SUARA BANDUNG BARAT - Namaku Herman, seorang driver ojek online di Bandung. Sudah lama aku menyimpan pengalaman pahit ini dalam hatiku, hingga akhirnya aku memutuskan untuk berbagi kisah kelam yang masih terngiang dalam ingatanku. Peristiwa ini terjadi sekitar satu setengah tahun yang lalu, ketika aku tengah mengantar seorang penumpang ke daerah Subang pada malam hari.
Ingatanku masih jelas tentang hari itu, di mana hujan mulai turun pada Kamis malam menuju Jumat. Aku berhenti sejenak di sekitar Jalan Champelas, bermaksud melepas sepatuku dan menggantinya dengan sandal agar tidak basah.
Tiba-tiba aku mendapat pesanan dari seorang pelanggan untuk mengantarkan paket dari jajanan plus ke daerah Maleber. Kejadiannya cukup kebetulan, karena saat itu aku sedang berada di Jalan Cihampelas.
Tanpa berpikir panjang, aku memutuskan untuk melanjutkan perjalanan di tengah hujan. Aku mengambil paket tersebut dan bergerak menuju alamat pengirimannya. Sayangnya, alamat yang diberikan ternyata salah dan tidak sesuai dengan lokasinya di peta.
Aku merasa kesal karena harus mencari alamat yang benar di tengah hujan deras. Setelah melalui pencarian yang agak sulit, akhirnya aku menemukan rumah yang dimaksud dan menyerahkan paketnya dalam keadaan kesal.
Aku melanjutkan perjalanan sambil terus menembus hujan. Sekitar pukul 20.30 malam, aku sampai di perempatan lampu merah di dekat Istana Plaza.
Saat menunggu lampu hijau, seorang driver ojek online lain mendekatiku dengan seorang penumpang di belakangnya. Aku mencoba melihat apakah aku mengenalnya, tetapi tampaknya aku tidak mengenalnya. Dia melihat ke arahku dan meminta bantuan. "Kang, boleh minta tolong?" katanya, "Ini penumpangku, aku nggak kuat bawa ke Subang. Boleh tolong antar dia?"
Aku menjawab, "Oh ya, tentu saja." Aku menepi di pinggir jalan dan berhenti. Mereka mendekatiku dan perempuan di belakangnya langsung naik ke motorku. Aku mencoba bernegosiasi dengan perempuan itu mengenai tujuannya, dan ternyata dia harus pergi ke Subang untuk mengambil baju karena akan mengikuti sebuah wawancara di salah satu instansi. Dia ingin perjalanan ini pulang-pergi (PP). Setelah beberapa tawar-menawar, kami akhirnya sepakat pada harga.
Perempuan itu terlihat terburu-buru dan tidak sabar. Dia naik ke motorku dengan cepat dan bahkan tidak menawarkannya jas hujan meski hujan masih turun.
Baca Juga: Prediksi Susunan Pemain Timnas Indonesia U-23 di Piala AFF U-23: Menunggu Racikan Baru Shin Tae-yong
Kami berangkat dan memasuki jalan menuju Lembang, yang pada saat itu tidak terlalu ramai. Dia awalnya hanya diam, tetapi kemudian dia mulai bercerita. Dia mengaku sebagai seorang Bikers yang suka mencoba berbagai motor. Aku mengangguk mendengarkan ceritanya.
Tiba-tiba, dia bertanya apakah bisa mencoba mengendarai motorku. Aku menolak dengan sopan, tapi dia bersikeras dan memaksa. Aku kaget dan tidak tahu harus berbuat apa. Akhirnya, dia duduk di jok depan dan meminta aku naik di belakangnya. Tanpa banyak pilihan, akhirnya aku naik ke belakang motor.
Perjalanan terus berlanjut, dan aku mulai merasa cemas. Aku berusaha memantau situasi di sekitar kami sambil tetap waspada. Saat kami melewati sebuah pom bensin, aku melihat beberapa orang melihat ke arah kami dengan tatapan aneh. Aku mengabaikannya dan tetap fokus pada perjalanan.
Kami tiba di sebuah jalanan yang mulai menanjak, dikenal sebagai Tanjakan Emen. Motor tiba-tiba melambat dan terasa berat. Perempuan itu memberi tahu bahwa kami harus menghidupkan klakson atau membuang puntung rokok jika lewat jalan ini, jika tidak ada yang akan terjadi. Aku merasa semakin tidak nyaman dan mulai curiga.
Aku mencoba melihat ke belakang, mencari tanda-tanda aneh, tetapi tidak ada yang kelihatan. Perempuan itu mulai menangis dan berkata bahwa orang sering menyalahkan Tanjakan Emen jika terjadi kecelakaan di sana.
Perasaan takut dan kecemasan semakin menghantui pikiranku. Aku berdoa dalam hati sambil terus memantau situasi di sekitar. Saat ada motor lain yang mendekati kami dari belakang, jantungku berdebar kencang. Tapi motor itu hanya melintas tanpa menunjukkan tanda-tanda aneh.
Tag
Berita Terkait
-
Ketika Kekuatan Gaib Ikut Campur: Pengalaman Horor di Departemen IT
-
Takluk 2-1 dari Persis, Persib Bandung Terlempar ke Zona Degradasi Liga 1
-
Pembangunan Alun-alun di KBB Terus Berjalan, Hengky Kurniawan: Mudah-mudahan Berdampak Positif Terhadap Ekonomi Masyarakat
-
Trotoar di KBB Dibangun, Dishub Bandung Barat Bakal Edukasi Pengendara Motor
-
DPRD KBB Usulkan Tiga Nama PJ Bupati Bandung Barat ke Kemendagri
Terpopuler
- Dicukur Timnas Indonesia 5-1, Pemain Naturalisasi Kamboja Jadi Sasaran Kemarahan Fans
- 4 Serum Wardah untuk Mengecilkan Pori, Kulit Halus dan Mulus Bertahap
- Daftar Harga Motor Listrik dengan Subsidi Pemerintah, Ada yang Cuma Rp5 Jutaan!
- Nasib Berubah, Ini 4 Shio yang Panen Keberuntungan dan Rezeki pada 29 Juli 2026
- Siapa Ipda Ambarita? Ini Profil Polisi yang Viral Saat Pengamanan Bentrok Matraman
Pilihan
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
-
Dicecar 23 Pertanyaan Penyidik KPK, Ini Kata Plt Bupati Sukoharjo
-
Cuma Sisa Rp200 Juta! Perampok Rp1,2 Miliar di Kalideres Diciduk Usai Habiskan 1 M Dalam 8 Hari
Terkini
-
Jika Tim 9 Gagal, KPK Disebut Wajib Ambil Alih Kasus Febrie Adriansyah
-
Sungai Cileungsi Menghitam, DLH Bogor Gandeng Polda Jabar Bidik 5 Perusahaan
-
Diperiksa Kejagung Terkait Dugaan Kasus, Kekayaan Kasi Pidsus Bogor Capai Rp6,1 Miliar Tanpa Utang
-
Kembalikan Hak Pejalan Kaki, Satpol PP Bandung Ratakan 36 Bangunan Liar di Jalan Rajiman
-
Sempat Sebut PDIP, Ustaz Das'ad Latif Edit Unggahan soal Putusan MK Larang Dana Pendidikan untuk MBG
-
Kejagung Bongkar Alasan Periksa Tan Kian dan Ferry Boboho di Kasus Febrie Adriansyah
-
Alasan Keselamatan, Kejagung Titipkan Ferry Boboho Saksi Kunci Kasus TPPU Febrie Adriansyah ke LPSK
-
Angela Tanoesoedibjo Apresiasi Legislator yang Dinilai Berdampak bagi Masyarakat
-
Arus Peti Kemas IPC TPK Panjang Melonjak 73,7 Persen
-
Gandeng TP PKK Hingga Tingkat RT, Bupati Bogor Rudy Susmanto Pacu Kesejahteraan Warga