Kalimantan dikenal sebagai daerah dengan banyak suku yang masih memanfaatkan beragam tradisinya.
Salah satunya adalah Suku Dayak yang mendiami berbagai wilayah di Kalimantan.
Suku Dayak juga memiliki banyak senjata tradisional yang bersejarah terutama saat melawan penjajahan Belanda di masa lampau.
Nama senjata tersebut adalah Sumpit, yang dikenal juga sebagai alat berburu masyarakat Suku Dayak di masa lampau.
Sumpit merupakan senjata tradisional yang berbentuk pipa panjang dan di dalamnya disisipkan panah kecil untuk dilontarkan dengan bantuan angin dari tiupan mulu.
Dikutip dari laman Indonesia Kaya, rupanya sumpit sudah ada sebelum para penjajah datang ke Indonesia.
Bagi masyarakat Dayak di Kalimantan, sumpit digunakan sebagai senjata yang selalu dibawa saat pergi berburu di hutan.
Di masa lampau, membuat sumpit menjadi salah satu pekerjaan yang cukup sulit.
Sumpit ini dibuat menggunakan batang pohong yang dikorek menggunakan pisau.
Baca Juga: CEK FAKTA: Heru Budi Bongkar Korupsi Anies di Depan Media
Setelah fungsi pisau digantikan dengan bor, pembuatannya menjadi lebih mudah dan bisa membuat lubang sumpit menjadi lebih rapi dan bagus.
Menurut cerita, saat terjadi penjajahan, Belanda lebih takut terhadap sumpit ketimbang senjata api.
Hal itu karena dioperasikan secara diam-diam dan tanpa mengeluarkan bunyi.
Terlebih masyarakat Dayak juga melumuri anak panah dengan racun yang biasanya diambil dari ramuan getah pohon yang diambil dari hutan.
Menurut pengakuan beberapa tetua adat Dayak, belum ada penawar yang bisa mengobati racun yang ada pada anak panah sumpit.
Berita Terkait
Terpopuler
- Istana Diminta Istirahatkan Qodari atau Demo Mahasiswa Bisa Makin Besar
- Ciri-Ciri Sepatu Berbahan Kulit Babi, Kenali sebelum Membeli
- 4 Sepatu Jalan Kaki Lokal Terbaik Harga Rp300 Ribuan Sesuai Review, Kualitas Jempolan
- Roy Suryo Ditangkap di Bintaro Terkait Kasus Ijazah Palsu Jokowi, Sempat Diancam Borgol
- 4 Pompa Air Kedalaman 20 Meter ke Atas, Hemat Listrik dan Tekanan Air Stabil
Pilihan
-
Salah Sasaran Evaluasi: Menilai Program MBG Lewat Respons Anak Itu Absurd
-
Dasco di Mobil Komando Aksi: Aspirasi Kawan-kawan Sudah Disampaikan, Hidup Mahasiswa!
-
Bukan Sekadar Karaoke, Orutaku Club Jadi Mesin Waktu Bagi Wibu Generasi 90-an
-
Kejagung Tetapkan Glory Harimas Sihombing Tersangka, Dugaan Jual Beli Titik Dapur MBG Terungkap
-
Wamensesneg Terluka Kena Batu, Kivlan Zen Berdarah Saat Eksekusi Hotel Sultan GBK Ricuh
Terkini
-
Dirjen Pajak Akui MBG dan Kopdes Merah Putih Berpotensi Hilangkan Penerimaan Negara
-
IHSG Dibayangi Sentimen Global dan MSCI, Cek Rekomendasi Saham Senin Ini!
-
Tanpa APBD! Pramono Anung Bangun Pedestrian Deck Dukuh Atas, Jamin Patung Sudirman Tak Digeser
-
4 Headset Gaming Murah dengan Active Noise Cancellation, Mulai 300 Ribuan
-
Menghadapi Krisis Iklim dari Desa: Sinergi KAGAMA dan UGM Lewat KKN-PPM 2026
-
Buntut Kasus Sulis, Dishub DKI Janji Siapkan Parkir Khusus Ojol di Mal
-
Pemadaman Listrik PLN Sampai Kapan? Ini Penjelasannya
-
Purbaya Kini Punya Alat Canggih buat Awasi Anggaran TKD Pemda
-
Situasi Serba Salah: Antara Opang, Gojek, dan Hak Penumpang
-
Penyintas Bencana di Pidie Jaya Ubah Dana Stimulan Jadi Modal Usaha