Survei Global Catat Mayoritas Perusahaan Cari Alternatif VMware

Kamis, 08 Oktober 2026 | 13:05 WIB
Ilustrasi dukungan Rimini pada virtualisasi. [Rimini]
BACA 10 DETIK
  • Biaya lisensi mahal picu pengguna VMware cari solusi alternatif.
  • Pemimpin TI mulai beralih ke strategi multi-hypervisor demi fleksibilitas.
  • Dukungan pihak ketiga dipilih untuk perkuat keamanan virtualisasi perusahaan.

Suara.com - Biaya lisensi yang semakin mahal membuat mayoritas pengguna VMware kini mulai mempertimbangkan jalur alternatif untuk infrastruktur virtualisasi mereka.

Sebuah survei global terbaru mengungkapkan bahwa perusahaan berupaya mencari fleksibilitas peta jalan dan dukungan yang lebih baik demi menjaga efisiensi.

Laporan bertajuk "2026 IT Virtualization Survey" ini diprakarsai oleh Rimini Street dan dilaksanakan oleh Unisphere Research terhadap hampir 300 organisasi.

Hasilnya menunjukkan adanya pergeseran strategi teknologi informasi (TI) yang signifikan di berbagai sektor industri komersial.

Executive Vice President and Chief Operating Officer Rimini Street, Keith Costello, menyebutkan bahwa organisasi saat ini menginginkan lebih banyak pilihan dan kendali.

Layanan mereka hadir untuk membantu klien mengurangi biaya pengeluaran sekaligus memperkuat keamanan sistem yang ada.

"Rangkaian layanan kami untuk VMware membantu klien mengurangi biaya, memperkuat keamanan, meningkatkan kualitas dukungan, dan memperpanjang nilai investasi VMware yang sudah ada, tanpa harus terikat jadwal yang berpotensi mengganggu operasional atau peta jalan vendor yang seragam," ujar Keith Costello.

Temuan survei ini pada akhirnya menegaskan kebutuhan mendesak perusahaan terhadap strategi TI yang lebih independen.

Hal ini bertujuan agar prioritas bisnis kembali berada dalam kendali penuh dari pihak klien.

Biaya Tetap Menjadi Faktor Utama dalam Mencari Solusi Alternatif VMware

Berdasarkan data survei, sekitar 90 persen responden menyatakan sedang mengevaluasi solusi alternatif VMware akibat tingginya biaya lisensi perangkat lunak.

Selain itu, 54 persen responden menjadikan penghentian dukungan lisensi abadi (perpetual) sebagai alasan utama untuk mencari penyedia layanan lain.

Penghematan biaya operasional jelas menjadi prioritas utama bagi hampir tiga perempat organisasi yang berpartisipasi dalam riset tersebut.

Angka 73 persen ini membuktikan bahwa faktor finansial sangat mendikte arah kebijakan teknologi perusahaan di masa depan.

Namun, langkah migrasi ini tidak lepas dari berbagai tantangan operasional yang harus dihadapi oleh tim teknologi informasi.

Kendala utama meliputi kompleksitas operasional sebesar 40 persen, manajemen multivendor 38 persen, hingga kebutuhan keterampilan tim di angka 37 persen.

Berbagai temuan ini menggarisbawahi bahwa organisasi sedang aktif melakukan adaptasi pada pusat data mereka. Meski demikian, para petinggi teknologi tetap mencari cara aman untuk mengurangi risiko dan menghindari gangguan sistem operasional.

Pimpinan TI Pilih Strategi Multi-Hypervisor dan Hibrida

Demi mendapatkan fleksibilitas yang lebih besar, sebanyak 60 persen pemimpin TI kini mulai mempertimbangkan strategi multi-hypervisor.

Pendekatan campuran ini dinilai sangat efektif dalam mendukung kelancaran operasional sekaligus menjaga stabilitas keuangan perusahaan.

Lebih lanjut, 47 persen responden lebih memilih strategi virtualisasi hibrida yang memadukan keunggulan hypervisor dan teknologi kontainer.

Kombinasi ini memberikan manfaat terbaik bagi penempatan beban kerja komputasi yang lebih dinamis dan terukur.

Menariknya, hampir separuh organisasi atau sekitar 48 persen mengaku belum berencana memindahkan aset digital mereka ke VMware Cloud Foundation (VCF).

Hal ini mengindikasikan bahwa perusahaan lebih memilih pendekatan operasional sesuai dengan investasi infrastruktur sebelumnya.

Tren ini menandai peralihan jangka panjang menuju lingkungan virtualisasi lintas platform yang lebih disesuaikan dengan kebutuhan spesifik.

Perusahaan kini bebas memadukan infrastruktur lokal, komputasi awan hibrida, hingga hypervisor alternatif guna menekan biaya pemeliharaan.

Mayoritas Pelanggan Pertimbangkan Dukungan Pihak Ketiga

Dalam upaya melindungi investasi yang sudah berjalan, 66 persen responden mulai melirik layanan dukungan dari pihak ketiga.

Alasan utamanya mencakup masalah keamanan sebesar 60 persen dan kekhawatiran terkait bantuan implementasi sistem di angka 57 persen.

Tim keamanan TI saat ini sering merasa kewalahan menghadapi siklus kerentanan sistem yang terus berulang tanpa henti.

Satu mesin virtual yang berhasil diretas dapat memicu efek domino pada ratusan mesin lainnya, sehingga meningkatkan risiko kebocoran data.

Ancaman serangan siber tingkat lanjut membuat pelanggan VMware semakin berhati-hati dalam menjaga kelangsungan operasional mereka.

Dukungan teknis dari pihak eksternal dianggap mampu memperpanjang masa pakai sistem sekaligus memperkuat perlindungan jaringan virtual.

Bahkan, 77 persen pemimpin keamanan TI menilai visibilitas ancaman seketika jauh lebih bermanfaat daripada sekadar mengandalkan pembaruan penambalan dari Broadcom.

Kebutuhan akan perlindungan proaktif ini mendorong perancangan arsitektur TI yang lebih tangguh sejak tahap awal.

Analis utama dari Unisphere Research, Joe McKendrick, menegaskan bahwa perubahan haluan para pengguna ini bukan sebatas pergantian vendor biasa.

Manuver ini merupakan langkah strategis perusahaan untuk mengurangi ketergantungan pada satu penyedia tunggal demi keberlangsungan sistem.

"Perubahan arah yang terjadi di kalangan pengguna VMware saat ini bukan sekadar tentang mengganti satu vendor dengan vendor lainnya. Hal ini mencerminkan upaya yang lebih luas dari perusahaan untuk mengurangi ketergantungan pada satu penyedia, menjaga keberlangsungan sistem yang sangat penting bagi operasional, dan melakukan modernisasi sesuai dengan kebutuhan bisnis mereka," pungkas Joe McKendrick.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com