Suara.com - Dia sempat tidak punya uang sama sekali dan menjadi gelandangan, kini Chris Gardner adalah seorang multimiliuner yang tinggal di rumah dengan harga jutaan dolar Amerika di Trump Tower, Chicago, Amerika Serikat. Sebagai pialang saham dan juga penulis, tidak ada tempat yang lebih disukai Gardner selain rumah.
“Rumah yang saya tempati ini beda dengan bursa saham. Tidak ada fluktasi atau orang yang lalu lalang seperti ketika menaiki rollercoaster. Saat ini saya masih melakukan perjalanan 200 hari dalam satu tahun tetapi waktu yang paling saya nikmati adalah ketika masuk ke rumah dan duduk di atas sofa atau melihat taman,” ujarnya.
Pelajaran yang didapatnya dalam kehidupan sebelum menjadi miliuner membuat Gardner tidak pernah lupa atas semua materi yang diraihnya. Masa kecil Gardner memang jauh dari bahagia. Dia tinggal di rumah yatim piatu dan tidak pernah mengenal sosok ayah kandungnya.
Ketika beranjak dewasa, Gardner sempat bekerja sebagai asisten peneliti di Universitas California di San Fransisco, Amerika Serikat. Dia menikmati pekerjaannya itu dengan harapan bisa menjadi seorang dokter. Namun, gaji yang diterimanya tidak cukup untuk bisa mengambil kuliah jurusan dokter.
Masa-masa sulit Gardner terjadi pada 1982. Ketika itu, dia sama sekali tidak punya uang dan pasangannya meninggalkan dirinya bersama Chris Jr, putra mereka, di tempat penitipan anak. Gardner harus tinggal di tempat penampungan, stasiun kereta api bahkan di WC umum.
Keinginan untuk mengubah nasibnya membawa Gardner ke industri pasar modal. Meski tidak mempunyai ijazah sarjana, Gardner memberanikan diri untuk melamar menjadi peserta pelatihan untuk pialang saham. Kerja kerasnya tidak sia-sia, dia diterima sebagai peserta pelatihan di Dean Witter Reynolds. Hanya satu tahun, Gardner dinyatakan lulus dan menjadi pialang saham.
Gardner kemudian bekerja di perusahaan Bear, Stearns & Company dan sukses menjadi marketing dengan penjualan terbanyak. Pada 1987, Gardner memberanikan diri untuk mendirikan perusahaan sendiri dengan nama Gardner Rich & Company,Inc.
Dengan modal 10 ribu dolar Amerika, perusahaan itu dijalankannya dari sebuah apartemen kecil yang hanya berisi meja kayu. Perusahaan pialangnya itu fokus kepada transaksi produk derivative untuk lembaga besar di Amerika. Seiring perjalanan waktu, perusahaan Gardner tersebut menjadi besar.
Pada 2006, Garder menjual sahamnya di Gardner Rich & Company,Inc. dengan harga jutaan dolar Amerika. Transaksi penjualan itu membuat kehidupan Gardner berubah drastis dari laki-laki yang tidak punya uang dan menjadi gelandangan hingga menjadi seorang miliuner.
Sang ibu, Bettye Jean adalah inspirasi dari sukses yang diraih Gardner.
“Dia selalu berkata, anakku, saya harus melakukan banyak hal, dengan hasil yang sedikit untuk waktu yang lama, bahkan saya bisa melakukan semua tanpa mendapatkan apa-apa. Ketika itu terjadi pada dirimu, maka keputusan ada di tanganmu apakah akna tetap maju. Dia mengatakan, kavaleri tidak akan datang, anakku, ini hanya antara kamu dan aku,” ujarnya.
Ketika pertama kali mempunyai rumah mewah, Gardner tidak lupa untuk membawa foto ibunya dan menaruh foto itu di dapur.
“Saya selalu berbicara dengan dia. Meski dia sudah pindah ke Surga, tetapi dia selalu bertanya kepada saya hal yang sama: Apakah kamu sudah mengerjakan tugasmu, apakah kamu sudah berdoa. Lalu saya menjawab, sudah ibu. Dan dia mengatakan, bagus, tetaplah bekerja karena Tuhan sibuk dan dia juga harus membantu orang lain,” kata Gardner.
Gardner kehilangan pasangan hidupnya, Holly Norwick karena kanker, tahun lalu.
“Salah satu pertanyaan yang dilontarkan Holy kepada saya adalah, sekarang kamu tahu hidup itu singkat, lalu apa yang akan kamu lakukan di sisa umurmu? Sejak itu saja berubah. Saya memastikan setiap saat menghargai semua yang terjadi dalam hidup saya. Kini, salah satu yang paling penting dalam hidup saya adalah rumah,” katanya.
Berita Terkait
-
Dari Pendiri Bisnis Menjadi Angel Investor, Perjalanan Venjii Hernando Mendukung Wirausaha Lokal
-
Bukan Sekadar Buku Nasihat, Ini Alasan "4 You, Ladies" Berasa Seperti 'Teman Ngobrol' Sehari-hari
-
Jejak Perjuangan Riyan Hidayat: Dari Kebun Kopi Perbatasan Hingga ke Panggung Kepemimpinan Nasional
-
Inspiratif, Kisah Mantan TKI Jadi Pencipta Lapangan Kerja di Lampung
-
Kisah Ratna Wirahadikusumah, Perempuan di Balik Pembangunan 250 Gerai Restoran di Indonesia
Terpopuler
- 5 Shio yang Menarik Keberuntungan 28 Juni 2026, Hari Penuh Hoki dan Kesempatan
- 4 Sepatu Kanky Terlaris di Shopee, Nyaman Dipakai Seharian Sesuai Review Pembeli
- HBL Mantiri Dikukuhkan jadi Ketua BPP PPAD Gantikan Try Sutrisno
- 5 Motor Teririt untuk Buruh dan Pelajar, Dompet Tetap Aman Meski Pakai Pertamax
- 10 Promo Sepatu Lari di Sports Station: Adidas, Reebok, dan New Balance Mulai Rp299 Ribuan
Pilihan
-
Takut PHK, Prabowo Putuskan Harga LNG untuk Industri USD 13/MMBTU
-
Sejarah! Timnas Voli Indonesia Kalahkan Korsel dan Juara AVC Mens Volleyball Cup 2026
-
Bumi Berguncang! Gempa 6,2 M Hantam Afghanistan, Getaran Terasa Hingga India
-
Perang Meletus Lagi! Iran Hantam Basis AS di Teluk, Gencatan Senjata Runtuh
-
Pelatih Timnas Iran Desak Infantino Tegas Terhadap AS: Perlakuan Mereka Buruk!
Terkini
-
Putusan KPPU Denda 97 Pinjol Harus Batal, Dinilai Lampaui Kewenangan
-
Cara Bahlil Turunkan Harga LNG, Semua Pihak Dipaksa Efisiensi
-
Kisah 11 Tahun TUKU, Gaet UMKM dan Petani Lokal hingga Hadapi Berbagai Tantangan
-
Harga Gas Industri Turun untuk Cegah PHK, Bahlil: Instruksi Presiden Prabowo
-
Mentan Mau Ekspor Beras ke Singapura, Meski Harga di Indonesia Terus Naik
-
Program Pemerintah B50 Diyakini Tak Terhambat Pasokan CPO
-
Investor Asing Terus Berhasrat Jual Saham, IHSG Melemah ke Level 5.820
-
Purbaya Mulai Kaji Anggaran Pemerintah untuk Kebijakan Wajib Belajar 13 Tahun
-
Ternyata CNG Pengganti LPG 3 Kg Impor Juga dari China
-
Jangan Lewatkan Jazz Gunung 2026, BRImo Hadirkan Promo Tiket Diskon 40%!