Tekno / Game
Kamis, 19 Maret 2026 | 15:10 WIB
Ilustrasi GTA 6. (Rockstar)
Baca 10 detik

Project Genie Google picu kepanikan investor hingga saham Take-Two sempat anjlok.

CEO Take-Two tegaskan AI Google tak bisa buat game sekelas GTA.

Kreativitas manusia tetap kunci utama, AI hanya berperan sebagai alat bantu.

Suara.com - Kemunculan Project Genie dari Google, sebuah AI yang mampu menciptakan dunia game hanya dari perintah teks, sempat membuat panik para investor.

Harga saham perusahaan game raksasa seperti Unity, Nintendo, hingga Take-Two (penerbit Grand Theft Auto) sempat anjlok.

Banyak yang khawatir jika teknologi ini akan mendisrupsi industri dan membuat developer besar menjadi tidak relevan.

Namun, CEO Take-Two, Strauss Zelnick, justru punya pandangan skeptis serta sangat berbeda.

Menurutnya, gagasan bahwa AI (Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan) bisa menciptakan game sukses sekelas GTA hanya dengan menekan tombol adalah hal yang mustahil.

Zelnick terkejut dengan reaksi pasar yang melihat AI sebagai ancaman. Baginya, teknologi ini adalah alat bantu yang menguntungkan.

Ilustrasi Game GTA 6. (Rockstar Games)

“Saya agak terkejut dengan reaksi pasar, karena reaksi pasar seolah melihatnya sebagai ancaman terhadap apa yang kami lakukan, padahal jelas sekali bahwa alat kreasi bermanfaat bagi industri kami,” ujarnya.

Ia menganalogikan AI seperti program pembuat musik instan. Hasil olahan AI mungkin terdengar seperti lagu, tapi tidak memiliki kedalaman untuk dinikmati berulang kali.

Kreativitas manusia tetap menjadi kunci utama untuk menghasilkan sebuah karya yang fenomenal.

Baca Juga: Resident Evil Requiem Pecahkan Rekor Penjualan Tercepat, Capcom Siapkan Konten Baru

Ketika ditanya apakah alat seperti Project Genie dapat menyamakan kedudukan bagi siapa saja yang ingin membuat game selevel Grand Theft Auto, Zelnick menjawab dengan tegas: “Sama sekali tidak.”

Ia menjelaskan bahwa saat ini sudah banyak teknologi memudahkan pembuatan game.

Namun nyatanya, game yang sukses besar hampir selalu datang dari perusahaan hiburan raksasa.

Menurut Zelnick, membuat aset visual yang bagus dengan AI itu mudah, tetapi merangkainya menjadi sebuah game hit adalah tantangan yang sama sekali berbeda.

Gagasan bahwa entah bagaimana alat-alat baru akan memungkinkan seseorang untuk menekan sebuah tombol dan menghasilkan sebuah karya yang sukses dan menjangkau jutaan konsumen di seluruh dunia, itu adalah gagasan yang menggelikan,” tegas Zelnick dikutip dari TheGameBusiness dan TechPowerUp.

Ia menekankan bahwa menciptakan game sebesar NBA 2K atau Grand Theft Auto membutuhkan sentuhan, visi, dan kreativitas manusia yang tidak akan pernah bisa digantikan oleh algoritma berbasis data masa lalu.

Load More