Sampai Desember ini penerimaan pajak Indonesia melebihi dari target yang ditetapkan berdasarkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 98 Tahun 2022.
Berdasarkan Perpres penerimaan pajak ditarget sebesar Rp 1.485 triliun. Namun, telah mencapai Rp 1.634,4 triliun atau menembus 110,06 persen. Jumlah itu tumbuh sekitar 41,93 persen jika dibandingkan penerimaan tahun lalu yang mencapai Rp 1.151,5 triliun.
Hal itu disampaikan Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati dalam Konferensi Pers APBN Kita yang diselenggarakan secara daring ditulis, Rabu (21/12/2022).
“Ini kenaikan yang sangat tinggi dan tentu ini karena pertumbuhan ekonomi yang baik, pemulihan ekonomi yang baik, komoditas yang juga meningkat, dan juga karena adanya reformasi dari legislasi Undang-Undang Harmonisasi Peraturan Perpajakan,” ujarnya, dikutip dari Inibalikpapan.com--Jaringan Suara.com.
Dia pun merinci pertumbuhan neto kumulatif seluruh jenis pajak dominan positif yang menggambarkan kegiatan dari pelaku ekonomi. PPh 21 yang mengalami kenaikan 19,58% menunjukkan konsistensi pembayaran upah dan gaji karyawan.
PPh impor naik tinggi 89,14% berarti kegiatan yang mendukung industri manufaktur dengan impor berbagai bahan baku dan barang modal menunjukkan aktivitas yang cukup sehat.
Di sisi lain PPh OP mengalami kontraksi. Sedangkan PPh Badan mengalami kenaikan 88,4%, artinya kinerja korporasi di Indonesia yang menyumbangkan 20,7% dari total penerimaan pajak menunjukkan kinerja positif yang digambarkan dari pajak yang disetorkan kepada negara.
Sementara itu, PPh 26 menunjukkan pertumbuhan 9,39% dan PPh final tumbuh 54,42% terutama dari persewaan tanah, bangunan, dan penjualan saham.
Untuk PPN yang menggambarkan kegiatan pertambahan nilai aktivitas ekonomi, pertumbuhannya mencapai 23,4% untuk PPN dalam negeri dan 43,43% untuk PPN impor.
Baca Juga: Keluar dari Sekte Terancam Dibunuh, Mongol Stres Tenang: Gue Punya Tuhan
Dia menyampaikan juga, kinerja perpajakan berdasarkan sektoral yang juga menggambarkan peta pemulihan ekonomi tahun 2022. Kontributor terbesar yakni industri manufaktur atau industri pengolahan tumbuh 35,1%.
Perdagangan tumbuh 44,9%. Jasa keuangan dan asuransi tumbuh 12,1%. Sektor pertambangan yang mengalami komoditas boom juga tumbuh tinggi yakni 135,3%.
Sektor konstruksi masih dalam posisi belum sepenuhnya pulih dengan menunjukkan negative growth. Sementara sektor yang pulih dari dampak pandemi adalah sektor transportasi yang menunjukkan pertumbuhan penerimaan 27,3%. Untuk sektor informasi dan komunikasi masih tetap sehat tumbuh 14,9% dan jasa perusahaan tumbuh 20,5%.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 HP 5G Terbaru Paling Murah Mulai Rp1 Jutaan, Performa Jempolan
- Aksi Ngamen di Jalan Viral, Pinkan Mambo Ngaku Bertarif Fantastis Setara BLACKPINK
- Banyak Banget, Intip Hampers Tedak Siten Anak Erika Carlina
- Proyek 3 Triliun Dimulai: Makassar Bakal Kebanjiran 200 Ton Sampah dari Maros dan Gowa Setiap Hari
- Berapa Gaji Pratama Arhan? Kini Dikabarkan Bakal Balik ke Liga 1
Pilihan
-
Di Balik Lahan Hindoli, Seperti Apa Perkebunan yang Jadi Lokasi 11 Sumur Minyak Ilegal?
-
Traumatik Mendalam Jemaat POUK Tesalonika Tangerang: Kebebasan Beribadah Belum Terjamin?
-
'Ayah, Ayah!' Tangis Histeris Keluarga Pecah saat Jenazah 3 Prajurit TNI Gugur Tiba di Tanah Air
-
Tragedi Gas Maut di TB Simatupang: 4 Nyawa Melayang dalam Toren, Proyek 8 Lantai Kini Senyap
-
Akses Jalan Diblokir, Warga Kepung Pesantren Darul Istiqamah Maros
Terkini
-
Klarifikasi Virgoun Soal Ambil Anak Saat Inara Terseret Kasus: Hanya Sementara Sampai Badai Reda
-
Kalahkan Pasific Caesar Surabaya, Pelatih Kesatria Bengawan Solo Puji Performa Pemain
-
Manggala Agni Masih Padamkan Karhutla 5 Desa di Bengkalis: Timbulkan Asap Besar
-
Ekowisata dan Komitmen Destinasi Berkelanjutan, Sejauh Mana?
-
Tayang Mei, Drakor Komedi Romantis My Royal Nemesis Rilis Jajaran Pemain
-
Mengenal Nafta Minyak Bumi, Biang Kerok Harga Plastik Naik Drastis
-
Pembalap McLaren Oscar Piastri Amankan Posisi Kedua GP Jepang 2026
-
Neraca Dagang Indonesia Surplus USD 1,27 Miliar, Apa Saja Faktor Pendukungnya
-
Satria Muda Kalah dari RANS Simba, Djordje Jovicic Ungkap Penyebabnya
-
Elegi Sunyi Cinta Pertama dalam Novel 'Kau Kenang sebagai Apa Aku Nanti?'