Uang Primer Agustus 2026 Tumbuh 16,3 Persen Jadi Rp2.281,5 Triliun

Rabu, 09 September 2026 | 09:27 WIB
Bank Indonesia, Jakarta. [Antara//M Risyal Hidayat/wsj]
  • Bank Indonesia mencatat Uang Primer Adjusted sebesar Rp2.281,5 triliun pada Agustus 2026 tumbuh 16,3 persen secara tahunan.
  • Pertumbuhan uang primer tersebut didorong oleh kenaikan giro bank umum di Bank Indonesia serta uang kartal yang diedarkan.
  • Ramdan Denny Prakoso menyatakan pertumbuhan tersebut telah memperhitungkan dampak pemberian insentif likuiditas dalam pengendalian moneter di Jakarta.

Suara.com - Bank Indonesia (BI) mencatat Uang Primer (M0) Adjusted pada Agustus 2026 tumbuh 16,3 persen secara tahunan (year on year/yoy). Pertumbuhan tersebut melanjutkan tren pada Juli 2026 yang mencapai 17,1 persen secara tahunan.

Secara nominal, Uang Primer (M0) Adjusted pada Agustus 2026 tercatat sebesar Rp2.281,5 triliun. 

Perkembangan tersebut dipengaruhi oleh pertumbuhan giro bank umum di Bank Indonesia yang telah disesuaikan (adjusted) sebesar 19,0 persen secara tahunan, serta uang kartal yang diedarkan yang tumbuh 12,9 persen secara tahunan.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, mengatakan, pertumbuhan Uang Primer (M0) Adjusted tersebut telah memperhitungkan dampak pemberian insentif likuiditas dalam pengendalian moneter.

“Pertumbuhan M0 Adjusted telah memperhitungkan dampak pemberian insentif likuiditas,” kata Ramdan Denny dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Kamis (9/9/2026).

Menurut Bank Indonesia, Uang Primer (M0) Adjusted merupakan indikator uang primer yang telah mengisolasi dampak penurunan giro bank di Bank Indonesia akibat pemberian insentif likuiditas.

Ilustrasi Rupiah. (Gambar oleh pixabay.com/iqbalstock)

Dengan penyesuaian tersebut, indikator M0 Adjusted dinilai dapat memberikan gambaran yang lebih akurat mengenai perkembangan likuiditas dalam perekonomian.

Bank Indonesia juga menyampaikan bahwa metode perhitungan M0 Adjusted telah disesuaikan sejak Januari 2025. 

Penyesuaian tersebut bertujuan memberikan gambaran yang lebih tepat mengenai perkembangan uang primer sekaligus mengukur dampak kebijakan likuiditas yang diterapkan bank sentral.

Dengan metode tersebut, perkembangan Uang Primer Adjusted menjadi salah satu indikator yang digunakan untuk melihat kondisi likuiditas dengan memperhitungkan dampak dari kebijakan insentif likuiditas Bank Indonesia.

Terkait
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com