Bisnis / Keuangan
Kamis, 02 Juli 2026 | 08:05 WIB
Ilustrasi kripto [Unsplash/Maria]
Baca 10 detik
  • Peretasan aset kripto sepanjang semester I 2026 menyebabkan kerugian sekitar USD947 juta dari 127 insiden.
  • Serangan siber kini semakin kompleks, menyasar infrastruktur blockchain dan memanfaatkan social engineering.
  • Teknologi AI mulai dipandang sebagai solusi untuk memperkuat keamanan ekosistem blockchain.

"AI bertindak sebagai resource multiplier yang mempercepat deteksi teknis. Namun, keamanan blockchain tetaplah ekosistem dengan perlindungan berlapis," tambah William.

"Fondasinya terletak pada tata kelola yang teregulasi, audit independen, manajemen akses yang ketat, peningkatan kesadaran di tingkat pengguna, termasuk KYC dan security hygiene, serta sumber daya manusia yang kompeten dalam mengambil keputusan yang tepat. Karena, teknologi secanggih apa pun tetap membutuhkan kompetensi, integritas, dan human judgement di belakangnya," lanjutnya lagi.

Menurut William, nilai tambah AI saat ini tidak hanya terletak pada kemampuannya mempercepat proses analisis, tetapi juga pada kemampuannya melakukan pemantauan risiko secara berkelanjutan.

Pendekatan ini memungkinkan pelaku industri mendeteksi potensi ancaman lebih dini sekaligus mempercepat proses mitigasi sebelum berkembang menjadi insiden yang lebih besar.

"Ke depan, ukuran keamanan blockchain tidak lagi hanya ditentukan oleh seberapa sering sebuah sistem diaudit, tetapi juga oleh seberapa cepat sistem tersebut mampu mendeteksi, menganalisis, dan merespons ancaman yang terus berkembang. Di sinilah AI mulai mengambil peran yang semakin penting sebagai pendukung sistem keamanan yang lebih adaptif," tutupnya.

Load More