- Menhub Dudy Purwagandhi melarang truk sumbu tiga beroperasi selama Nataru 2025/2026 demi keselamatan pengguna jalan tol.
- Pelarangan ini diambil karena pengusaha truk melanggar komitmen relaksasi operasional yang telah diberikan pemerintah.
- Tujuan utama kebijakan ini adalah menekan angka kecelakaan dan meningkatkan keamanan masyarakat saat musim liburan.
Suara.com - Menteri Perhubungan (Menhub), Dudy Purwagandhi, menegaskan pelarangan truk truk sumbu tiga demi keselamatan pengguna jalan terutama di ruas tol selama Natal dan Tahun Baru (nataru) 2025/2026.
Dia menjelaskan, pada masa libur nataru banyak masyarakat yang menggunakan kendaraan pribadi untuk bepergian, sehingga volume kendaraan di jalan tol meningkat.
"Kami sebagai penyelenggara, sebagai pihak yang bertanggung jawab dalam perjalanan angkutan Natal harus memastikan ketika terjadi lonjakan, yang harus kami pastikan adalah keselamatan dari para masyarakat yang berpergian," ujar Menhub dalam media briefing di Jakarta, yang dikutip Kamis (1/1/2026).
Menhub melanjutkan, pihaknya bukan berniat untuk mematikan bisnis pengusaha truk sementara, tetapi taruhannya adalah keselamatan masyarakat yang tidak bisa diukur.
"Jadi kami bukan ingin menghentikan laju ekonomi yang sedang berputar, bukan. Tapi, kalau nyawa manusia dihitung dengan angka, saya pasti nanti dikerubutin orang banyak, seolah-olah saya memkuantifikasi nyawa manusia," jelasnya.
Menhub menyebut, pemerintah sebenarnya telah memberi keringanan bagi para pengusaha truk agar tetap beroperasi di waktu dan tanggal tertentu.
"Jadi, tadi semula 18, 19, 20, 21, 22 Desember 2025 kalau saya tidak salah, mereka boleh beroperasi. Tapi, ketika kita melakukan evaluasi, dari umurnya 18, mereka enggak ini, enggak komit dengan relaksasi yang kita berikan," bebernya.
Sayangnya, lanjutnya, keringanan itu dilanggar sendiri oleh pengusaha, sehingga pemerintah mengambil langkah untuk memperpanjang larangan operasional truk sumbu tiga.
"Dari hari pertama itu, sumbu 3 tetap keluar. Akhirnya kita putuskan untuk menghindari terjadinya kecelakaan. Kan kita berupaya supaya penyelenggaran Natal itu tingkat kecelakaan nya turun, tingkat fatality turun, itu yang kita harapkan," sambungnya.
Baca Juga: Kemenhub Baru Bilang Bali Sepi, Penumpang Pesawat Turun 2 Persen di Nataru
Menhub kembali menegaskan, upaya pelarangan operasional truk sumbu tiga semata-mata untuk memberikan keamanan dan kenyamanan para masyarakat yang berlibur.
"Jadi, tujuannya itu adalah memberikan rasa aman kepada para masyarakat yang melakukan perjalanan," pungkasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Link Download Logo dan Tema HUT Bhayangkara ke-80 2026 untuk Ulang Tahun Polri
- 5 Sepeda Gunung MTB Polygon Termurah, Tangguh dan Awet Untuk Harian
- Ogah Pasang AC? Ini 4 Rekomendasi Air Cooler yang Murah, Hemat Listrik, dan Cepat Dingin
- 5 HP Samsung 5G Termurah 2026, Fitur Lengkap dan Performa Stabil untuk Jangka Panjang
- Golkar Sulsel Memanas, Ini Alasan Pendukung Appi Alihkan Dukungan ke IAS
Pilihan
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Antar Timnas Perancis ke 16 Besar, Mbappe Pecahkan Sejumlah Rekor Piala Dunia 2026
-
Prabowo ke Polisi: Gaji dan Senjata Kalian dari Rakyat, Jadi Jangan Menyusahkan Rakyat
Terkini
-
Purbaya Akan Tambah Perusahaan Pemungut Pajak Toko Online di Ecommerce
-
DPR Siap Cecar Tiktok yang Dituding Tahan Duit UMKM hingga Triliunan Rupiah
-
Potongan Aplikasi Ojol 8 Persen Tak Untungkan Mitra Pengemudi
-
Minyak Dunia Anjok, Mengapa Harga Pertamax Tak Ikut Turun?
-
Kapal Tanker Pertamina Berhasil Lolos dari Selat Hormuz, Sisanya Menunggu Aman
-
Rupiah Menuju Rp18.000 per Dolar AS Lagi, Akan Menguat Jika Investor Asing Kembali ke Indonesia
-
Bukan Pemain, Manchester United Mau Beli Kredit Karbon Indonesia
-
Antrean BBM Surabaya-Gresik Mulai Terurai, BPH Migas dan Pertamina Perkuat Distribusi
-
Stok Batu Bara Normal, Bos PLN Janji Tak Ada Mati Lampu
-
RI Mulai Dagang Karbon Kehutanan, Potensinya Rp5 Triliun