Suku Dayak mengenal banyak ritual keagamaan yang masih terus dilestarikan hingga sekarang.
Salah satu ritual keagamaan yang cukup dikenal adalah upacara adat kwangkey atau kuangkay.
Ritual kwangkey atau kuangkay biasa dilakukan oleh suku Dayak Benuaq yang tinggal di pedalaman Kalimantan Timur.
Adapun, ritual kematian dalam suku Dayak terbagi menjadi tiga, dan kuangkay sendiri puncak dari upacara kematian.
Dikutip dari berbagai sumber, kwangkey berasal dari kata ke dan angkey yang artinya ke adalah ‘melaksanakan’ sementara angkey adalah ‘bangkai’.
Jadi bisa diartikan bahwa kwangkey adalah ritual untuk membuang bangkai yang bermakna melepaskan diri dari segala kedukaan dan mengakhiri masa berkabung.
Suku Dayak Benuaq percaya upacara kwangkey bertujuan untuk menghormati dan memuliakan roh para leluhur yang sudah meninggal.
Menurut kepercayaan Dayak Benuaq, para arwah keluarga ibarat orang yang masih hidup.
Jadi mereka memperlakukannya seperti manusia yang perlu makan, perlu tempat yang baik, dan memerlukan hiburan.
Baca Juga: 3 September Memperingati Hari Apa? Cek Jadwal Hari Besar Bulan Ini
Oleh karena itu, upacara Kwangkey diadakan keluarga yang masih hidup untuk memberi makan, penghormatan, hiburan, dan tempat yang layak bagi orang yang telah meninggal.
Upacara kwangkey biasa diadakan selama 9 hari dengan persiapan yang membutuhkan waktu sekira beberapa hari hingga beberapa minggu.
Sementara, untuk tempat penyelenggaraannya, upacara kuangkey biasa dilakukan di Rumah Panjang atau Rumah Lamin yang dalam Bahasa Dayak disebut Louw.
Pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan upacara ini juga tidak bisa sembarangan. Ada para Pengewara atau Pengentangih yaitu petugas adat khusus untuk upacara Kwangkay yang terdiri dari 3, 5 atau 7 orang.
Kemudian, upacara adat kematian Kwangkey dibagi atas tiga tahapan secara umum yakni tahap persiapan atau Dornak Ampah, tahap pelaksanaan upacara inti dan tahap pasca upacara.
Berita Terkait
Terpopuler
- Pemerintah Tutup Ruang Pembentukan Provinsi Luwu Raya, Kemendagri: Ikuti Moratorium!
- Warga Sambeng Borobudur Pasang 200 Spanduk, Menolak Penambangan Tanah Urug
- Cerita Eks Real Madrid Masuk Islam di Ramadan 2026, Langsung Bersimpuh ke Baitullah
- Sosok Arya Iwantoro Suami Dwi Sasetyaningtyas, Alumni LPDP Diduga Langgar Aturan Pengabdian
- Desa di Kebumen Ini Ubah Limbah Jadi Rupiah
Pilihan
-
SBY Sentil Doktrin Perang RI: Kalau Serangan Udara Hancurkan Jakarta, Bagaimana Hayo?
-
Kasus Pembakaran Tenda Polda DIY: Perdana Arie Divonis 5 Bulan, Hakim Perintahkan Bebas
-
Bikin APBD Loyo! Anak Buah Purbaya Minta Pemerintah Daerah Stop Kenaikan TPP ASN
-
22 Tanya Jawab Penjelasan Pemerintah soal Deal Dagang RI-AS: Tarif, Baju Bekas, hingga Miras
-
Zinedine Zidane Comeback! Sepakat Latih Timnas Prancis Usai Piala Dunia 2026
Terkini
-
3 Cara Menghasilkan Uang dari HP Tanpa Modal untuk THR Lebaran, Terbukti Cuan Maksimal
-
Jabat Sekjen Kementan, Harta Mertua Dwi Sasetyaningtyas Tembus Rp3 Miliar Lebih
-
4 Pelembab Bamboo, Perbaiki Skin Barrier Kulit Sensitif yang Mudah Iritasi
-
7 Serum Alpha Arbutin dan Niacinamide Ampuh Hempas Noda Hitam, Siap Glowing saat Lebaran
-
Ambisi Ekspor Kendaraan Komersial Indonesia Melambung di GIICOMVEC 2026
-
Tolak Hukuman Mati ABK Fandi Ramadan di Kasus 2 Ton Sabu, Legislator DPR: Bukan Aktor Dominan
-
Drama Kasus Tual: Kenapa Kapolda Maluku Kejar Tenggat Waktu Pelimpahan Berkas Bripda Siahaya?
-
Terungkap! 4 Fakta Pelarian 8 Tahanan Polres Way Kanan Berawal dari Tukang Kantin
-
Jadwal Imsakiyah Ramadan di Samarinda, Selasa 24 Februari 2026
-
Jadwal Imsakiyah Kota Padang Selasa 24 Februari 2026, Cek Waktu Sahur hingga Berbuka!