Suara.com - Harga minyak dunia melesat pada perdagangan Rabu, karena Uni Eropa, blok perdagangan terbesar di dunia menjabarkan rencana untuk menghentikan impor minyak Rusia.
Kondisi ini meningkatkan kekhawatiran tentang ketatnya pasar lebih lanjut ketika negara-negara tersebut memburu pasokan yang memadai.
Mengutip CNBC, Kamis (4/5/2022) minyak mentah melejit selama dua bulan terakhir setelah invasi Moskow ke Ukraina.
Sampai saat ini, Uni Eropa enggan untuk sepenuhnya memotong impor minyak dan gas Rusia, dan rencananya masih tidak menyarankan larangan penuh bagi semua anggota Uni Eropa.
Eropa mengimpor sekitar 3,5 juta barel minyak dan produk minyak Rusia setiap hari, dan juga bergantung pada pasokan gas Moskow.
"Persediaan sangat ketat, jadi dengan latar belakang ini, ketika kita berbicara tentang larangan ini, ada banyak pertanyaan tentang bagaimana (Eropa) akan menebusnya," kata Phil Flynn, analis Price Futures Group.
Minyak mentah berjangka Brent, patokan internasional, ditutup melambung USD5,17, atau 4,9 persen menjadi USD110,14 per barel.
Sementara itu, patokan Amerika Serikat, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate, melesat USD5,40 atau 5,3 persen menjadi USD107,81 per barel.
Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen, Rabu, mengusulkan embargo minyak secara bertahap terhadap Rusia, serta memberikan sanksi kepada bank terbesar Rusia.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Naik Lagi Setelah UE Embargo Minyak Mentah dari Rusia
Langkah-langkah Komisi itu termasuk menghentikan pasokan minyak mentah Rusia secara bertahap dalam waktu enam bulan dan produk olahan pada akhir 2022, kata von der Leyen. Dia juga berjanji untuk meminimalkan dampak dari langkah tersebut terhadap ekonomi Eropa.
Rusia dapat mengimbangi hilangnya salah satu pelanggan utamanya dengan menjual minyak ke importir lain termasuk India dan China. Tidak ada negara yang berhenti membeli dari Moskow.
Kebutuhan akan pasokan yang jauh lebih besar kemungkinan tidak akan terpenuhi pada pertemuan Organisasi Negara Eksportir Minyak dan produsen sekutu, Kamis.
OPEC Plus diperkirakan tetap pada rencananya untuk meningkatkan produksi bulanan secara bertahap.
Di Amerika Serikat, stok minyak mentah naik moderat pekan lalu, menurut Badan Informasi Energi.
Stok meningkat 1,2 juta barel karena Amerika Serikat merilis lebih banyak barel dari cadangan strategisnya.
Stok bahan bakar turun, sebagian dipicu ekspor produk yang lebih kuat sejak invasi Rusia ketika pembeli mencari sumber lain.
Berita Terkait
Terpopuler
- Siapa Ginka Febriyanti yang Kini jadi Komisaris Pertamina Retail
- 5 HP Memori 256 GB Harga di Bawah Rp2 Juta, Bisa Simpan Ribuan File dan Gaming
- 4 Sepatu Lari Ardiles Terbaik Paling Laris di Shopee, Lengkap Review dan Harganya
- 3 Rekomendasi Bedak Padat di Indomaret untuk Makeup Halus dan Tahan Lama
- 4 HP Murah Terbaru 2026 untuk Anak Sekolah: Baterai 7000 mAh hingga Koneksi 5G
Pilihan
-
Pelatih Timnas Iran Desak Infantino Tegas Terhadap AS: Perlakuan Mereka Buruk!
-
Korban Meninggal Latsarmil SPPI Bertambah Menjadi 5 Orang, Ini Penjelasan Kemhan
-
Lagi! Peserta Latsarmil Kopdes Merah Putih Meninggal, Rifki Renaldi Jadi Korban Ke-4
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
Terkini
-
Heboh Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris, Ini Daftar Pemegang Saham Krakatau Posco
-
Daftar 24 Wamen Rangkap Jabatan di BUMN, Viral Sorotan 'Orang Dekat' Jadi Komisaris
-
Kabar 60.000 Calon Mahasiswa Mundur, Imbas Biaya Kuliah Mahal?
-
Harga Beras Makin Mahal, Program SPHP Pemerintah Tidak Efektif?
-
Krakatau Posco Milik Siapa, Apakah BUMN? Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris
-
Harga Emas Antam Terus Melemah dalam Sepekan, Buyback Anjlok Lebih Dalam
-
Harga Beras Naik saat Cadangan Pemerintah Cetak Rekor Terbesar, Kok Bisa?
-
Harga Cabai Turun Namun Bawang Putih Naik, Ini Penyebabnya
-
Harga Minyak Dunia Turun Drastis Meski AS-Iran Gagal Gencatan Senjata
-
5 Orang Meninggal, Pelatihan Militer KDMP Dikecam: Dampak Buruk ke Manajemen Koperasi