- Desa Potorono di Bantul berhasil bertransformasi dari area tambang pasir menjadi destinasi wisata melalui pengelolaan BUMDes sejak 2017.
- Bergabungnya Desa Potorono dalam program Desa BRILian sejak 2021 membantu pengembangan wahana wisata dan pemberdayaan bagi pelaku UMKM.
- Dukungan BRI meningkatkan omzet desa dari Rp100 juta menjadi Rp1,6 miliar serta mempermudah transaksi melalui teknologi QRIS digital.
Suara.com - Suara gemuruh air kini lebih sering terdengar daripada deru aktivitas tambang pasir di Desa Potorono, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Dulu, tempat ini menjadi lokasi warga untuk mencari pasir di Sungai Mrowe, tapi kini berubah menjadi wisata yang dipenuhi tawa pengunjung dan geliat usaha kecil masyarakat.
Perjalanan Potorono sebagai desa wisata bermula ketika dibentuknya Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Potorono pada Desember 2017. Saat itu, wahananya baru satu, yakni embung yang masih menjadi maskot utama.
Namun, seiring waktu, semangat dari warga untuk mengembangkan potensi desa terus tumbuh. Kawasan wisata terus ditata dan ditambah baik hingga akhirnya dilirik untuk menjadi Desa BRILian, program pemberdayaan unggulan dari Bank BRI, pada 2021.
"Itu di tahun 2021 kalau tidak salah. Saat itu kami baru punya telaga desa. Baru satu itu. Setelah itu, kami bersama pengurus semangat karena didampingi BRI menjadi Desa BRILian," kata Direktur BUMDes Potorono, Sutardi, kepada Suara.com.
"Setelah didampingi BRI masuk, alhamdulillah berkembang. Ada Taman Dinasaurus, tadi bisa melihat bagaimana BRI masuk di kami, membantu UMKM, memasang gapura, dan lain-lain. Sehingga usaha-usaha kami bertambah," lanjutnya.
"Setelah dinasaurus, kami mengembangkan susur sungai dengan kapal. Yang terbaru adalah umbul, kolam renang Itu pun BRI masih membantu kami dalam pendampingan, pemberian support," kata Sutardi.
Menurut pria bergelar magister ekonomi keuangan itu, pengalaman menjadi Desa BRILian benar-benar memberikan dampak positif. Ia menyatakan bahwa pihaknya terbuka apabila kembali diikutsertakan untuk tahun mendatang.
"Inilah dampak ikut Desa BRILian 2021. Kalau diikutkan lagi pada tahun 2026-2027 kami lebih siap, karena sekarang sudah lebih lengkap," imbuh alumni UIN Sunan Kalijaga itu.
Baca Juga: Nikmati Sensasi Kuliner Hemat di Penyetan Cok dengan Promo Spesial BRI
Omzet Melonjak, UMKM Tumbuh
Dampak pengembangan tersebut terlihat nyata dari sisi ekonomi. Pada awal mengikuti program pendampingan, omzet desa wisata masih tergolong terbatas, yakni Rp100 juta per tahun.
"Saat kami mengikuti Desa BRILian, saat didampingi kami punya satu embung. Omset kami baru Rp100 juta itu 2021. Setahun itu. Karena mungkin masih awal, masa-masa pandemi," ungkap Sutardi.
Namun dalam beberapa tahun, angka tersebut melonjak signifikan. Hal ini setelah adanya penambahan wahana wisata, mulai dari Umbul Potorono, Potorono Edu Park, Wahana Susur Sungai, hingga Ujawasa Ngelo.
"Ahamdulillah tahun 2025 kemarin kami tutup buku omset kami Rp1,6 miliar. Alhamdulillah ini perjuangan teman-teman semua," lanjut pria 43 tahun itu.
Pertumbuhan ini juga diikuti dengan berkembangnya pelaku usaha mikro di kawasan wisata. Ada hampir 75 UMKM yang menjadi salah satu penggerak utama ekonomi desa, di mana semuanya adalah warga setempat.
Berita Terkait
-
Nikmati Sensasi Kuliner Hemat di Penyetan Cok dengan Promo Spesial BRI
-
Panduan Lengkap Program Spesial BRI Multiguna untuk Karyawan
-
Ledakan Babak Kedua! Rahasia Bernardo Tavares Hancurkan PSBS Biak 4-0 Terungkap
-
Hasil BRI Super League: Persebaya Pesta Gol Sekaligus 'Antar' PSBS Biak Degradasi
-
RESMI! Klub Milik Prabowo Subianto Promosi ke Super League
Terpopuler
- Putusan MK soal Kuota Internet Hangus Ubah Peta Bisnis Operator, Pakar: Paket Data Bakal Berubah
- Melayat ke Yogya, Susi Pudjiastuti Kenang Sosok Nasirun
- Fortuna Sittard Ogah Jual Justin Hubner ke Klub Super League
- Kado Kemerdekaan: Pemutihan Pajak Kendaraan di Agustus 2026, Buruh dan Ojol Dapat Diskon Khusus
- Prabowo Singgung Nuklir Iran, Badan Atom Internasional Ungkap Faktanya
Pilihan
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
Terkini
-
Nadiem Makarim Tantang Audit BPKP di Sidang Banding, Minta Hakim Periksa Ulang Bukti
-
Prabowo dan PM Thailand Sepakati Kemitraan Strategis Baru, Fokus Pangan hingga Energi
-
Jangan Korbankan Nyawa Demi Target! BGN Didesak Usut Tuntas Keracunan Massal MBG di Semarang
-
Trauma Kolektif: Pagar Tinggi Mal Ingatkan Warga pada Kerusuhan Agustus
-
Kasus Bayi Dijual Rp20 Juta Belum Tuntas, Polisi Didesak Usut Sosok Pemberi Uang
-
Dipukul Balok Kayu, Wanita di Palembang Gagalkan Aksi Begal hingga Pelaku Ditangkap
-
Dua Kata Tijjani Reijnders Usai Timnas Indonesia Dibantai Vietnam 0-3
-
Ingin Rumah Terasa Lebih Elegan? Tren Interior Kini Mengandalkan Permainan Cahaya dari Keramik
-
Haykal Ungkap Hal yang Bikin Tak Nyaman di Palembang, Pengemis hingga Sungai Jadi Sorotan
-
Kreativitas Generasi Muda Indonesia Berbuah Manis, Ribuan Pelajar Sukses Bangun Bisnis