Bisnis / Keuangan
Minggu, 28 Juni 2026 | 08:25 WIB
Ilustrasi pishing. (Pexels/Absalom Robinson)
Baca 10 detik
  • Minat terhadap kripto meningkat, diiringi maraknya penipuan phishing dan CS palsu yang menargetkan pengguna.
  • Pelaku lebih sering memanfaatkan kelengahan korban daripada membobol sistem keamanan platform.
  • Laporan Hacken mencatat 63% kerugian keamanan Web3 Q1 2026 berasal dari phishing dan social engineering.

Suara.com - Meningkatnya minat masyarakat terhadap aset kripto turut diiringi dengan meningkatnya ancaman kejahatan siber yang menyasar para pengguna.

Salah satu modus yang paling sering digunakan pelaku adalah phishing dan penyamaran sebagai layanan pelanggan atau customer service (CS) palsu dari platform kripto.

Modus ini tidak lagi berfokus pada upaya membobol sistem teknologi, melainkan memanfaatkan kelengahan pengguna untuk memperoleh akses ke akun maupun aset digital mereka.

Karena itu, kesadaran dan kewaspadaan pengguna menjadi faktor penting dalam mencegah terjadinya penipuan.

Berdasarkan laporan keamanan Web3 dari Hacken, lebih dari 63 persen total kerugian akibat insiden keamanan pada kuartal pertama 2026 berasal dari serangan phishing dan social engineering.

Dari total kerugian sekitar USD482 juta sepanjang Januari hingga Maret 2026, sekitar USD306 juta di antaranya dipicu oleh dua modus tersebut.

Data tersebut menunjukkan bahwa pelaku kejahatan siber kini lebih banyak mengeksploitasi sisi manusia dibandingkan mencoba menembus sistem keamanan platform.

Ilustrasi serangan siber. [Pixabay]

Mereka kerap memanfaatkan tautan palsu, akun media sosial tiruan, hingga mengaku sebagai CS resmi untuk mengelabui calon korban.

Agar tidak menjadi korban berikutnya, pengguna perlu memahami berbagai modus penipuan yang sering digunakan pelaku serta cara mengenalinya sejak dini.

Baca Juga: Bitcoin dkk Diramal Bisa Jadi Sistem Finansial Alternatif RI Dalam Waktu 3 Tahun

Berikut penjelasan mengenai modus phishing dan CS palsu pada platform kripto beserta langkah-langkah untuk menghindarinya.

Chief Marketing Officer INDODAX, Aloysia Dian, mengatakan perubahan pola serangan tercermin dari semakin maraknya modus penipuan yang mengatasnamakan Customer Support (CS) INDODAX.

Menurutnya, pelaku memanfaatkan kepercayaan pengguna untuk memperoleh password, PIN, kode OTP, maupun informasi sensitif lainnya.

"Saat ini pelaku kejahatan siber tidak lagi hanya mencari celah pada sistem, tetapi juga mencari celah pada manusia. Modus CS palsu merupakan salah satu bentuk social engineering yang memanfaatkan rasa panik dan kepercayaan pengguna agar secara sukarela memberikan akses ke akun mereka," ujar Aloysia pada Sabtu, 27 Juni 2026.

Aloysia menambahkan bahwa perkembangan Artificial Intelligence (AI) membuat modus CS phishing semakin sulit dikenali.

Ilustrasi kripto (unsplash)

Pelaku kini mampu menghasilkan email, pesan instan, hingga komunikasi yang tampak profesional melalui teknologi seperti AI generatif, sehingga korban semakin sulit membedakan mana komunikasi resmi dan mana yang merupakan penipuan.

Load More