Suara.com - Masyarakat wajib berkontribusi mengatasi krisis iklim untuk dapat bertahan dari kepunahan, kata Direktur Climate Policy Initiative (CPI) Indonesia Tiza Mafira.
"Masyarakat wajib kontribusi atasi krisis iklim. Kalau kita enggak berkontribusi, kita enggak akan survive. Kita akan punah. Bagi ku ini bukan soal peduli atau enggak penduli lingkungan, ini soal 'survival'," kata Tiza dalam Diskusi Panel: Mulai Aksi untuk Bumi dari Gaya Hidup Sehari-hari secara virtual diikuti di Jakarta, Selasa (17/8/2021).
Menurut inisiator Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik itu, logis jika menganggap melakukan upaya mengatasi krisis iklim sebagai bentuk bertahan hidup mengingat krisis iklim tidak dapat dibantah keberadaannya. Ia menilai krisis iklim semakin parah dan semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari.
"Kalau masih ada yang tanya, 'krisis iklim itu ada ya?'. Ya sama saja kayak tanya, 'gravitasi itu ada ya?'. Sekonyol itu menurut aku," ujar Tiza.
Menurut dia, setiap individu dalam masyarakat dapat melakukan kegiatan yang disukai sambil menyuarakan masalah krisis iklim.
"Kalau aku sendiri background-nya hukum, suka ngulik peraturan. Ok, kalau gitu coba bantu rumuskan kebijakan kantong plastik," imbuh dia.
Selanjutnya, menurut dia, apa yang tidak dapat dilakukan sendiri maka harus dilakukan bersama-sama untuk bisa mengubah sistem. Contoh, jika susah berjalan kaki karena tidak tersedia trotoar maka sistem yang harus berubah sehingga orang semakin banyak yang bisa berjalan kaki.
"Atau mau pasang panel surya tapi mahal baterainya, padahal inginnya listrik di rumah enggak mati meski PLN mati, tapi kenapa baterai mahal banget. Itu berarti sistem perlu diubah," ujar Tiza.
Dengan semua kondisi di atas maka hal yang, menurut dia, dapat dilakukan membantu mendorong keluarnya kebijakan yang mengubah sistem tersebut.
Baca Juga: Suhu Nyaris Capai 50 Derajat Celcius, Kebakaran Mengganas di Italia
"Misal buat petisi meminta trotoar, atau bikin koalisi pejalan kaki supaya individu yang 'awareness' bagus banyak yang ikut," ujar dia.
Senior Manager for Sustainable Landscape and Cities WRI Indonesia Adi Pradana mengatakan 97 persen ilmuwan terkemuda di dunia setuju bahwa emisi gas rumah kaca (GRK) hasil aktivitas manusia penyebab pemanasan global.
Konsentrasi karbon dioksida (CO2) global dan anomali suhu terjadi dari pembakaran bahan bakar fosil, deforestasi dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), dan kegiatan masyarakat yang meski tidak secara langsung membakar hutan tetapi tidak sengaja membiayai perusahaan yang membakar hutan.
Selanjutnya, penambahan populasi yang akan menambah kebutuhan pangan, air dan sebagainya, ia mengatakan mengakibatkan lebih banyak lagi emisi yang dihasilkan manusia. Setiap ada kenaikan suhu 1,5 derajat Celsius hingga dua derajat Celsius maka akan terjadi panas berlebih, hujan ekstrem, kekeringan parah dan waktu datangnya lebih cepat.
Menurut dia, gaya hidup dan konsumsi sehari-hari manusia menjadi penyebab semua itu terjadi. Konsumsi listrik dan produk pemanas ada di urutan tertinggi penyumbang emisi yakni 25 persen, lalu penggunaan hutan dan lahan menyumbang 20,4 persen, industri menyumbang 17,9 persen, transportasi menyumbang 14 persen, energi lain menyumbang 9,6 persen, sampah makanan (metana) menyumbang 6,7 persen, serta bangunan tidak ramah lingkungan menyumbang 6,4 persen.
"Jadi perlu melakukan perubahan transformatif. Perlu semangati pemerintah untuk membuat kebijakan yang pro lingkungan dan pro iklim," ujar dia.
Ia mengatakan kepunahan bisa terjadi, karena sudah ada laporan terjadi pada spesies amfibi dan hewan melata. Dan kondisi itu bisa semakin meningkat karena krisis iklim, degradasi lingkungan, konversi hutan untuk kebutuhan perumahan dan sebagainya. [Antara]
Berita Terkait
-
El Nino Menguat di Tengah Krisis Iklim, Apa Dampaknya bagi Dunia?
-
Hutan Bakau Dunia Tambah 2.000 kilometer Persegi Sejak 2010, Mampukah Kurangi Ancaman Krisis Iklim?
-
Tanoana mPae: Ketika Masyarakat Pamona Belajar Menjaga Pangan dari Sukma Padi
-
Krisis Iklim Sebabkan Warga Indonesia Kehilangan 84 Jam Tidur per Tahun: Apa Dampaknya?
-
Sering Terpapar Berita Krisis Iklim, Bisakah Picu Gangguan Kesehatan Mental?
Terpopuler
- Cara Menata Isi Dompet yang Baik Menurut Feng Shui agar Rezeki Lebih Lancar
- Amplop Raja Juli Menyusut SGD2.000, KPK Buka Peluang Periksa Ajudan hingga Kapolres Kuansing
- Masuk Desil 10 Padahal Penghasilan Pas-pasan? Jangan Panik, Ini Arti dan Penjelasan Resminya
- Contoh Teks Sambutan Ketua RT Malam Tirakatan 17 Agustus yang Singkat, dan Penuh Makna
- 4 Rice Cooker Mini Murah yang Cepat Matang dan Hemat Listrik Sesuai Review Pembeli
Pilihan
-
Pesona Masjid Pancasila Kediri: Sederhana di Luar, Bikin Pangling di Dalam
-
Prabowo: Ojol Sekarang Dapat 92 Persen Hasil Kerja, Pendapatannya Naik 3 Kali Lipat
-
Hadiri Sidang Tahunan, Intip Gaya Prabowo dan Gibran saat Tiba di Gedung Parlemen Senayan
-
Kampung Bahari Memanas! Massa Lawan BNN dan Brimob Pakai Petasan saat Gerebek Narkoba
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
Terkini
-
Sederet Kritik soal Proyek Utopis Bahasa Asing Prabowo Sejak SD, Beban Siswa hingga Anggaran
-
Yuk Nikmati Liburan Seru ke Pantai Selatan Yogyakarta Bareng PORTA
-
Gempa NTT: Warga Kepulauan Selayar Mengungsi ke Dataran Tinggi Usai Lihat Air Laut Surut Tiba-tiba
-
Desa Sejahtera Astra Les dan Iklim Pendidikan Mandiri yang Tak Melulu Bertumpu Pemerintah
-
Bukan Hanya di Lapangan, Ini Cara Komunitas Digital Rayakan 17-an
-
BNPB: Jauhi Pantai Pasca-Gempa Bumi NTT
-
Ramalan Zodiak 15 Agustus 2026: Virgo Dapat Keberuntungan, Libra Perlu Menenangkan Hati
-
BMKG NTT: Kabar Gempa Susulan Besar Pukul 09.00 WITA Hoaks, Jangan Percaya!
-
Gempa Bumi NTT di Mbay Robohkan Tembok Rumah dan Rusak Pelabuhan Maumere
-
Huawei MatePad Pro Max (2026): Tablet Super Tipis yang Serius Mengajak Laptop Pensiun