AI Bikin Hoaks Makin Meyakinkan, Nezar Patria: Batas Realitas Jadi Kabur

Jum'at, 18 September 2026 | 19:53 WIB
Wamenkomdigi Nezar Patria (kanan) dan President ABC Indonesia, Elvera N. Makki dalam acara The 5ᵗʰ IABC Indonesia Conference & Awards | 2026, dengan tema “Driving Communications Impact: Building Trust in the Age of AI” di Jakarta, Jumat (18/9/2026). [Suara.com/Dythia]
BACA 10 DETIK
  • Wakil Menteri Komdigi Nezar Patria menyatakan kecerdasan buatan memicu produksi misinformasi masif di Jakarta pada Jumat.
  • Kementerian Komdigi berencana menemui Kementerian Kesehatan guna menangani peredaran informasi kesehatan menyesatkan di masyarakat.
  • Nezar Patria menilai literasi digital masyarakat harus meningkat agar mampu menghadapi risiko konten palsu.

Di tengah perkembangan AI yang begitu cepat, Nezar menilai literasi digital masyarakat juga harus ikut berkembang.

Ilustrasi Deepfake (pexels.com/Markus Winkler)

Menurutnya, literasi digital yang selama ini dilakukan tidak cukup hanya memberikan pemahaman mengenai cara menggunakan smartphone dan masuk ke dunia digital.

Masyarakat juga perlu memahami risiko yang muncul dari perkembangan teknologi.

“Literasi digital atau digital literasi yang sudah hampir 10 tahun kita laksanakan, saya kira harus naik kelasnya,” ujar Nezar.

Ia menilai, masyarakat perlu mendapat pemahaman yang lebih dalam mengenai risiko penggunaan teknologi, terutama karena AI membuat konten palsu semakin sulit dikenali.

Kelompok yang rentan pun cukup luas. Nezar menyebut anak-anak, orang tua, hingga masyarakat usia produktif dapat menjadi korban AI deepfake.

Bahkan Orang yang Ahli Bisa Terkecoh

Tantangan lain muncul karena AI mampu menghasilkan apa yang disebut Nezar sebagai synthetic reality atau realitas buatan.

AI dapat digunakan untuk memproduksi berbagai macam konten yang membuat masyarakat semakin bingung menentukan mana informasi yang autentik dan mana yang palsu.

“Paradoksnya adalah yang buat kekacauan informasi ini adalah juga AI,” katanya.

Nezar bahkan mengingatkan bahwa konten yang dihasilkan AI tidak selalu mudah dikenali oleh orang yang memahami teknologi.

Ilustrasi hoaks, berita bohong (Pixabay)

“Bahkan yang sangat expert sekalipun kadang-kadang terkecoh dengan produk-produk AI ini,” ujarnya.

Karena itu, persoalan AI tidak hanya berkaitan dengan seberapa cepat teknologi tersebut berkembang, tetapi juga bagaimana masyarakat mampu menghadapinya.

Menurut Nezar, ketika AI digunakan untuk berbagai kebutuhan publik, aspek trust menjadi hal yang penting. Teknologi yang digunakan masyarakat harus dibangun dengan memperhatikan aspek keselamatan dan kepercayaan.

Di tengah derasnya perkembangan AI, kemampuan masyarakat memahami risiko informasi menjadi semakin penting. 

Sebab, ketika batas antara realitas dan konten buatan AI semakin tipis, literasi digital menjadi salah satu bekal untuk menghadapi banjir informasi di ruang digital.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com