- MultiRealm Games mempercepat ekspansi global sejak 2024 dengan mengandalkan teknologi pembayaran digital dan distribusi.
- Amerika Latin dan negara Barat mencatat pertumbuhan nilai transaksi yang sangat cepat bagi perusahaan.
- Mobile gaming mendominasi ekonomi digital karena basis pengguna besar serta dukungan model microtransaction.
Selain basis pengguna yang jauh lebih besar, model microtransaction menjadi alasan utama mengapa mobile game masih mendominasi pertumbuhan bisnis.
"Kalau melihat jumlah transaksi, microtransaction di mobile gaming memang masih belum ada tandingannya. Gaming sekarang sudah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat," kata Hendi.
Ia menilai perubahan perilaku konsumen turut memperkuat industri tersebut. Gaming kini tidak lagi dipandang sekadar hiburan, tetapi telah berkembang menjadi ekosistem ekonomi digital yang mencakup esports, streaming, hingga industri kreatif.
"Dulu mungkin orang tua melihat game hanya untuk bermain. Sekarang berbeda. Banyak yang melihat gaming sebagai profesi yang serius karena ekosistemnya sudah berkembang sangat besar," ujarnya.
Teknologi Pembayaran Jadi Senjata Utama Ekspansi
Di balik pertumbuhan industri gaming global, tantangan terbesar justru datang dari aspek teknologi pembayaran digital.
Menurut Hendi, setiap negara memiliki karakteristik transaksi, regulasi, hingga sistem perpajakan yang berbeda sehingga platform harus melakukan penyesuaian teknologi secara berkelanjutan.
"Setiap negara punya regulasi yang berbeda, mulai dari pricing, payment, sampai privacy policy. Itu yang membuat ekspansi gaming tidak sesederhana menerjemahkan aplikasi ke bahasa lain," katanya.
Perbedaan tersebut mengharuskan perusahaan membangun sistem pembayaran yang fleksibel sekaligus memenuhi berbagai regulasi lokal sebelum dapat beroperasi secara optimal.
Baca Juga: Bukalapak Bangun Mesin Pertumbuhan Baru, Teknologi Gaming Jadi Senjata Ekspansi Global Lewat Joytify
Game Lokal Masih Punya PR Besar
Di tengah ekspansi global, MultiRealm Games juga melihat peluang besar bagi pengembang game Indonesia. Namun, kontribusi game lokal terhadap keseluruhan transaksi masih relatif kecil.
Meski demikian, Hendi menilai antusiasme developer dalam negeri terus meningkat.
"Kalau melihat persentasenya memang masih kecil. Tetapi enthusiasm developer Indonesia semakin besar. Banyak yang mulai membangun game sendiri, meskipun saat ini sebagian besar masih fokus ke PC karena investasi dan model bisnisnya lebih cepat," ungkapnya.
Menurutnya, ketika jaringan distribusi global perusahaan semakin luas, ekosistem tersebut berpotensi menjadi jalur bagi game buatan Indonesia untuk menembus pasar internasional.
"Kalau nanti proses ekspansi kami semakin besar di berbagai negara, tentu akan semakin terbuka peluang untuk mendukung game lokal agar bisa masuk ke pasar global," tambahnya.
Gaming Dinilai Jadi Bisnis Digital yang Paling Tahan Krisis
Berbeda dengan banyak sektor digital yang sensitif terhadap perlambatan ekonomi, industri game justru menunjukkan daya tahan tinggi.
Hendi menyebut pandemi COVID-19 menjadi bukti bahwa gaming mampu tumbuh ketika banyak sektor lain mengalami kontraksi.
"Kalau dilihat, gaming justru menjadi momentum saat pandemi. Industri ini sudah membuktikan ketahanannya dalam beberapa krisis," katanya.
Menurutnya, perubahan gaya hidup digital membuat konsumsi hiburan berbasis game terus meningkat, didukung perangkat yang semakin canggih serta kapasitas penyimpanan smartphone yang terus bertambah.
"Gaming sekarang bukan lagi sekadar aplikasi di ponsel, tetapi sudah menjadi bagian dari kehidupan digital masyarakat. Itu sebabnya kami optimistis peluang bisnis ini masih akan terus berkembang dalam jangka panjang," tutup Hendi.
Berita Terkait
-
7 HP 5G Murah Terbaik Juni 2026: Usung Chipset Kencang, Libas Game Berat
-
Harga Redmi K90 Ultra Hampir Setara POCO X8 Pro Max, tapi 'Rasa Snapdragon'
-
Spesifikasi Lenovo Aurora GH15: Headset Gaming Murah dengan Baterai 1000 mAh
-
5 HP Gaming Rp2 Jutaan dengan RAM Besar dan Baterai Jumbo Menurut Review
-
Asus ROG Zephyrus Duo Resmi Meluncur, Laptop Rp129 Juta dengan Dua Layar OLED dan RTX 5090
Terpopuler
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- Persib dan Persija Dikabarkan Tak Lolos IPO di Bursa Efek Indonesia
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- John Herdman Coret 27 Pemain Jelang Timnas Indonesia vs Kamboja di Piala AFF 2026
- 7 Sepeda Terbaik untuk Pemula Mulai Rp1 Jutaan: dari Hybrid, Lipat hingga City Bike
Pilihan
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
-
Sudaryono Jabat Kepala BGN, Sudah Diworo-woro Istana Sejak Selasa Malam
-
Sudaryono, Mantan Ajudan Prabowo Akan Gantikan Nanik Jadi Kepala BGN
-
Nanik Mundur dari Kepala BGN, Ini Alasannya
-
Nanik S Deyang Mundur dari Kepala BGN, Prabowo Minta Tetap Awasi MBG
Terkini
-
IU Tunda Konser dan Perilisan Album Baru, Imbas Kondisi Kesehatan Memburuk
-
Tiga Titik Putaran Balik di Cakung-Cilincing Bakal Ditutup Setiap Sore Sampai Arus Lalin Lancar
-
MultiRealm Games Bidik Amerika Latin hingga Eropa di Tengah Ledakan Industri Game
-
Ada Aset Diduga Berasal dari Dana Lender PT Dana Syariah Indonesia, 32 Pihak Diperiksa
-
Babinsa dan Bhabinkamtibmas Awasi Pajak, Solusi atau Masalah?
-
5 Cara Merawat Kuku agar Tidak Mudah Patah, Lindungi dengan Langkah Sederhana Ini
-
Apa Tema Hari Anak Nasional Tahun 2026? Ini Maknanya
-
BI Gelontorkan Insentif Likuiditas Rp431,9 Triliun, Bank Himbara Dapat Ratusan Triliun
-
7 Cara Mengetahui Bentuk Kaki untuk Sepatu Lari, Ternyata Tiap Orang Beda
-
Sudaryono dari Partai Apa? Ditunjuk Jadi Kepala BGN yang Baru