Suara.com - Para peneliti dari Technical University of Denmark (DTU) baru saja menemukan terobosan medis yang bisa menyelamatkan ribuan nyawa setiap tahun. Mereka berhasil menciptakan antivenom baru yang mampu melawan bisa dari 17 spesies ular berbisa paling mematikan di Afrika sub-Sahara, termasuk mamba hitam, kobra, dan rinkhals.
Temuan yang dipublikasikan di jurnal Nature ini dianggap sebagai langkah besar dalam dunia pengobatan gigitan ular, terutama bagi masyarakat pedesaan Afrika yang sering menjadi korban.
Setiap tahun, lebih dari 300 ribu kasus gigitan ular berbisa dilaporkan di wilayah tersebut, menyebabkan sekitar 7.000 kematian dan 10.000 amputasi.
Selama lebih dari 100 tahun, cara membuat antivenom hampir tidak berubah. Metode tradisional dilakukan dengan menyuntikkan bisa ular ke tubuh kuda, lalu mengambil antibodi dari plasma darahnya untuk dijadikan obat.
Meskipun cara ini telah menyelamatkan banyak nyawa, efek sampingnya bisa parah karena antibodi dari hewan bisa memicu reaksi alergi berat pada manusia.
"Antivenom tradisional memang efektif, tetapi banyak pasien mengalami syok akibat zat asing dari hewan yang masuk ke tubuh mereka," ujar Shirin Ahmadi, peneliti pengembangan antibodi dari DTU, mengutip dari The Scientist (29/10/2025).
Selain itu, jumlah antibodi yang benar-benar berguna di dalam obat biasanya kecil karena tercampur dengan antibodi lain yang tidak menetralkan racun.
Untuk mengatasi masalah itu, tim Ahmadi mengembangkan antivenom berbasis nanobody, yakni antibodi super kecil yang diambil dari llama dan alpaka. Hewan ini memiliki antibodi unik bernama camelid heavy-chain-only antibodies, yang hanya memiliki satu domain — jauh lebih sederhana, cepat bekerja, dan lebih stabil dibanding antibodi manusia atau kuda.
Penelitian dimulai dengan menyuntikkan bisa dari 18 spesies ular Afrika ke seekor llama dan seekor alpaka. Tubuh kedua hewan tersebut kemudian menghasilkan jutaan antibodi kecil, yang kemudian disaring dan diuji untuk melihat mana yang paling efektif menetralkan racun.
Baca Juga: Bupati Indramayu Siapkan 10 Ribu Ekor Ular
Hasilnya, tim menemukan delapan nanobody terbaik yang mampu melindungi tikus dari kematian akibat bisa 17 dari 18 spesies ular, kecuali mamba hijau timur (Dendroaspis angusticeps). Dalam uji laboratorium, kombinasi delapan nanobody ini bahkan mengungguli Inoserp PAN-AFRICA, antivenom komersial yang selama ini digunakan di banyak rumah sakit Afrika.
Lebih mengejutkan lagi, nanobody ini tidak hanya mencegah kematian akibat racun, tetapi juga mengurangi kerusakan jaringan yang biasanya menyebabkan amputasi.
"Beberapa tahun lalu, saya takkan percaya kalau sejumlah kecil antibodi bisa menetralkan racun dari begitu banyak spesies," kata Kartik Sunagar, peneliti racun ular dari Indian Institute of Science mengutip dari The Scientist (29/10/2025). "Namun hasil ini membuktikan bahwa hal itu sangat mungkin."
Keunggulan utama dari antivenom baru ini bukan hanya efektivitasnya, tetapi juga cara produksinya. Karena dibuat secara rekombinan di laboratorium (in vitro), produksi nanobody tidak lagi membutuhkan hewan besar seperti kuda dan bisa dilakukan dalam jumlah besar dengan biaya lebih murah.
Menurut Anne Ljungars, ahli bioteknologi dari DTU yang ikut dalam penelitian, nanobody memiliki kelebihan lain yang sangat penting. "Mereka kecil, stabil, dan tetap efektif bahkan di suhu tinggi, sehingga cocok untuk daerah tropis yang minim fasilitas penyimpanan dingin," demikian hasil temuannya.
Selain itu, risiko efek samping juga jauh lebih rendah karena nanobody memiliki imunogenisitas rendah, artinya lebih aman digunakan dan bahkan bisa diberikan sebelum gejala gigitan muncul, bukan setelah korban mulai menunjukkan tanda-tanda keracunan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Jadwal Pemadaman Listrik PLN Kamis 18 Juni 2026 Wilayah Jogja Jateng, Cek Daftar Lokasinya
- Motor Baru Harley-Davidson Harga Cuma Rp40 Jutaan, Tenaga Setara Motor 250cc
- 4 Rekomendasi Tablet Mini Serbaguna: Nyaman Digenggam, Muat Tas Kecil
- Viva Sunscreen Foundation SPF Berapa? Banyak Dapat Review Positif dari Pengguna
- KPK Ungkap Dugaan Modus 'Pinjam Bendera' di Proyek Gedung Pemkab Lamongan Rp151 Miliar
Pilihan
-
Dasco di Mobil Komando Aksi: Aspirasi Kawan-kawan Sudah Disampaikan, Hidup Mahasiswa!
-
Bukan Sekadar Karaoke, Orutaku Club Jadi Mesin Waktu Bagi Wibu Generasi 90-an
-
Kejagung Tetapkan Glory Harimas Sihombing Tersangka, Dugaan Jual Beli Titik Dapur MBG Terungkap
-
Wamensesneg Terluka Kena Batu, Kivlan Zen Berdarah Saat Eksekusi Hotel Sultan GBK Ricuh
-
Ketegangan Memuncak di Hotel Sultan: Eksekusi Lahan Jadi Arena Perlawanan
Terkini
-
Lenovo ThinkPad Disebut Siap Hadapi Kondisi Ekstrem, Apa Rahasianya?
-
3 Pilihan HP Samsung Rp2 Jutaan dengan RAM dan Kamera Terbaik
-
Meta Siapkan Fitur AI dan Live Chat untuk Piala Dunia 2026
-
6 HP Mulai Rp1 Jutaan dengan Kamera Ultrawide Jernih, Hasil Foto Luas dan Tajam
-
Galaxy S26 Ultra Jadi Andalan Bernadya, Ini Rahasia Mengabadikan Momen Kreatif Tanpa Takut Terlewat
-
6 Tips Memilih HP Rp1 Jutaan Terbaik agar Tak Salah Beli di 2026
-
Lenovo Bawa Solusi AI End-to-End ke Indonesia, Siap Percepat Transformasi Digital Perusahaan
-
5 HP dengan Baterai 6000 mAh Cuma Rp1 Jutaan, Awet Seharian Tanpa Khawatir Lowbat
-
Komdigi Bongkar 9.263 Kasus Pembajakan Digital, Situs Ilegal Jadi Ancaman Terbesar Industri Kreatif
-
47 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 19 Juni 2026: Ambil Paket VIP Sebelum Berburu Del Piero Murah