Bisnis / Keuangan
Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02 WIB
Perry Warjiyo mengundurkan diri sebagai Gubernur Bank Indonesia (BI) memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap stabilitas kebijakan moneter Indonesia. Foto ANTARA.
Baca 10 detik
  • Rupiah ditutup di Rp18.083 per dolar AS, terlemah di Asia.
  • Mundurnya Perry Warjiyo tekan kepercayaan pasar.
  • Ekspektasi The Fed hawkish bikin dolar makin perkasa.

Suara.com - Rupiah kembali mengalami tekanan hebat pada perdagangan Selasa (28/7/2026). Mata uang Garuda ditutup melemah ke level Rp18.083 per dolar Amerika Serikat (AS), sekaligus menjadi mata uang terlemah terdalam di kawasan Asia.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup turun 74 poin atau 0,41 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp18.009 per dolar AS. Pelemahan tersebut memperpanjang tren negatif rupiah yang masih dibayangi sentimen domestik dan penguatan dolar AS di pasar global.

Tekanan terhadap rupiah juga tercermin pada Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang melemah ke Rp18.088 per dolar AS, atau turun 0,52 persen dari posisi sebelumnya di Rp17.995 per dolar AS.

Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai pelemahan rupiah kali ini masih didominasi sentimen dari dalam negeri. Menurutnya, keputusan Perry Warjiyo mengundurkan diri sebagai Gubernur Bank Indonesia (BI) memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap stabilitas kebijakan moneter Indonesia.

"Rupiah ditutup melemah terhadap dolar AS di tengah sentimen negatif oleh pengunduran diri Warjiyo sebagai gubernur BI," ujar Lukman.

Selain faktor domestik, tekanan terhadap rupiah juga diperkuat oleh meningkatnya ekspektasi pasar bahwa bank sentral Amerika Serikat akan tetap mempertahankan kebijakan moneter yang ketat.

Menurut Lukman, investor kini menanti hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC) yang diperkirakan akan mengirimkan sinyal hawkish sehingga mendorong penguatan dolar AS.

"Rupiah masih tertekan karena tekanan dolar yang menguat oleh ekspektasi sikap hawkish The Fed dalam pertemuan FOMC besok," katanya.

Tak hanya rupiah, mayoritas mata uang Asia juga bergerak di zona merah. Namun, pelemahan rupiah menjadi yang paling tajam di kawasan.

Baca Juga: Siapa Burhanuddin Abdullah? Diisukan Jadi Calon Gubernur Bank Indonesia

Setelah rupiah yang terkoreksi 0,41 persen, pelemahan diikuti oleh dolar Taiwan yang turun 0,34 persen, dolar Singapura melemah 0,15 persen, ringgit Malaysia terkoreksi 0,08 persen, dan baht Thailand turun 0,07 persen.

Di sisi lain, won Korea Selatan justru menjadi mata uang dengan kinerja terbaik di Asia setelah menguat 0,31 persen terhadap dolar AS.

Kondisi ini menunjukkan tekanan terhadap rupiah bukan hanya berasal dari penguatan dolar global, tetapi juga dipengaruhi meningkatnya ketidakpastian domestik setelah mundurnya gubernur bank sentral. Pasar kini menunggu arah kebijakan pengganti Bank Indonesia serta hasil rapat FOMC yang akan menjadi penentu pergerakan nilai tukar dalam jangka pendek.

Load More