai corong atau wadah untuk warga yang ingin mengungkapkan opini atau pendapatnya.
Salah satunya adalah opini perihal kebijakan pemerintah seperti pembatasan kendaraan bermotor.
"Peraturan kan bisa menjadi cara untuk membentuk perilaku," kata Pandji Pragiwaksono di Jakarta, Kamis (26/2/2015).
Contoh seperti itu, lanjutnya, merupakan contoh mudah karena semua warga berhak dan bisa memberikan pendapatnya baik yang setuju maupun tidak.
"Salah satunya Melanie yang tidak setuju karena angkutan publik juga harus ditertibkan bukan hanya soal motor saja," lanjutnya.
Dengan banyaknya wadah untuk beropini ini, warga memiliki kesempatan untuk berkembang lebih baik dalam penyampaian opini.
"Bukan sekedar twitwar dan penyampaiannya juga harus sesuai dengan fakta dan santun," katanya.
Lebih lanjut, perkembangan sosial media ini harus menjadi kesempatan warga untuk berkembang dengan baik.
"Karena belum tentu diam itu emas. Apalagi kalau opini yang akan disampaikan itu bisa membawa perubahan," katanya.
Tag
Berita Terkait
-
Jaksa Agung Larang Anak Buah Ngonten Pakai Baju Dinas: Saya Tak Segan Pecat Kalian!
-
Puasa sebagai Jeda: Mengurai Burnout Digital di Bulan Ramadhan
-
Publik Figur dan Moral Publik: Sampai Mana Kita Berhak Menuntut Sempurna?
-
Vidi Aldiano Insecure Unggah Foto dan Video Terbaru di Sosmed, Tak Sanggup Dikomentari Netizen
-
Romantis tapi Kocak! Angga Yunanda dan Shenina Cinnamon Hanya Saling Follow di Instagram
Terpopuler
- Menteri Agama RI Nasaruddin Umar Disebut Mengundurkan Diri
- Partai Kaesang Tutup Pintu Rapat untuk Ketum Projo: Tempat Budi Arie Bukan di PSI
- Dilaporkan ke Bareskrim Polri, Gus Lilur Tantang 4 Tokoh NU Ngaji Kitab Kuning Saat Muktamar
- Desil Tak Akurat Bisa Bikin Warga Kehilangan Hak Bansos!
- AMPB Pulang Usai Audiensi DPR, Relawan Ojol Curiga Ada Kesepakatan Transaksional
Pilihan
-
Diseret dari Gang ke Jalan! Kronologi Pedagang Cermin Tewas Dikeroyok Saat Demo Ricuh
-
Senayan Kondusif: Tol Dalam Kota Normal dan Blokade Jalan Dibuka Pasca Bentrok 27 Agustus
-
Ada Isu Aksi Demo Lanjutan, BEI Minta Investor Tak Panik
-
Admin Medsos dan Pengkritik Jadi Target Penangkapan Jelang Demo Agustus
-
3 Pesawat Tempur F16 'Rally' di Langit Jakarta Jumat Pagi, Ini Klarifikasi TNI AU
Terkini
-
21 Ribu Warga Yogyakarta Terdampak Perubahan Desil, Wali Kota Siapkan Refocusing Anggaran
-
Doa Shin Tae-yong: Semoga Ada Solusi Terbaik buat Jakmania dan Manajemen Persija
-
Persib Bandung Wajib Waspada! Teja Paku Alam Ungkap Ancaman Serangan Balik Manila Digger
-
Bisikan Sang Ayah Bikin Agil Bangkit, Mahasiswa UT Ini Raih Podium Campus League
-
Penanganan Karhutla Jangan Cuma Hitung Luasan, Pakar UGM Soroti Habitat Satwa
-
Kader PDIP Jadi Tersangka Kasus Intimidasi Dokter Icha di NTT, Hasto Buka Suara
-
Tangis Pecah Gus Yahya, LPJ PBNU 2021-2026 Diterima Muktamar ke-35 NU
-
Penuhi Panggilan sebagai Saksi, BPKH Tegaskan Komitmen Dukung Penegakan Hukum
-
Simak Rekayasa Lalu Lintas dan Lokasi Parkir Merdeka Run 81 Tahun Indonesia Besok
-
Geger Skandal Sekpri vs Wabup Sumedang: Rumah Dinas Jadi Sorotan, Pemprov Turun Tangan