Sebelum menjalani prosesi tersebut, pengantin laki-laki akan mengucapkan syair Weda, yang juga akan dibalas dengan syair Weda oleh mempelai perempuan. Selanjutnya mereka akan melempar daun betel atau daun siri. Tujuannya untuk melawan kekuatan jahat yang mungkin saja menghadang selama prosesi pernikahan adat Bali berlangsung.
Upacara ini juga bertujuan sebagai penghormatan bagi keluarga mempelai wanita. Sekaligus sebagai harapan agar kehidupan pernikahan mempelai lancar.
4. Upacara Medagang-dagang
Medagang-dagang memiliki arti berdagang. Dalam upacara ini, pengantin perempuan dan pria akan melakukan tawar-menawar barang dagangan hingga mencapai kesepakatn harga.
5. Metegen-tegenan dan Suun-suunan
Dalam prosesi ini metegen-tegenan akan dipikul pengantin pria dan sun-suunan djunjung oleh pengantin perempuan. Keduanya pun akan mengelilingi api suci (sanggah surya) sebanyak tujuh kali.
Pengantin perempuan dan pria akan melantunkan doa setiap langkahnya. Upacara ini adalah simbol awal dari kehidupan baru kedua mempelai.
6. Natab Pawetonan
Natab pawetonan adalah upacara yang dilakukan salam sistem perkawinan mepadik. Prosesi ini dilakukan di atas tempat tidur dengan cara memberikan seserahan pernikahan adat Bali.
Baca Juga: Kisah Mantan Penjual Racun Tikus Jadi Gubernur Sulawesi Selatan
Seserahan yang berisi berbagai barang berharga seperti seperangkat perhiasan dan pakaian akan diserahkan oleh pengantin laki-laki kepada ibu dari pengantin perempuan.
Barang-barang yang diberikan tersebut adalah simbol pengganti air susu ibu. Dengan kata lain, ini menjadi tanda bahwa tanggung jawab seorang ibu untuk membesarkan dan melindungi anaknya telah usai.
7. Bekal Tadtadan
Prosesi ini dilakukan dengan cara memberikan seperangkat perhiasan atau pun pakaian ibadah dari ibu kepada putrinya.
Ritual ini mengandung harapan agar sang putri selalu mengingat kasih sayang dan jasa ibunya. Di sisi lain, pemberian pakaian ibadah merupakan harapan agar si anak selalu mengingat Tuhan dan rajin beribadah.
8. Upacara Mejaya-jaya
Prosesi terakhir dari pernikahan adat Bali adalah Mejaya-jaya. Ritual ini dilakukan setelah pengantin resmi menyandang status suami istri. Upacara mejaya-jaya mengandung harapan agar pasangan mendapat kemudahan dan bimbingan Tuhan.
Setelah menjalani ritual mejaya-jaya, pasangan suami istri tak boleh keluar atau melakukan perjalanan selama tiga hari. Pada masa ini keduanya juga harus menjalani kewajiban sebagai suami istri. Hal ini memiliki tujuan untuk meningkatkan keintiman antara pasangan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Gaji di Bawah Rp 8 Juta Kini Masuk Kategori Berpenghasilan Rendah
- 4 Genset Mini Portable Praktis dan Senyap, Solusi Saat Mati Listrik
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- Ikuti Jejak Hotel Sultan, Otto Hasibuan Diminta Ikhlas Lepas Lapangan Golf Ottolima ke Negara
- 4 Bohlam Lampu Emergency LED Terbaik Otomatis Nyala saat Mati Listrik, Lebih Aman Tanpa Lilin
Pilihan
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
-
Pelarian Berakhir! Taufik Hidayat Penyekap dan Penyiksa Pacar 3 Tahun Ditangkap di Bandung Raya
Terkini
-
Lima Hari Baru Bersih, 55,7 Ton Sampah Diangkut dari Kali Gendong Muara Baru
-
Pameran ARCHIVEPELAGO: 45 Tahun Garin Nugroho Menyemai Indonesia
-
MTQ Nasional XXXI Hadir di Jateng, Usung Semangat Harmoni Menuju Indonesia Emas
-
6 Cara Mencegah Bunga Es Muncul di Kulkas agar Mesin Tidak Cepat Rusak
-
PLTMH Kedungrong Andalkan Sungai Kalibawang Terangi Puluhan Rumah
-
Iman Islam Jadi Alasan Djed Spence Tolak Jabat Tangan Terduga Pemerkosa Thomas Partey
-
Skandal Proyek Fiktif Rp16 Miliar: Kejati DKI Kembali Seret Dua Pegawai Kementerian PU ke Tahanan
-
Deretan Rekor Tercipta usai Meksiko Lolos 'Sempurna' ke Fase Gugur Piala Dunia 2026
-
3 Aluminium Foil Insulasi untuk Menahan Panas Pada Atap Seng, Rumah Adem dan Tak Berisik
-
Jawa Tengah Siapkan 1.000 Desa Wisata sebagai Motor Ekonomi 2027