- Pemerintah perlu percepat belanja negara jelang Ramadhan 2026 untuk memicu penyaluran kredit perbankan yang diprediksi melandai.
- Penyaluran kredit terancam moderat karena bank bersikap pruden, konsumen berhati-hati, serta IKK Desember 2025 sedikit menurun.
- Indef menyarankan intervensi fiskal melalui penyerapan anggaran dan dukungan UMKM guna perbaiki likuiditas pasar secara luas.
Suara.com - Menjelang momentum Ramadhan dan Idul Fitri 2026, pemerintah diharapkan mengambil langkah proaktif dalam mempercepat realisasi belanja negara.
Hal ini dinilai krusial untuk memicu penyaluran kredit perbankan yang diproyeksikan tidak akan sekuat periode musiman pada tahun-tahun sebelumnya.
M. Rizal Taufikurahman, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef), mengungkapkan bahwa meskipun perayaan hari besar keagamaan biasanya memacu konsumsi rumah tangga dan aktivitas bisnis, kondisi tahun ini memerlukan perhatian khusus.
Rizal menjelaskan bahwa meski penyaluran kredit pada kuartal I-2026 masih akan menunjukkan tren positif, kekuatannya diperkirakan melandai. Ada beberapa faktor yang membayangi moderasi pertumbuhan ini:
- Sikap Pruden Perbankan: Bank cenderung lebih selektif dan berhati-hati dalam memitigasi risiko kredit.
- Kehati-hatian Konsumen: Masyarakat dan pelaku usaha kini lebih cermat dalam menghitung kewajiban utang baru, mengingat kondisi ekonomi yang masih menantang.
- Penurunan Keyakinan Konsumen: Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) tercatat turun tipis menjadi 123,5 pada Desember 2025, yang mengindikasikan daya beli belum sepenuhnya pulih.
Untuk menjaga agar momentum pertumbuhan tidak hilang, Indef menyarankan pemerintah melakukan intervensi melalui kebijakan fiskal yang strategis.
Selain mempercepat penyerapan anggaran, pemerintah perlu memperkuat skema bantuan produktif serta dukungan bagi UMKM dan sektor yang menyerap banyak tenaga kerja.
Langkah ini diharapkan dapat memperbaiki likuiditas pasar dan meningkatkan prospek pendapatan masyarakat secara luas.
Rizal juga menekankan pentingnya sinergi antara kebijakan fiskal dan makroprudensial untuk menciptakan ruang pembiayaan yang lebih kondusif bagi sektor produktif.
Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), penyaluran kredit sepanjang tahun 2025 tumbuh sebesar 9,69% (yoy), masuk dalam target estimasi 8-11%. Pertumbuhan ini ditopang oleh:
Baca Juga: Libur Lebaran Anak Sekolah 2026 Mulai Kapan? Cek Perkiraan Lengkapnya
- Kredit Investasi: Melesat signifikan sebesar 21,06% (yoy).
- Kredit Konsumsi: Tumbuh moderat di angka 6,58% (yoy).
- Kredit Modal Kerja: Meningkat tipis sebesar 4,52% (yoy).
Menariknya, BI mencatat adanya potensi besar yang belum tergarap maksimal. Hingga Desember 2025, terdapat fasilitas pinjaman yang belum ditarik (undisbursed loan) mencapai Rp2,44 kuadriliun atau sekitar 22,12% dari total plafon kredit.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Pilihan HP Flagship Paling Murah, Spek Sultan Harga Teman
- 5 HP 5G Terbaru RAM 12 GB, Spek Kencang untuk Budget Rp3 Juta
- 5 Pilihan Sepatu Lari Hoka Murah di Sports Station, Harga Diskon 50 Persen
- 5 Parfum Aroma Segar Buat Pesepeda, Anti Bau Badan Meski Gowes Seharian
- 5 Sepeda Listrik Jarak Tempuh Terjauh, Tahan Air dan Aman Melintasi Gerimis
Pilihan
-
4 Pemain Anyar di Skuad Timnas Indonesia untuk TC Piala AFF 2026, 2 Statusnya Debutan!
-
Korban Kecelakaan KRL Vs KA Argo Bromo Bertambah, AHY: 15 Jiwa Meninggal dan 88 Orang Luka-Luka
-
'Kakak Saya Belum Bisa Dihubungi', Pilu Keluarga Cari Korban Kecelakaan KRL di Bekasi Lewat Medsos
-
Perjalanan Terakhir Nuryati, Korban Tragedi KRL Bekasi Timur yang Ingin Menengok Cucu
-
9 Fakta Kecelakaan Kereta di Stasiun Bekasi Timur, Gerbong Wanita Jadi Titik Terparah
Terkini
-
Pemerintah Bebaskan Bea Impor LPG & Bahan Baku Plastik, Cegah Kenaikan Harga Makanan-Minuman
-
IHSG Terus Terjun ke Zona Merah, Nyaris ke Level 6.900
-
TelkomGroup Dukung Menkomdigi, Ciptakan Ruang Digital Aman Bagi Anak Melalui PP Tunas
-
Telkom Luncurkan Agentic AI by BigBox, Lompatan Baru AI Otonom untuk Percepat Transformasi
-
ESDM Mulai Uji Coba B50 ke Kereta Api
-
Rencana 100 Gudang Pangan Disorot, Salah Lokasi Bisa Jadi Mubazir
-
Rupiah Loyo Lagi, Masih Betah di Level Rp 17.242/USD
-
YLKI Pertanyakan Infrastruktur dan Sistem Keselamatan PT KAI dalam Kecelakaan KRL di Bekasi
-
Santunan Korban Kecelakaan KRL dan KA Argo Bromo Anggrek Harus Dipercepat dan Dipermudah
-
Bos KAI Ternyata Sering Dipanggil Prabowo, Bahas Apa?