Bisnis / Keuangan
Rabu, 01 Juli 2026 | 11:05 WIB
Ilustrasi aset kripto (unsplash)
Baca 10 detik
  • Pelaku kejahatan siber kini lebih sering menyasar manusia melalui phishing, social engineering, deepfake, dan voice cloning dibanding membobol sistem.
  • Laporan NordStellar mencatat pembahasan layanan Deepfake-as-a-Service di dark web meningkat 39% sepanjang Januari–Mei 2026.
  • Oleh karena itu, penting meningkatkan kesadaran pengguna karena teknologi AI membuat penipuan digital semakin meyakinkan.

Suara.com - Perkembangan teknologi telah mendorong sistem keamanan digital menjadi semakin canggih dalam melindungi data dan aset kripto pengguna.

Namun, di saat yang sama, pelaku kejahatan siber juga terus mengubah strategi dengan menyasar manusia sebagai titik terlemah dibandingkan mencoba menembus sistem teknologi.

Berbagai modus seperti social engineering, phishing, hingga penyalahgunaan teknologi artificial intelligence (AI) kini semakin sering digunakan untuk melancarkan aksi penipuan.

Teknologi seperti deepfake dan voice cloning bahkan membuat pelaku mampu memanipulasi identitas seseorang sehingga korban lebih mudah percaya dan memberikan akses terhadap data maupun aset yang dimiliki.

Ancaman tersebut juga tercermin dalam laporan NordStellar yang mencatat pembahasan mengenai layanan Deepfake-as-a-Service (DFaaS) di forum-forum dark web meningkat sekitar 39 persen sepanjang Januari hingga Mei 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Temuan ini menunjukkan bahwa teknologi deepfake semakin mudah diakses dan berpotensi dimanfaatkan untuk menjalankan berbagai modus penipuan berbasis identitas.

Ilustrasi kripto [Unsplash/Maria]

Di sisi lain, perkembangan teknologi AI voice cloning kini memungkinkan tiruan suara yang sangat menyerupai pemilik aslinya hanya dengan sampel audio berdurasi sekitar 10 detik, sehingga membuat berbagai modus penipuan digital semakin sulit dikenali masyarakat, termasuk orang terdekat yang menjadi korban voice cloning.

Pandangan tersebut disampaikan Chief Information Security Officer (CISO) INDODAX, Ledy, dalam sesi diskusi "Beyond Code: The Human Side of Crypto Security" yang diselenggarakan INDODAX bersama blockchain developer, komunitas kripto, dan pelaku industri.

Mengusung tema "Security Starts With You", forum ini membahas bagaimana faktor manusia menjadi salah satu titik paling krusial dalam menjaga keamanan aset digital dan kripto.

Baca Juga: Kolaborasi Lintas Sektor Perkuat Literasi Keamanan Siber di Tengah Maraknya Penipuan Digital

Ledy menjelaskan bahwa perkembangan teknologi keamanan telah mengubah pola ancaman di ekosistem aset kripto.

Jika sebelumnya pelaku lebih banyak berupaya mengeksploitasi kelemahan sistem, kini berbagai insiden terjadi justru karena pelaku menyasar aspek psikologis pengguna yang dirancang untuk memengaruhi cara seseorang mengambil keputusan.

"Banyak orang masih menganggap ancaman terbesar berasal dari peretasan sistem pada exchange. Padahal, dalam beberapa kasus yang terjadi belakangan, pelaku justru memperoleh akses karena korban secara tidak sadar memberikan informasi penting atau mengklik tautan berbahaya yang menyerupai layanan resmi," ujar Ledy pada Jumat, 26 Juni 2026.

Ia menjelaskan bahwa perkembangan AI membuat berbagai modus penipuan tampil semakin meyakinkan.

Selain deepfake dan voice cloning, pelaku kini juga memanfaatkan iklan palsu di media sosial seperti Facebook, manipulasi hasil pencarian (AI search engine repositioning), hingga penyamaran sebagai Customer Support (CS) resmi melalui aplikasi pesan instan seperti WhatsApp.

“Di INDODAX sendiri kami tidak memiliki nomor WhatsApp Customer Support resmi. Seluruh layanan hanya dapat diakses melalui nomor telepon, email, maupun kanal resmi perusahaan.

Load More