Suara.com - Robot telah menjadi bagian teknologi modern untuk membantu umat manusia, salah satunya dalam bidang kesehatan. Namun, apakah robot bisa menjadi sumber daya yang efektif dalam memerangi virus Corona (COVID-19)?
Robot memiliki potensi dikerahkan untuk desinfeksi, memberikan obat-obatan dan makanan, mengukur tanda-tanda vital, dan membantu mengontrol perbatasan.
Saat epidemi meningkat, peran potensial robot semakin jelas. Selama wabah Ebola tahun 2015, lokakarya yang diselenggarakan oleh White House Office of Science and Technology Policy dan National Science Foundation, mengidentifikasi tiga bidang di mana robot dapat mengambil peran, yaitu perawatan klinis (misalnya telemedicine dan dekontaminasi), logistik (misalnya pengiriman dan penanganan limbah yang terkontaminasi), dan pengintaian (misalnya pemantauan selama karantina).
Namun, dengan munculnya wabah COVID-19 telah memperkenalkan bidang keempat peran robot, mengingat tenaga medis bisa terpapar dengan kontak langsung orang yang terinfeksi. Bidang tersebut adalah kesinambungan pekerjaan dan pemeliharaan fungsi sosial ekonomi.
Pandemi COVID-19 telah memengaruhi manufaktur dan ekonomi di seluruh dunia. Hal ini menyoroti perlunya penelitian lebih lanjut tentang operasi jarak jauh untuk beragam aplikasi.
Masing-masing bidang tersebut memiliki perkembangan luas dan peluang unruk dieksplorasi dalam robotika. Dalam kasus perawatan klinis, bidang-bidang yang memiliki kepentingan khusus termasuk pencegahan penyakit, diagnosis dan skrining, dan perawatan pasien serta manajemen penyakit.
Sementara untuk pencegahan penyakit, disinfeksi permukaan robot yang dikendalikan non-kontak ultraviolet (UV), sedang digunakan karena virus COVID-19 menyebar tidak hanya dari orang ke orang melalui tetesan air liur, tetapi juga melalui permukaan yang terkontaminasi.
Virus Corona dapat bertahan pada permukaan seperti logam, gelas, atau plastik selama berhari-hari dan perangkat sinar UV, seperti PX-UV telah terbukti efektif dalam mengurangi kontaminasi pada permukaan di rumah sakit.
Alih-alih desinfeksi manual, robot disinfeksi otonom atau yang dikendalikan dari jarak jauh dapat bekerja lebih cepat, hemat biaya, dan efektif. Sedangkan robot seluler dapat digunakan untuk bidang diagnosis dan skrining, dengan melakukan pengukuran suhu di area publik, bandara, stasiun, hingga pelabuhan.
Baca Juga: Kabar Baik, Ilmuwan Sebut Lapisan Ozon Mulai Pulih
Dengan menggunakan sistem kamera otomatis, robot seluler dapat digunakan untuk menyaring banyak orang secara bersamaan di area yang luas. Memasukkan sensor termal dan algoritma penglihatan ini ke robot yang dioperasikan secara otonom, dapat meningkatkan efisiensi dan cakupan penyaringan.
Robot seluler ini juga dapat digunakan untuk memonitor suhu rawat inap di berbagai area rumah sakit, dengan data yang terkait dengan sistem informasi rumah sakit. Memanfaatkan jaringan sistem keamanan dengan perangkat lunak pengenal wajah, robot dapat melacak kontak orang yang terinfeksi untuk mengingatkan orang lain yang mungkin berisiko terinfeksi.
Sedangkan untuk pengujian diagnostik awal, sebagian negara merekomendasikan pengumpulan dan pengujian nasopharyngeal dan oropharyngeal swab, termasuk pengumpulan sampel, penanganan, transfer, dan pengujian.
Dalam pandemi besar ini, masalah utama adalah kurangnya tenaga medis yang memenuhi syarat untuk melakukan tes swab dan memproses sampel. Dengan bantuan robot, itu akan mempercepat proses, mengurangi risiko infeksi, dan tenaga medis dapat melakukan tugas lainnya.
Di sisi lain, drone otonom atau kendaraan darat dapat digunakan untuk transfer sampel serta pengiriman obat-obatan untuk pasien yang terinfeksi.
Sementara dalam segi karantina pasien, robot sosial dapat dikerahkan untuk menemani dan berinteraksi dengan pasien agar tidak merasa sendirian selama masa karantina sehingga tidak berdampak negatif pada kesehatan mental.
Berita Terkait
-
Hanya 2 Hari, Tenaga Medis di Jakarta Positif Corona Naik Jadi 81 Orang
-
Berlapis-lapis, Dokter China Tunjukkan Cara Pakai APD sebelum 'Perang'
-
Kocak! Tenaga Medis Punya Cara Unik Menghibur Diri
-
#ClapforOurCarers, Kampanye Ungkapan Terima Kasih untuk Tenaga Medis
-
Miris! Tenaga Medis RS Persahabatan Ditolak Warga di Wilayah Domisilinya
Terpopuler
- 5 Sampo Uban Sachet Bikin Rambut Hitam Praktis dan Harga Terjangkau
- 5 HP Helio G99 Termurah di Awal Tahun 2026, Anti Lemot
- 6 Rekomendasi HP OPPO Murah dengan Performa Cepat, RAM 8 GB Mulai Rp2 Jutaan
- 5 Rekomendasi Sepatu Adidas untuk Lari selain Adizero, Harga Lebih Terjangkau!
- 28 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 10 Januari 2026, Ada 15.000 Gems dan Pemain 111-115
Pilihan
-
6 HP Murah dengan Kamera Terbaik Januari 2026, Harga Mulai 2 Jutaan
-
Cek Fakta: Yaqut Cholil Qoumas Minta KPK Periksa Jokowi karena Uang Kuota Haji, Ini Faktanya
-
Kontroversi Grok AI dan Ancaman Kekerasan Berbasis Gender di Ruang Digital
-
Hasil Akhir: Kalahkan Persija, Persib Bandung Juara Paruh Musim
-
Babak Pertama: Beckham Putra Bawa Persib Bandung Unggul atas Persija
Terkini
-
Kreator Digital Butuh Kecepatan Tinggi, Ini Solusi Penyimpanan untuk Konten 4K hingga 8K
-
4 HP Asus RAM 8 GB Paling Murah untuk Gaming, Performa Cepat Mulai Rp5 Jutaan
-
Moto Pad 60 Pro vs Huawei Matepad 12X 2026 Mana Paling Worth It? Selisih Rp4 Juta, Spek Beda Tipis
-
Lenovo Pamer ThinkPad X9 15p Aura Edition di CES 2026, Laptop AI Berperforma Kelas Desktop
-
Daftar Harga HP Xiaomi Januari 2026, Cek Seri yang Naik dan Turun Harga
-
Tecno Spark Go 3 Rilis Pekan Ini: HP Murah Sejutaan Mirip iPhone Berfitur Tangguh
-
6 HP Murah dengan Kamera Terbaik Januari 2026, Harga Mulai 2 Jutaan
-
8 Prediksi Kaspersky, Bagaimana AI Menjadi Ancaman dan Pertahanan Siber Ini Wajib Dilakukan
-
4 HP Infinix RAM 8 GB Paling Murah, Spek Tinggi Mulai Rp1 Jutaan
-
Bocoran Panas Xiaomi 17 Max: Meluncur April, Kencang Bak Pro tapi Tanpa Fitur Ini!