4. Musim Bimasakti
Musim Bimasakti dimulai pada Maret hingga Oktober dengan waktu pengamatan terbaik adalah mulai dari akhir April hingga akhir bulan Juli.
Musim melihat Bimasakti terjadi karena bidang tata surya berada pada sudut sekitar 63 derajat ke bidang galaksi, hal ini berarti benda-benda di tata surya berputar pada sudut yang hampir tegak lurus dibandingkan dengan sudut rotasi semua benda di Bimasakti secara keseluruhan.
Secara praktis, Bimasakti juga akan muncul pada sudut yang berbeda di langit malam tergantung pada bulan di sepanjang tahun.
Karena Bumi berevolusi mengelilingi Matahari dan letak bentangan Bimasakti berpindah-pindah, pada bulan Maret pengamat sudah bisa mulai mengamati bentangan Bimasakti, di mana Bimasakti akan berada di arah rasi bintang Sagitarius dan Skorpius. Kedua bintang tersebut terbit mulai tengah malam di Maret 2019.
Untuk melihat bentangan Bimasakti, pengamat cukup menghindari polusi cahaya dan lokasi tempat pengamatan harus memiliki cuaca yang cerah.
5. Ekuinoks Maret
Ekuinoks terjadi dua kali dalam setahun, di mana pada 2019 ini terjadi pada 21 Maret ketika sumbu Bumi tidak teinklinasi terhadap Matahari dan pusat Matahari berada di bidang yang sama dengan khatulistiwa Bumi.
Ekuinoks terjadi karena poros putaran Bumi miring pada sudut 23,5 derajat terhadap bidang orbitnya mengelilingi Matahari. Menurut time and date, ekuinoks bulan Maret menandai hari pertama musim semi di Bumi belahan utara dan hari pertama musim gugur di Bumi belahan selatan. Pada hari ekuinoks terjadi, periode waktu siang dan malam di Bumi akan hampir sama persis 12 jam.
Baca Juga: Xiaomi Tunda Peluncuran Mi Watch Premium Edition
6. Elongasi barat terjauh Merkurius
Dalam astronomi, istilah elongasi merupakan pemisahan sudut antara sebuah planet dengan Matahari dengan Bumi sebagai titik acuan. Semakin besar angka sudut elongasi sebuah planet, maka semakin jauh posisinya di langit Bumi dari Matahari sehingga dapat diamati ketika Matahari telah terbenam.
Menurut In the Sky, Merkurius mencapai sudut elongasi barat terjauh dari Matahari pada 12 April 2019, bersamaan dengan peristiwa hujan meteor Virginid. Peristiwa elongasi ini dapat diamati mulai pukul 05:00 waktu setempat di Indonesia.
Merkurius tampak seperti bintang kuning kecil yang tidak berkelap-kelip di langit timur. Merkurius mencapai ketinggian maksimum 25 derajat di atas cakrawala timur saat Matahari terbit.
Menariknya, saat Merkurius mencapai elongasi barat terjauhnya, planet tersebut bersebelahan dengan Venus. Untuk membedakannya, Venus akan bersinar lebih terang daripada Merkurius.
7. Aphelion Bumi
Ketika mengelilingi Matahari, Bumi bergerak dalam jalur orbit berbentuk elips. Hal tersebut mengakibatkan Bumi terkadang berada di jarak terdekat dari Matahari atau yang disebut dengan perihelion, dan berada di jarak terjauh Matahari atau aphelion.
Aphelion Bumi terjadi pada 5 Juli 2019. Saat aphelion, jarak Bumi ke Matahari akan berada sekitar 1,02 AU di mana 1 AU setara dengan 150 juta kilometer.
Meskipun berada dalam jarak terjauh dan Matahari akan terlihat tampak lebih kecil di langit, namun perbedaan jarak tersebut hanya sebesar 3 persen.
Cuaca di Bumi pun juga tidak akan terpengaruh karena berada di jarak terjauh dari Matahari karena perubahan cuaca disebabkan oleh kemiringan sumbu rotasi Bumi, bukan oleh perubahan jarak Bumi dari Matahari.
8. Oposisi Saturnus
Bulan Juli adalah waktu terbaik untuk mengamati Saturnus karena planet bercincin itu mencapai jarak terdekatnya dengan Bumi pada 9 Juli 2019.
Pada tanggal itu, Saturnus terletak pada jarak 9,03 AU dari Bumi dan muncul dengan diameter sudut selebar 18,4 detik busur.
Saturnus menampakkan dirinya lebih terang dan terlihat seperti bintang yang tidak berkelap-kelip. Namun, untuk bisa melihat cincin Saturnus, pengamat masih harus memerlukan bantuan teleskop.
9. Solstis Desember
22 Desember menjadi hari terpanjang di tahun 2019 untuk belahan Bumi selatan karena merupakan hari pertengahan musim panas. Sementara di belahan Bumi utara akan menjadi hari terpendek karena hari pertengahan musim dingin.
Ini merupakan peristiwa ketika gerak tahunan Matahari melalui rasi bintang zodiak mencapai titik paling selatan di langit, tepatnya di depan rasi bintang Koprikornus yang disebut dengan solstis.
Saat Solstis Desember terjadi, wilayah-wilayah di belahan Bumi selatan akan mengalami siang hari yang lebih panjang dari biasanya. Sementara itu, wilayah-wilayah di belahan Bumi utara akan mengalami malam hari yang lebih panjang.
Peristiwa ini terjadi karena poros rotasi Bumi terhadap Matahari tidak tegak lurus, melainkan miring sekitar 23,5 derajat. Kemiringan ini bisa menyebabkan salah satu belahan Bumi lebih condong tersinari Matahari daripada belahan Bumi lainnya.
10. Gerhana Matahari Cincin
Gerhana Matahari Cincin menjadi peristiwa langit yang menutup tahun 2019. Terjadi pada 26 Desember 2019, wilayah Indonesia akan berkesempatan melihat fenomena ini. Gerhana ini sendiri merupakan Gerhana Matahari ketiga dan terakhir 2019.
Meski terlihat dari langit Indonesia, tapi tidak semua wilayah di Indonesia berkesempatan melihat Gerhana Matahari Cincin ini.
Jalur Gerhana Matahari Cincin ini melintasi negara-negara seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Oman, India, Srilangka, India, Indonesia, Malaysia, dan Guam. Sementara wilayah Indonesia yang dapat melihat Gerhana ini adalah sebelah timur laut Pekanbaru, dekat Pulau Pedang.
Para pengamat bisa mengamati hingga 94,11 persen wajah Matahari yang terhalang Bulan saat puncak terjadi dengan durasi mencapai 3 menit 39 detik. Gerhana Matahari Cincin ini pertama kali akan menyentuh wilayah Indonesia dari Pulau Simeulue pukul 10:05 WIB lalu menuju Pulau Nias, Aceh Singkil, Sumatera Utara, Riau, Pulau Batam, dan Pulau Bintan.
Wilayah di Pulau Kalimantan juga akan menjadi jalur Gerhana Matahari Cincin. Pengamat masih bisa melihatnya sampai pukul 13:31 WIB.
Berita Terkait
Terpopuler
- Bedak Wardah Apa yang Cocok untuk Usia 40 Tahun? Ini 5 Rekomendasi Terbaik agar Flawless dan Fresh
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- Persib dan Persija Dikabarkan Tak Lolos IPO di Bursa Efek Indonesia
- Perbedaan Eau De Parfum dan Eau De Toilette, Mana yang Sesuai Kebutuhanmu?
Pilihan
-
Laporkan Hotman Paris ke Polda Metro, PWI Ragukan Ketulusan Permohonan Maaf Sang Pengacara
-
Mendukung Working Mom Mengelola Keuangan Keluarga Lebih Efisien dengan AstraPay
-
Usai Nobar Final Piala Dunia, Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini Kena OTT KPK
-
Menteri PU Dody Hanggodo Bakal Dicopot Agustus? 'Prabowo Tak Suka Menteri yang Bikin Gaduh'
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
Terkini
-
FIFA Buka Voting Tim Terbaik Piala Dunia 2026: Argentina Sumbang 5 Pemain, Spanyol?
-
Dari Pameran Kudatuli, Megawati Titip Pesan untuk Generasi Muda Indonesia
-
Kasus Dugaan Penculikan Atlet Golf Jesslyn Wijaya, Polisi Telusuri Perjalanan hingga Kuala Lumpur
-
Bukan Sekedar Catatan Masa Lalu, Peristiwa Kudatuli Merupakan Simbol Perjuangan Lawan Ketidakadilan
-
Usut Aliran Rp 91 Miliar Suap Bea Cukai, KPK Tetapkan Tersangka Baru
-
Korupsi Disebut Kejahatan HAM, Mengapa Hak Korban Belum Jadi Perhatian?
-
Aksesori Estetik Makin Digemari, Ini Tempat Belanja Lengkap Incaran Reseller hingga Jastiper
-
Salah Setting Aplikasi Navigasi, Pemotor RX-King Nekat Masuk Tol Jagorawi
-
Anggaran Jasa Belanja Tenaga Ahli Banten Tembus Rp55,47 Miliar, Kepala BPKAD Mengaku Kaget
-
Jembatan di Serang Mulai Dibangun Andra Soni Usai 25 Tahun Tak Tersentuh Perbaikan