- Bitcoin (BTC) terkoreksi signifikan pada Minggu malam (18/1/2026), jatuh di bawah $92.000, memicu pelemahan pasar kripto.
- Koreksi harga ini menyebabkan likuidasi derivatif senilai $544,25 juta; Solana dan XRP turun lima persen dalam sejam.
- Penyebab utama tekanan jual adalah ketidakpastian ekonomi global dan isu geopolitik termasuk tarif baru AS.
Suara.com - Pasar aset digital mengawali pekan baru dengan tren negatif setelah Bitcoin (BTC) mengalami koreksi signifikan pada Minggu malam (18/1/2026).
Aset kripto nomor satu terjun bebas ke bawah zona $92.000 seiring dengan meningkatnya tekanan jual.
Saat berita ini disusun, harga BTC berupaya stabil di bawah level $92.500 setelah menyerap gelombang penjualan dengan volume perdagangan yang sangat tinggi.
Pelemahan ini memberikan dampak berantai ke seluruh ekosistem kripto. Kapitalisasi pasar kripto global menyusut sekitar 2% menjadi US$ 3,16 triliun.
Di jajaran sepuluh besar aset utama, Solana (SOL) dan XRP menjadi yang paling terdampak dengan penurunan harga masing-masing mencapai 5% hanya dalam kurun waktu satu jam.
Data dari Coinglass mengungkap skala kerusakan yang terjadi di pasar derivatif. Dalam waktu singkat, dana sebesar US$ 544,25 juta terhapus dari pasar, di mana sekitar US$ 137 juta di antaranya merupakan posisi long (beli) Bitcoin yang hangus terbakar.
Sepanjang hari Minggu, total likuidasi mencapai angka fantastis sebesar US$ 653,92 juta. Sebanyak 235.442 trader terpaksa merelakan posisi mereka menghilang, membuktikan bahwa aksi jual Minggu malam kali ini memiliki dampak yang sangat destruktif.
Tipisnya likuiditas di akhir pekan membuat pasar menjadi sangat sensitif terhadap tekanan harga, sehingga memicu pergerakan yang lebih ekstrem.
Ketidakpastian ekonomi global menjadi pemicu utama di balik mode "de-risking" atau pengurangan risiko oleh para investor.
Baca Juga: Site Bitcoin Lama Bernilai Ratusan Triliun Rupiah Bisa Dipecahkan AI dalam Waktu Dekat
Pada 17 Januari 2026, Presiden AS Donald Trump melalui akun Truth Social mengumumkan rencana tarif baru yang menyasar delapan negara Eropa. Langkah ini disebut sebagai bagian dari upaya panjangnya untuk mengakuisisi Greenland dari Denmark.
Selain isu tarif dan ketegangan geopolitik, sentimen negatif juga datang dari ranah regulasi. Keputusan Senat AS untuk menunda RUU struktur pasar kripto selama akhir pekan menambah lapisan kehati-hatian bagi para pelaku pasar.
Di tengah ambruknya aset digital, aset aman (safe haven) justru menguat, dengan emas menyentuh angka US$ 4.679 per ons dan perak di level US$ 93,38.
Proyeksi Jangka Pendek
Hingga saat ini, volatilitas masih memegang kendali penuh atas pergerakan pasar. Likuidasi posisi leverage yang menumpuk telah mengubah aksi jual rutin menjadi kejatuhan pasar secara luas.
Para ahli berpendapat bahwa selama volume perdagangan belum stabil dan tingkat leverage belum mendingin, pasar kripto masih berisiko mengalami gejolak serupa di masa depan.
Bagi para trader, kondisi "whiplash" atau pembalikan harga yang tiba-tiba di akhir pekan menjadi pengingat penting akan besarnya risiko berinvestasi di aset digital saat likuiditas pasar sedang menipis.
DISCLAIMER: Investasi pada aset kripto memiliki risiko volatilitas yang sangat tinggi dan dapat menyebabkan kehilangan modal secara instan. Artikel ini merupakan ringkasan informasi pasar dan bukan merupakan saran keuangan atau ajakan investasi. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) sebelum mengambil keputusan finansial.
Berita Terkait
Terpopuler
- Apa Sunscreen Terbaik untuk Flek Hitam pada Usia 50 Tahun? Ini 5 Rekomendasi sesuai Review
- John Herdman Coret 27 Pemain Jelang Timnas Indonesia vs Kamboja di Piala AFF 2026
- 10 Simbol Feng Shui di Rumah Old Money yang Dipercaya Membawa Kemakmuran
- Jakarta Siap Pungut Pajak Mobil Listrik Tahun Ini, Kendaraan Mewah Kena hingga 75% PKB
- Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
Pilihan
-
Febrie Adriansyah Resmi Ditahan Kejagung, Teriak Kriminalisasi Saat Digiring ke Mobil Tahanan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
-
Saraf Terjepit, Hotman Paris Putuskan Mundur Jadi Kuasa Hukum Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
-
Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
Terkini
-
Istimewa! Eks Jampidsus Febrie Ditahan Tanpa Rompi Pink dan Tangan Tak Diborgol
-
Febrie Adriansyah Resmi Ditahan Kejagung, Teriak Kriminalisasi Saat Digiring ke Mobil Tahanan
-
Merawat Koperasi agar Berdaya Melampaui Dinamika Politik
-
55 Karya Desain Dunia dari SaloneSatellite Permanent Collection Dipamerkan di Indonesia
-
Ribuan Orang di Dunia Jadi Korban Phishing Kratos, Pengelola Dibekuk di Pontianak
-
Usia 35 Tahun Sudah Punya 5 SPBU, Herman Deru Ungkap Kebiasaan yang Mengubah Hidupnya
-
Terkuak! Pengemudi Alphard Arogan ke Satpam di Bundaran HI Ternyata Anggota Polda Jabar
-
Napi Kasus Narkoba Pekanbaru Kabur saat Berobat, Petugas Pengawal ke Mana?
-
Hinca Panjaitan Sebut Perkara Kredit Tak Layak Diproses sebagai Korupsi
-
Mahfud MD Bantah Kejagung soal Febrie: Tak Pernah Ada Pelimpahan Kasus Asabri dari Polisi