Suara.com - Laporan penilaian tahunan oleh Panel Antar pemerintah mengenai Perubahan Iklim (IPCC), yang dirilis beberapa pekan lalu, menyebabkan perdebatan terhadap perubahan iklim semakin sengit.
Organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa percaya bahwa, jika tidak ada pengurangan skala besar dan segera terhadap emisi gas rumah kaca, pembatasan pemanasan global di tingkat mendekati 1,5°C atau bahkan 2°C tidak mungkin diwujudkan.
Banyak perubahan iklim yang diamati belum pernah terjadi sebelumnya setidaknya dalam ribuan tahun, dan beberapa di antaranya dianggap tidak dapat diubah dalam jangka menengah sekalipun.
“Perubahan iklim telah mempengaruhi setiap wilayah di permukaan Bumi dengan berbagai cara. Perubahan yang kita semua alami akan terus meningkat dengan pemanasan yang bertambah,” ungkap Panmao Zhai, Ketua Kelompok Kerja IPCC ditulis Kamis (26/8/2021).
Gelombang panas yang meningkat, musim panas yang lebih panjang, dan musim dingin yang lebih pendek diperkirakan akan terjadi. Curah hujan yang tinggi akan menyebabkan banjir, sedangkan daerah lain akan mengalami kekeringan yang parah.
Permukaan laut akan terus meningkat, dan ekosistem laut akan terancam oleh adanya kombinasi antara lautan yang memanas, pengasaman, dan penurunan kadar oksigen, merupakan beberapa poin peringatan dari laporan tersebut.
“Hal tersebut kemungkinan besar akan mengarah pada intensifikasi bencana di tahun ini secara dramatis yang diduga terkait dengan perubahan iklim. Termasuk juga banjir di Jerman dan Belgia yang menewaskan 209 orang, banjir yang menewaskan 33 orang di China, kekeringan terparah kedua dalam sejarah California, dan gelombang panas yang menewaskan 815 orang di Kanada,” ungkap Annabela, Project Manager 21 Hari Vegan dari Sinergia Animal.
Sinergia Animal, sebuah LSM internasional yang bekerja untuk mempromosikan pilihan makanan yang lebih ramah lingkungan untuk membantu memerangi perubahan iklim di Amerika Latin dan Asia Tenggara.
IPCC menyarankan bahwa langkah-langkah kuat untuk mengurangi perubahan iklim harus diambil untuk mencegah kerusakan lebih lanjut. Jika pemanasan global mencapai 2°C, akan berdampak pada pertanian dan kesehatan.
Baca Juga: Hujan Ekstrem di Eropa Makan Korban, Kemungkinan karena Pemanasan Global
Para peneliti memperkirakan bahwa produksi makanan bertanggung jawab atas lebih dari seperempat emisi gas rumah kaca dunia, dengan peternakan dan perikanan bertanggung jawab atas 31% dari total ini.
“Untuk mempersempit jejak karbon ini, tindakan drastis harus diambil, termasuk dalam tingkat individu. Salah satu hal terbaik yang dapat dilakukan untuk mengurangi dampaknya adalah dengan mengurangi atau menghilangkan konsumsi produk hewani, yang sejauh ini merupakan bahan pokok paling berpolusi yang kita konsumsi,” tambah Annabela.
Penurunan produksi dan konsumsi produk hewani sangat penting untuk pengurangan emisi gas metana. Gas tersebut merupakan salah satu perhatian utama dalam analisis laporan IPCC, akibat pesatnya peningkatan kadar emisi yang sebagian besar didorong oleh bahan bakar fosil dan sektor industri peternakan.
Selain itu, metana dalam jangka panjang memiliki dampak 25 kali lipat , daripada CO2 di atmosfer.
Dalam sektor peternakan, CO2 sebagian besar dikeluarkan karena adanya perubahan penggunaan lahan – misalnya, penggundulan hutan untuk area penggembalaan atau pertanian kedelai untuk pakan ternak – sementara metana sebagian besar dikeluarkan dari pencernaan hewan-hewan yang diternakkan.
Setiap kilogram daging sapi yang dihasilkan menghasilkan 60kg emisi gas rumah kaca (GRK); untuk membuat 1 kg keju, 21 kg GRK dilepaskan. Angka tersebut, 20 dan 7 kali lebih banyak daripada memproduksi tahu—sumber protein, dalam jumlah yang sama masing-masingnya. Sementara produksi 1 kg susu mewakili 2,8 kg emisi GRK, dimana produksi susu kedelai hanya mengeluarkan 1 kg.
Berita Terkait
Terpopuler
- Catat Tanggalnya! Ribuan Warga Badui Bakal Turun Gunung Temui Gubernur Banten Bulan April
- 5 Rekomendasi Smartwatch yang Bisa Balas WhatsApp, Mulai Rp400 Ribuan
- 7 Sepatu Lari Tahan Air Selevel Nike Vomero 18 GTX, Kualitas Top
- Donald Trump: Pangeran MBS Kini Mencium Pantat Saya
- 5 HP Xiaomi dengan Snapdragon 8 Elite Gen 5, Terkencang di 2026!
Pilihan
-
Harga Pertamax Naik Nyaris Rp18.000 di April Besok? Ini Kata Pertamina
-
Petir Bikin Duel Kepulauan Solomon vs Saint Kitts and Nevis di Stadion GBK Ditunda
-
Sesaat Lagi! Ini Link Live Streaming Timnas Indonesia vs Bulgaria
-
Melihat 3 Pemain yang Bakal Jadi Senjata Utama Timnas Indonesia Hadapi Bulgaria
-
Profil Sertu Farizal Rhomadhon, Prajurit TNI asal Kulon Progo yang Gugur di Lebanon
Terkini
-
Pemerintah Akan Larang Alih Fungsi Sawah, Sedang Siapkan Sanksi
-
Mentan Optimistis Stok Pangan Aman Hadapi Fenomena El Nino Godzilla
-
Beredar Info Harga Pertamax Tembus Rp17.850 per Liter 1 April, Pertamina: Belum Pasti
-
Dari Limbah Jadi Energi, Biomassa Sawit RI Kuasai Pasar Jepang
-
Aset Kripto Jadi Pelarian Saat Saham Loyo, Tapi Tetap Berisiko
-
Negara-negara Asing Mulai Antre Beli Pupuk dari Indonesia
-
Wacana Kemasan Polos Disorot, Rokok Ilegal Diprediksi Melonjak Tajam
-
RI Dapat Berkah dari Perang AS dan Iran, Bisa Jadi Raja Eksportir Pupuk Urea
-
Pegadaian Tembus Pasar Global, Ekspansi ke Timor Leste di Usia 125 Tahun
-
Harga Pertamax Naik Nyaris Rp18.000 di April Besok? Ini Kata Pertamina