/
Senin, 22 Agustus 2022 | 09:50 WIB
Karikatur Ferdy Sambo. Pengakuan baru Bharada E, istri Ferdy Sambo menangis saat membcirakan Brigadir J harus dieksekusi mati.

SuaraBandung.id - Ada peristiwa besar yang berlangsung beberapa menit sebelum Brigadir J dieksekusi mati.

Peristiwa besar tersebut terjadi di lantai tiga di rumah pribadi Ferdy Sambo di Saguling. 

Dalam rapat itu ada lima tersangka, berbicara bagaimana mengeksekusi Brigadir J.

Pengacara baru Bharada E, Ronny Tapaessy mengatakan saat itu kliennya datang yang terakhir lantaran mendapat panggilan dari Bripka RR.

Saat Bharada E tiba di ruang itu, dia melihat Putri Candrawathi sudah menangis. Sementara Ferdy Sambo dalam keadaan marah.

Tangis Putri ini pecah ketika Ferdy Sambo marah dalam rencana pembunuhan Brigadir J.

Kondisi di ruang rapat tersebut diceritakan Ronny Tapaessy dalam wawancara di TV One, Jumat (20/8/2022). 

Sang pengacara mengatakan jika rapat di rumah pribadi digelar beberapa jam sebelum eksekusi. 

"Proses waktu (rapat) di lantai tiga. Klien saya dipanggil ke dalam suatu ruangan rapat. Di sana sudah ada Ibu PC membicarakan mengenai tentang almarhum Yosua," kata Ronny Tapaessy 

Baca Juga: Kasus Brigadir J Rawan, Rocky Gerung Curigai Isu Judi 303 Ferdy Sambo Sengaja Dimunculkan

Diakui Bharada E, saat itu rapat berlangsung sangat singkat. Ronny menyebut, jika dalam rapat itu kliennya tanpa motif. 

Bharada E ketika itu tidak bicara sepatah katapun. Dia hanya diam dan menerima perintah eksekusi. 

"Jadi perlu saya sampaikan, klien saya (Bharada E)  tidak berbicara. Klien saya hanya melihat bahwa ibu PC itu ada di ruangan lantai 3," katanya. 

"Pertemuan itu ada Ibu PC, Pak FS, kemudian saudara RR. Yang terakhir dipanggil adalah Bharada E ini. Yang panggil (Bharada E) itu saudara RR," ujar Ronny. 

Situasi di ruang rapat pun diceritakan Bharada E. Dia melihat banyak muka kedua bosnya itu. 

Saat menyebut jika Brigadir J harus dieksekusi, Bharada E melihat Putri Candrawathi menangis. 

Load More