/
Senin, 09 Januari 2023 | 21:15 WIB
Ilustrasi pemilu. [Istimewa]

Pemerintah optimis soal perekonomian Indonesia di 2023 ini. Pemerintah menganggap kondisi ekonomi Bumi Pertiwi akan membaik.

Hal itu disampaikan Menteri Keuangan (Menkeu) RI Sri Mulyani. Dia mengatakan, di tahun pemilu ini, bakal memberikan dampak positif bagi Indonesia. Alasannya, karena aktivitas dari seluruh partai politik (Parpol).

"Pasti ini akan menimbulkan dampak terhadap kegiatan politik yang berdampak pada kegiatan ekonomi yang positif. Menurut saya sih akan positif," tuturnya, dilansir Senin (09/01/2023).

Dia juga menjelaskan ada alasan lainnya. Dia menyebut, ekonomi dalam negeri akan cemerlang berkat kinerja APBN di 2022, Khususnya saat melindungi masyarakat serta menjaga momentum pemulihan ekonomi nasional.

"Jangan lupa bahwa APBN 2022 mengeluarkan lebih dari Rp 550 triliun untuk subsidi BBM, elpiji, dan listrik. Ini kenapa harga administered yang diatur pemerintah nggak melonjak tinggi," terangnya.

Dia pun membandingkan kondisi Indonesia dengan negara yang ada di Amerika dan Eropa. Di mana di 2 benua itu, BBM-nya mengalami kenaikan harga yang cukup tinggi pada tahun kemarin.

Lalu, wanita bendahara negara itu menuturkan, defisit APBN di tahun kemarin berhasil capai di bawah 3 persen. Alias, lebih rendah dari tahun sebelumnya.

“Tahun 2022 defisit kita menurun sangat drastis ke 2,38%, itu merupakan penurunan sangat besar. Hanya dalam kurun waktu 1 tahun ternyata berjalan bersama dengan pemulihan ekonomi yang masih kuat," ujarnya. 

Kemudian, dia menyebut pemerintah akan melakukan beberapa reformasi. Yakni, implementasi Undang-undang (UU) tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (P2SK), UU Cipta Kerja, dan UU Harmonisasi Peraturan Perpajakan (HPP).

Baca Juga: Roberto Martinez Resmi Jadi Pelatih Baru Timnas Portugal, Dikontrak sampai 2026

"Ini adalah membangun fondasi jangka menengah dari perekonomian Indonesia dan inilah yang menjadi cerita narasi positif dari ekonomi Indonesia," lugasnya.

Namun, dia mengimbau ke masyarakat untuk tetap waspada menghadapi dinamika ke depan. Lantaran, resiko ketidakpastian masih tinggi.

"Jadi kita tetap harus waspada dan harus melihat banyak opportunity, tapi juga banyak yang business unusual. Jadi kita gak boleh business as usual dalam hal ini, baik dari sisi perdagangan, investasi, dan dari kebijakan-kebijakan kita di dalam menjaga fondasi ekonomi kita," tukasnya.

Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Suara.com dengan Warta Ekonomi. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Warta Ekonomi.

Load More