Bisnis / Makro
Rabu, 01 Juli 2026 | 14:11 WIB
Ilustrasi Sisi Gelap dan Terang Ekonomi Piala Dunia 2026: Siapa yang Paling Untung? [SUARA.COM/Syahda]
Baca 10 detik
  • FIFA memproyeksikan pendapatan US$8,9 miliar dari Piala Dunia 2026 dengan membebankan biaya operasional kota kepada pihak tuan rumah.
  • Piala Dunia 2026 memicu rekor perjudian global senilai US$50 miliar yang berdampak buruk pada kondisi ekonomi masyarakat kelas bawah.
  • Momentum Piala Dunia meningkatkan lonjakan kasus judi online di Indonesia yang berakibat pada peningkatan angka perceraian serta kriminalitas.

Suara.com - Pada 8 Juni 2024, dua tahun sebelum bola pertama Piala Dunia 2026 bergulir, seorang polisi wanita di Mojokerto membakar suaminya sendiri hingga tewas.

Motifnya bukan perselingkuhan atau cemburu, melainkan gaji ke-13 keluarga sebesar Rp2,8 juta yang ludes untuk judi. Peristiwa ini adalah gambaran mikro dari sebuah persoalan makro yang justru memuncak ketika dunia larut dalam pesta sepak bola.

Sebab ketika turnamen ke-23 ini dibuka pada 11 Juni 2026 di tiga negara—Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko—yang bergulir bukan sekadar pertandingan. Yang bergulir adalah tiga arus ekstraksi ekonomi yang mengalir ke arah yang sama: menjauh dari mereka yang paling rentan.

Untuk memahami mengapa turnamen ini berbeda, kita perlu menelusuri ke mana persisnya uang itu mengalir.

Pemain Timnas Turki, Kenan Yildiz terkapar setelah kalah dari Paraguay pada pertandingan kedua Grup D Piala Dunia 2026 (dok. FIFA)

FIFA menang, fans dan kota tuan rumah membayar

Untuk pertama kalinya dalam sejarahnya, FIFA menjalankan turnamen ini sendiri—berhadapan langsung dengan kota tuan rumah, bukan lewat federasi nasional seperti pada edisi-edisi sebelumnya.

Konsekuensinya sederhana namun menentukan: FIFA menguasai hampir seluruh pendapatan, mulai dari hak siar, sponsorship, tiket, hingga hospitality dan merchandise, sementara kota-kota menanggung biaya keamanan, transportasi, dan retrofit stadion. Model ini menyerupai waralaba, di mana pihak yang membayar untuk menjalankan bisnis bukanlah pihak yang menyimpan keuntungannya.

Hasilnya rekor. FIFA memproyeksikan pendapatan siklus komersial 2023–2026 menembus US$13 miliar, naik sekitar 72 persen dibanding siklus Qatar 2022, dengan sekitar US$8,9 miliar mengalir langsung dari Piala Dunia 2026.

Total hadiah untuk 48 tim mencapai US$871 juta—hampir dua kali lipat US$440 juta pada 2022—dengan setiap tim yang lolos dijamin minimal US$12,5 juta bahkan jika tersingkir di fase grup.

Baca Juga: Jeremy Doku Kembali! Skuad Belgia Lengkap Hadapi Senegal di 32 Besar Piala Dunia 2026

Gianni Infantino, Presiden FIFA yang saat berkampanye pada 2016 berjanji melipatgandakan pendapatan organisasi, menyebut turnamen yang membengkak menjadi 104 pertandingan ini setara "104 Super Bowl."

Mesin uang baru itu bernama dynamic pricing. Untuk pertama kalinya di Piala Dunia, FIFA menerapkan harga tiket algoritmik yang bergerak mengikuti permintaan—lazim di liga olahraga Amerika dan industri penerbangan, tetapi belum pernah dipakai di panggung sepak bola global. Hal ini bikin harga meledak.

Di pasar penjualan ulang resmi FIFA, tiket final di MetLife Stadium sempat dilisting hingga jutaan dolar. Fortune melaporkan sebagian tiket naik tiga hingga empat kali lipat, sementara FIFA menarik komisi 15 persen dari penjual sekaligus pembeli di setiap transaksi—mengubah pasar sekunder yang biasanya menjadi ranah calo menjadi sumber pendapatan tambahan bagi FIFA sendiri.

Victor Matheson, ekonom olahraga dari College of the Holy Cross yang mempelajari mega-event selama hampir tiga dekade, menjelaskan logika di baliknya: tidak seperti klub lokal yang butuh fansnya kembali musim depan, FIFA tak punya "bisnis berulang" yang perlu dijaga.

Ia menyebut FIFA bisa saja "memeras seluruh uang yang bisa diperas" karena baru akan kembali ke Amerika 30 atau 40 tahun lagi.

Pnina Feldman dari Darden School, University of Virginia, menilai eksperimen ini sukses dari sisi pendapatan, tetapi dari sisi kehadiran, kepercayaan publik, dan akses fans, hasilnya jauh lebih campur aduk.

Bebannya jatuh ke kota. Kesenjangan itu paling kentara pada transportasi. Di New Jersey, tarif kereta pulang-pergi ke stadion sempat dipatok US$150—dari tarif normal sekitar US$13—sebelum diturunkan menjadi US$98 setelah protes.

Dilansir dari Britannica, Gubernur New Jersey Mikie Sherrill menggambarkan situasinya dengan getir: pihaknya mewarisi kesepakatan di mana FIFA menyumbang nol dolar untuk transportasi, sementara NJ Transit terjebak tagihan puluhan juta dolar dan FIFA meraup miliaran.

Ini kontras tajam dengan tradisi turnamen sebelumnya—di Qatar 2022, Jerman 2006, dan Jepang 2002, pemegang tiket menikmati transportasi gratis; di Jepang, warga lokal bahkan berjejer menyambut fans dari stasiun kereta cepat.

Praktik tiket yang dinilai eksploitatif ini akhirnya memantik investigasi dari Jaksa Agung New York dan New Jersey.

FIFA sendiri, lewat studi yang dikomisikannya bersama WTO, mengklaim turnamen ini menyumbang hingga US$40,9 miliar bagi PDB global dan menciptakan ratusan ribu lapangan kerja. Namun angka promosi semacam ini perlu dibaca kritis.

Matheson, dalam laporannya yang dikutip dari BBC, mengingatkan estimasi pra-acara kerap lebih menyerupai materi pemasaran ketimbang analisis ekonomi yang ketat, karena mengabaikan efek substitusi—uang yang dibelanjakan untuk tiket Piala Dunia hanyalah uang yang tak jadi dibelanjakan di restoran, museum, atau pertandingan lokal lain—dan efek crowding out, ketika turis reguler tergusur oleh acara.

Sinyalnya sudah muncul: survei asosiasi hotel Amerika menemukan 80 persen hotel di kota tuan rumah melaporkan reservasi di bawah proyeksi awal, sebagian menyebut hambatan visa dan ketegangan geopolitik sebagai pemberatnya.

Para penggemar Inggris diminta untuk meninggalkan Londoner Pub oleh Kepolisian Dallas. [James Manning/PA Wire]

Ajang taruhan terbesar sepanjang sejarah

Di luar stadion, arus uang kedua mengalir lebih deras lagi. Bank investasi Macquarie memproyeksikan nilai taruhan global pada Piala Dunia 2026 menembus US$50 miliar—setara sekitar Rp885 triliun pada kurs Rp17.700—atau sekitar US$500 juta per pertandingan.

Angka itu melonjak sekitar 43 persen dari estimasi US$35 miliar pada 2022. Pendorongnya, menurut analis Macquarie Chad Beynon, adalah ekspansi peserta dari 32 ke 48 tim yang menambah jumlah laga secara drastis, zona waktu tuan rumah yang menguntungkan pemirsa Eropa dan Amerika Latin, serta meluasnya akses taruhan legal di Amerika.

Perlu dicatat, US$50 miliar adalah proyeksi, bukan angka terealisasi—dan belum mencakup pasar prediksi seperti Kalshi atau Polymarket maupun taruhan lepas pantai.

Menariknya, Macquarie menaksir Amerika Serikat hanya menyumbang sekitar 5 persen dari volume taruhan global; sebagian besar justru datang dari luar negeri.

Namun besarannya cukup untuk menjadikan turnamen ini, dalam istilah Macquarie, ajang perjudian terbesar sepanjang sejarah.

Di balik angka fantastis itu ada aritmetika yang muram. Les Bernal, direktur nasional Stop Predatory Gambling, memperingatkan bahwa 99 dari 100 petaruh olahraga merugi dalam jangka panjang.

Ia menyebut model bisnis operator judi komersial "sepenuhnya bertumpu pada orang-orang yang telah diubah menjadi pecandu"—sebuah kecanduan yang, menurutnya, mendorong korban ke bunuh diri pada tingkat yang tak tertandingi masalah lain.

Data industri menguatkan sifat ekstraktif ini: riset National Centre for Social Research di Inggris menemukan 79 persen pendapatan industri judi berasal dari 10 persen pembelanja terbesar. Dengan kata lain, industri ini tidak hidup dari petaruh kasual, melainkan dari segelintir orang yang paling dalam terjerat.

Peringatan Bernal bukan retorika. Meta-analisis Armoon, Griffiths, dan kolega (2023) di Journal of Gambling Studies terhadap 39 studi menemukan prevalensi seumur hidup ide bunuh diri mencapai 31 persen pada penderita gangguan judi, dengan 16 persen pernah melakukan percobaan bunuh diri—angka yang berlipat-lipat di atas populasi umum.

ARSIP-Personel kepolisian menggiring sejumlah tersangka kasus perjudian daring di Perkantoran Hayam Wuruk Plaza Tower, Jakarta, Minggu (10/5/2026). [ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/nz]

Ketika euforia bola menjadi pintu masuk judol di Indonesia

Di Indonesia, tempat sepak bola dipuja dan judi dilarang, kaitan turnamen dengan perjudian bukan spekulasi.

Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mencatat lonjakan tajam begitu turnamen dimulai: sepanjang 1–28 Juni 2026, sebanyak 126.180 konten judi online yang memanfaatkan momentum Piala Dunia ditangani, sementara spam promosi judol di media sosial melonjak sekitar 128 persen dalam dua pekan pertama.

Apakah hal ini berkorelasi langsung dengan bergulirnya turnamen pada 11 Juni? Bisa jadi.

PPATK memperkuat pola itu. Kepala PPATK Ivan Yustiavandana menyebut deposit judol cenderung meningkat di akhir pekan dan melonjak saat ada kompetisi sepak bola besar seperti Piala Dunia, dengan nilai transaksi taruhan bola yang umumnya lebih besar ketimbang kasino daring.

Sosiolog Universitas Negeri Jakarta Rakhmat Hidayat menjelaskan mekanismenya: euforia bola menciptakan semacam pembuktian sosial palsu lewat konten kemenangan dan testimoni jackpot, sehingga olahraga berubah menjadi platform interaktif dengan judi menempel sebagai lapisan tambahan.

Namun turnamen hanyalah pemantik di atas bara yang sudah menyala. Sepanjang 2025, PPATK mencatat perputaran dana judi online di Indonesia mencapai Rp286,84 triliun dalam 422,1 juta transaksi, melibatkan sekitar 12,3 juta pemain—sekitar empat dari setiap seratus penduduk Indonesia.

Yang mengkhawatirkan adalah profil pemainnya: sekitar 71 persen berpenghasilan di bawah Rp5 juta per bulan, dan banyak di antaranya memiliki utang di luar sistem perbankan formal. Komdigi bahkan mengungkap sekitar 80 ribu anak di bawah usia 10 tahun ikut terpapar.

Ekonom CORE Yusuf Rendy Manilet menempatkannya secara proporsional—Piala Dunia lebih tepat dipandang sebagai faktor pemicu daripada penyebab utama, karena permintaan judol sudah berlangsung sepanjang tahun dan turnamen hanya menaikkan intensitasnya dalam periode singkat.

Pemerintah bukannya diam. Sepanjang Oktober 2024 hingga Mei 2026, Komdigi memblokir lebih dari 3,4 juta situs judi online dan mengajukan pemblokiran puluhan ribu rekening bank terkait.

Secara hukum, judi online dijerat Pasal 27 ayat (2) juncto Pasal 45 UU ITE dengan ancaman hingga enam tahun penjara dan denda Rp1 miliar, di samping ketentuan KUHP.

Menkomdigi Meutya Hafid menegaskan judi online adalah "scam yang sistemnya memastikan pemain hampir selalu rugi dan kalah dalam jangka panjang." Presiden Prabowo Subianto, dalam forum APEC di Gyeongju pada November 2025, menyebut Indonesia kehilangan sekitar US$8 miliar per tahun—setara sekitar Rp134 triliun—akibat aliran dana keluar dari judol, sebagian besar mengalir ke jaringan yang beroperasi dari luar negeri.

Ongkos yang paling mahal justru tak selalu terukur dalam rupiah. Departemen Psikiatri FKUI-RSCM mencatat 172 pasien menjalani pengobatan akibat kecanduan judol sepanjang Januari–Oktober 2024, dengan angka rawat inap yang naik tiga kali lipat dibanding tahun sebelumnya.

Mayoritas pasien adalah laki-laki usia produktif, sebagian bahkan masih remaja. Kepala departemen, dr. Kristiana Siste, Sp.KJ, menuturkan kasus terberat mengalami depresi berat karena tak mampu keluar dari lingkaran setan judi, hingga memunculkan ide untuk mengakhiri hidup.

Kementerian Kesehatan menyiapkan 34 rumah sakit jiwa sebagai rujukan, meski baru sekitar 40 persen dari lebih dari sepuluh ribu puskesmas yang menyediakan layanan kesehatan jiwa.

Kehancuran itu merembes ke ruang keluarga. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan kasus perceraian yang menyebut judi sebagai penyebab melonjak dari 2.889 pada 2024 menjadi 4.623 pada 2025—rekor tertinggi—dengan Jawa Timur di posisi teratas, disusul Jawa Barat.

Mahkamah Agung bahkan menerbitkan surat edaran yang mewajibkan pengadilan agama melaporkan data perceraian akibat judi online, sebuah pengakuan institusional bahwa persoalan ini telah menjadi wabah sosial.

Di balik setiap angka statistik itu ada kisah seperti polwan Mojokerto—atau lebih tragis lagi, kasus di Ciputat pada penghujung 2024, ketika seorang ayah menghabisi nyawa istri dan anak balitanya sebelum bunuh diri, dengan forensik digital menemukan jejak akses ke belasan aplikasi pinjaman online dan sejumlah situs judi.

Infografis Piala Dunia, ekonomi dan dampaknya terhadap masyarakat [Suara.com/Syahda]

Satu benang merah: ekonomi yang mengekstraksi

Arus ini—model bisnis FIFA, ledakan judi, dan bunuh diri—pada dasarnya menganut logika yang sama: mengekstraksi nilai dari pihak yang paling sedikit mampu menanggungnya.

FIFA menyedot dari fans dan kota tuan rumah, mengunci pendapatan sambil melempar biaya. Industri judi menyedot dari kelompok berpenghasilan rendah dan segelintir pecandu yang menopang sebagian besar keuntungannya. 

Mekanismenya sama, keuntungan mengalir ke atas dan terpusat, sementara biaya menyebar ke bawah dan terserap oleh mereka yang paling tak berdaya menolaknya.

Sepak bola, kata mendiang manajer legendaris Skotlandia Jock Stein, "bukan apa-apa tanpa fans." Pada Piala Dunia 2026, fans—dan mereka yang tergoda taruhannya di rumah—justru menjadi pihak yang diperas paling keras.

Pertanyaan yang tersisa tidak hanya masalah, siapa yang akan mengangkat trofi pada 19 Juli, melainkan berapa banyak yang harus dibayar oleh mereka yang tak pernah menginjak stadion.

Infografis Piala Dunia, ekonomi dan dampaknya terhadap masyarakat [Suara.com/Syahda]


Artikel ini menyentuh isu bunuh diri dan kecanduan. Bila Anda atau orang terdekat menghadapi tekanan akibat judi online, layanan kesehatan jiwa tersedia di puskesmas dan rumah sakit jiwa rujukan seperti RSJ dr. Marzoeki Mahdi (Bogor), RSCM (Jakarta), dan RSJ Menur (Surabaya). Kementerian Kesehatan juga menyediakan layanan konsultasi kesehatan jiwa melalui hotline SEJIWA di 119 ext. 8.

Load More