- PT Pertamina Patra Niaga resmi memangkas harga avtur di seluruh bandara domestik sebesar 13% hingga 14% mulai Juli 2026.
- Penyesuaian harga avtur dilakukan Pertamina berdasarkan pergerakan harga minyak mentah global serta koordinasi bersama pemerintah yang berlaku efektif.
- Penurunan harga avtur belum berdampak langsung pada tarif tiket pesawat karena adanya jeda waktu penyesuaian biaya operasional maskapai.
Suara.com - Memasuki periode Juli 2026, PT Pertamina (Persero) melalui Pertamina Patra Niaga resmi memangkas harga bahan bakar pesawat (avtur) di seluruh bandara domestik. Penurunan tarif jet fuel ini tercatat mencapai kisaran 13% hingga 14% dibandingkan dengan bulan sebelumnya.
Merujuk data resmi Pertamina per Rabu (1/7/2026), kebijakan penurunan ini berlaku merata, baik untuk rute penerbangan dalam negeri maupun perjalanan internasional.
Sebagai contoh, di Bandara Internasional Soekarno-Hatta (CGK), harga avtur domestik menyusut dari Rp 24.697,47 per liter menjadi Rp 21.369,60 per liter.
Sementara itu, untuk pengisian avtur penerbangan internasional di bandara yang sama, tarifnya turun dari UScent 141,7 per liter menjadi UScent 121,5 per liter.
Vice President Corporate Communication PT Pertamina Patra Niaga, Kitty Andhora, menjelaskan bahwa langkah koreksi harga ini diambil dengan mempertimbangkan pergerakan harga minyak mentah global serta regulasi yang berlaku.
"Tentunya, langkah penyesuaian ini telah dikoordinasikan dengan pemerintah," ungkap Kitty pada Rabu (1/7/2026), dilansir dari Antara.
Mengapa Tarif Tiket Pesawat Belum Otomatis Turun?
Meski beban operasional maskapai dari sektor bahan bakar mereda, masyarakat tampaknya masih harus bersabar. Penurunan harga avtur tidak serta-merta langsung memicu penurunan harga tiket pesawat di agen perjalanan.
Ada beberapa alasan mendasar mengapa tarif penerbangan terkesan "lambat" merespons penurunan harga bahan bakar:
Baca Juga: Pembebasan PPN Tiket Pesawat Domestik Dinilai Tingkatkan Mobilitas dan Perkuat Perekonomian Nasional
Sistem Penjualan Tiket Advance: Mayoritas tiket penerbangan yang terjual saat ini sudah dipesan oleh konsumen sejak jauh hari. Struktur modal dan kalkulasi operasional yang digunakan maskapai masih mengacu pada biaya avtur yang tinggi pada bulan-bulan sebelumnya.
Efek Jeda Waktu (Time Lag): Berdasarkan analisis dari McKinsey & Company, penyesuaian tarif penerbangan akibat fluktuasi harga bahan bakar biasanya membutuhkan waktu sekitar tiga hingga empat bulan sebelum efeknya benar-benar terasa di pasar.
Strategi Efisiensi Internal: Sebelum harga bahan bakar turun, maskapai biasanya sudah melakukan berbagai penghematan, seperti memaksimalkan keterisian kursi (load factor) dan mengandalkan armada yang hemat energi. Ketika avtur turun, ruang ini digunakan terlebih dahulu untuk menstabilkan neraca keuangan perusahaan.
Rumitnya Rantai Pasok dan Porsi Avtur pada Tiket
Studi dari McKinsey & Company menunjukkan bahwa komponen bahan bakar berkontribusi sekitar 30% dari total formula pembentukan harga tiket pesawat.
Namun, harga avtur memiliki dinamika tersendiri yang jauh lebih rumit daripada sekadar mengikuti pergerakan harga minyak mentah.
Stabilitas harga avtur sangat bergantung pada kapasitas kilang pengolahan, efisiensi jalur distribusi, hingga faktor geopolitik global—seperti ketegangan di Selat Hormuz yang kerap mengganggu lalu lintas kapal tanker energi dunia.
Kompleksitas inilah yang memicu fenomena psikologis di masyarakat; harga tiket pesawat dirasa sangat sensitif dan cepat meroket saat isu minyak dunia memanas, tetapi cenderung membutuhkan waktu lama untuk melandai kembali ketika harga komoditas tersebut mulai mendingin.
Berita Terkait
-
Minyak Dunia Sudah Murah, Kenapa Harga Pertamax Masih Rp16 Ribu?
-
Kompak Turun: Ini Harga BBM di Pertamina hingga Shell
-
Ada yang Turun, Ini Update Harga Terbaru BBM per 1 Juli 2026
-
Rincian Perubahan Harga BBM Pertamina Per Hari Ini
-
Harga BBM Turun per 1 Juli 2026: Pertamax Turbo dan Pertamina Dex Lebih Murah
Terpopuler
- Link Download Logo dan Tema HUT Bhayangkara ke-80 2026 untuk Ulang Tahun Polri
- 4 Sepatu Lari Skechers yang Diskon sampai 50 Persen di Sport Station, Mulai Rp500 Ribuan
- Sunscreen Apa yang Bikin Glowing? Ini 7 Pilihan Terbaik sesuai Review dan Harga
- 6 Sunscreen di Alfamart untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas sesuai Review
- 5 Sepeda Gunung MTB Polygon Termurah, Tangguh dan Awet Untuk Harian
Pilihan
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Prabowo ke Polisi: Gaji dan Senjata Kalian dari Rakyat, Jadi Jangan Menyusahkan Rakyat
-
Prabowo: Hukum Tak Boleh Dipakai untuk Balas Dendam Politik
-
Kompak Turun: Ini Harga BBM di Pertamina hingga Shell
Terkini
-
B50 Resmi Berlaku, INDEF Beberkan Ancaman Kenaikan Harga Minyak Goreng
-
BI Rate Naik, Kemenperin Sebut Kepercayaan Industri Melambat
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
BPKH Pangkas Anggaran Operasional Rp100,31 Miliar
-
Neraca Perdagangan RI Tekor Pada Mei, Penyebabnya Impor Migas
-
Peringatan dari Bappenas: SDM RI Kalah Jauh dari Tetangga, Kelas Menengah Banyak Turun Kasta
-
4 Marketplace Bakal Potong Pajak PPh Penjual Online Mulai 1 Agustus, Ini Daftarnya
-
Pemerintah Didesak Rombak Kebijakan Ekonomi RI Berbasis Manusia
-
Penjual Marketplace Kena PPh Mulai 1 Agustus 2026, Ini Kelompok Seller yang Bebas Pajak
-
MMA Marketing Talk 2026 Siap Tetapkan Arah Industri Pemasaran dan Periklanan Indonesia