Tekno / Tekno
Jum'at, 20 Februari 2026 | 08:44 WIB
Ilustrasi AI atau Artificial Intelligence. (Freepik)
Baca 10 detik
  • Investasi AI di Asia Tenggara diproyeksikan berkontribusi signifikan pada PDB, dengan tahun 2026 diprediksi menjadi titik utama "production AI" kawasan.
  • NetApp memamerkan platform data untuk mengakselerasi implementasi AI skala produksi, mengatasi kompleksitas data, keamanan, dan regulasi di ASEAN.
  • Inovasi infrastruktur AI baru NetApp fokus pada skalabilitas linear, data selalu terkini, siap untuk superkomputasi, serta ketahanan siber terintegrasi.

Suara.com - Gelombang investasi kecerdasan buatan (AI) di Asia Tenggara kian tak terbendung. Di tengah proyeksi lonjakan adopsi AI yang disebut-sebut bisa menyumbang hampir 1 triliun dolar AS terhadap PDB kawasan pada 2030.

Perusahaan infrastruktur kecerdasan data global, NetApp, memaparkan visi terbaru platform datanya dalam ajang INSIGHT Xtra Singapore 2026.

Fokus utamanya adalah mempercepat pipeline data AI agar perusahaan ASEAN mampu naik kelas dari sekadar proyek percontohan menuju implementasi AI skala produksi, tanpa mengorbankan keamanan, kepatuhan regulasi, maupun efisiensi biaya.

2026 Disebut Jadi Tahun “Production AI” ASEAN

Kawasan ASEAN dinilai berada di titik infleksi krusial. Investasi AI kini tumbuh lebih cepat dibandingkan belanja digital secara keseluruhan. Namun, jalan menuju AI skala besar bukan tanpa tantangan.

“Tahun 2026 diproyeksikan menjadi tahun ‘production AI’ bagi kawasan ASEAN. Namun realitasnya, perusahaan masih menghadapi tantangan besar dalam menskalakan beban kerja di lingkungan yang kompleks, menyiapkan data agar siap untuk AI, melindungi dari ancaman siber, sekaligus tetap mematuhi regulasi kedaulatan data,” ujar Henry Kho, Area Vice President & General Manager GCASK (Greater China, ASEAN & South Korea), NetApp.

Ia menegaskan bahwa kunci transformasi bukan hanya pada algoritma, melainkan pada fondasi data.

“Melalui platform data kami, perusahaan dapat membangun Infrastruktur Kecerdasan Data yang tangguh, dengan tata kelola dan ketahanan siber yang terintegrasi langsung di lapisan data. Ini memberi keyakinan bagi pemimpin bisnis ASEAN untuk memaksimalkan potensi data mereka,” tegasnya dalam keterangan resminya, Jumat (20/2/2026).

Tantangan ASEAN: Regulasi Terfragmentasi dan Hybrid Jadi Standar

Baca Juga: 5 Cara Membuat Sketsa Jodoh di Amora untuk Lihat Prediksi Wajah Pasangan

Berbeda dengan kawasan lain, ASEAN memiliki lanskap regulasi yang beragam dan tingkat kesiapan cloud yang tidak merata.

Akibatnya, arsitektur hybrid dan on-premise tetap menjadi pilihan utama, terutama di sektor jasa keuangan, layanan kesehatan, dan sektor publik.

Industri-industri tersebut dituntut menghadirkan real-time insight berbasis AI, sembari tetap mematuhi aturan kedaulatan data dan tata kelola yang ketat.

Menskalakan AI di lingkungan seperti ini membutuhkan lebih dari sekadar performa tinggi. Infrastruktur harus resilien, terkelola, dan berkelanjutan secara ekonomi agar lonjakan data tidak berubah menjadi hambatan inovasi.

Empat Pilar Infrastruktur AI Generasi Baru

Untuk menjawab kebutuhan tersebut, perusahaan ini memperkenalkan sejumlah inovasi yang dirancang membangun fondasi AI yang bertanggung jawab dan siap produksi.

Load More